September 23, 2011

#4 Self Note: Allahu Rahim

Hidup itu laksana kelas – disana kau akan belajar banyak hal tentang bertahan dan tentang pencarian – baik pencarian terhadap diri sendiri, kebahagiaan, impian, kebaikan, dan ridho Tuhan. Setiap hari ada kelas baru, yang levelnya dan mata ajarnya berganti-ganti menyesuaikan dengan taraf iman dan kemampuan – tak sembarang pula yang bisa lulus, harus benar-benar isitiqomah dan paham juga rela. Mungkin suatu hari kau harus belajar sabar, lalu ikhlas, juga syukur, dan demikian seterusnya tanpa henti dan lelah.

Tak jarang kelas-kelas itu membuatmu marah, bersedih, gundah, lalu mempertanyakan kenapa dan bagaimana. Tapi tak apa, perasaan itu manusiawi – kau begitu karena kau manusia. Dan sebagai manusia dewasa, kau pasti bisa memulihkan perasaan-perasaan negatifmu sendiri hingga kau sadar bahwa kau tak sendiri, selalu ada Tuhan yang tak kemana-mana, sangat dekat bahkan dari urat lehermu sendiri namun sering tak disadari.

Percayalah, bahwa Allah akan mengangkat sedihmu perlahan-lahan.

Karena salah satu hal yang bisa membuat kita bertahan adalah percaya – bahwa Allah Maha Adil dan setiap manusia akan mendapat sesuai yang diusahakannya. Mungkin tak sekarang, tapi besok, atau setahun lagi, atau di saat yang tak dapat ditentukan yang menyadarkan bahwa tak ada yang sia-sia dari setiap perjuangan, niat tulus, dan usaha. Bahwa Dia ingin menebalkan mental dan melapangkan hatimu terlebih dahulu sebelum diberi hadiah dengan nikmat yang lebih besar adanya.

Percayalah bahwa semua memang terjadi karena suatu alasan.

Untuk memahami hal itu, mungkin aku bisa berbagi sedikit dari kisahku ini. Salah satu moment terburuk yang aku harus syukuri adalah moment tiga tahun yang lalu – saat semester satu dan indeks prestasiku termasuk salah satu dari tiga yang terendah. Terpuruk hingga muncul perasaan tak ada gunanya belajar jika memang hasilnya demikian. Beranjak ke semester dua, saat indeks prestasi kumulatif diumumkan, hasil akhirku malah meroket menjadi yang terbaik di spesialisasi. Konspirasi pun bermunculan – mulai dari tertukarnya nama, kesalahan perhitungan, hingga aku dikejar-kejar oleh redaksi kampus dan dibicarakan oleh teman-teman, karena jika dipikir-pikir ini sangat tak mungkin sebab jika nilai ini benar maka indeks prestasi di semester dua-ku lebih dari empat koma nol.

Kondisi itu membuat aku hampir menangis setiap hari dan berat badan turun drastis - karena malu dan diragukan, juga lagi-lagi berpikir tak adil – tak ada gunanya belajar jika tetap demikian. Hey, aku hanya sebagai korban! Aku menerima sesuai yang aku perjuangkan – batinku waktu itu memperjuangkan nama baikku sendiri. Hingga aku bertekad, buat siapapun yang pernah mentertawakanku atau membuatku terluka saat itu – aku akan membuktikan bahwa aku benar dan bahwa nilai itu adalah hakku. Seterusnya, atas izin Allah, nilaiku stabil tak jauh-jauh dari semester dua hingga lulus. Dan, aku bisa tersenyum lega – bahwa kebenaran itu terungkap setelah tiga tahun – setelah aku melihat transkrip nilaiku sendiri, bahwa terjadi kesalahan pada perhitungan nilaiku di semester satu. Tapi mulai saat itu, aku belajar memaafkan diriku sendiri, mengabaikan mendengar hal-hal yang bisa melemahkan hatiku, dan berterima kasih pada masa lalu karena tanpa moment itu mungkin aku tak sekuat dan segiat setelah fase itu terjadi. Lihatlah, Allah Maha Penyayang, sangat menyayangi hambaNya walau dengan cara yang tak mungkin kita mengerti.

Percayalah, bahwa badai pasti berlalu. Bahwa seburuk-buruknya ketentuan, selalu ada kebaikan yang bisa diambil – itulah hikmah.

Dan salah satu hikmat itu adalah bisa dimudahkan dan disayang oleh Pencipta. Dan perasaan itu luar biasa damainya ^^

No comments: