September 5, 2011

Patahan #13

Janganlah banyak menangis. Apakah jatuh sesakit itu? Sudah kubilang untuk tak berpegangan pada tali yang setipis benang karena selain tak mampu menyangga beban juga jemarimu akan terluka karena menahan.

Kenapa harus menangis? Tak semua jatuh itu salahmu. Masih ada aku yang akan merangkulmu saat kau tak mampu berjalan sendirian bukan? Kau bisa pinjam bahu dan lenganku kapanpun kau mau – asal tidak untuk menghapus air matamu berkali-kali. Bukankah cinta harusnya menguatkanmu? Jangan jadikan aku beban yang terlalu berat untuk kau pikul. Sebenarnya itu tergantung sudut pandangmu, yang terlampau serius ingin membahagiakanku hingga lupa pada kebahagiaanmu.

Hey, masih menangiskah? Sudahlah, jangan sesali pada apa yang membuatmu jatuh, tapi bangkitlah agar bisa kubantu memungut kerikil-kerikil itu. Karena bukan batu besar yang akan melalaikanmu, tetapi batu kecil – yang sering sekali terabaikan hingga berserakan memenuhi jalan. Harusnya jalan ini kita lalui sama-sama bukan? Sini ajak aku untuk bergandengan, jangan berjalan sendirian padahal hakikatnya kita sedang bergerak searah dan tidak perlu berlari-larian. Kita tidak sedang ikut lomba. Jika kau tetap ingin berlari, berkejar-kejaran sajalah. Kalau itu aku senang. Masa kau tidak senang?

Ayolah, masa kalah pada buah kelapa yang jatuh berperang dengan gravitasi lalu dihujam tanah? Jatuhmu tidak sakit kan? Kau jatuh di padang rumput, bahkan kalau kau sadar, kau telah jatuh di pangkuanku yang begitu empuk. Bukan maksudku membandingkanmu dengan kelapa - sungguh tak sepadan! Aku hanya ingin kau tahu bahwa tidak semua harus sesuai dengan harapan. Tapi tidak semua yang tak sesuai itu menyedihkan. Harapan yang jadi nyata – dengan cacat disana sini itu baru namanya sempurna!

Nah, begitu anak manis – air matamu sudah habis bukan? Tersia-sia hanya karena jatuh – juga tersia-sia karena air matamu tak akan membuatku semakin tampan, eh. Bukannya aku tak perhatian, tapi kau tak kunjung bilang apa yang kau inginkan. Aku bukan pembaca pikiran layaknya perempuan.

Kemudian hening.

Dan di sela-sela isak kau berucap, “Bagaimana aku tak sakit? Kau malah hilang saat aku baru jatuh padamu. Jatuh cinta yang berkali-kali. Dan kau tak rindu saat aku merindukanmu!”

Aku tahu bahwa kau memang begitu. Jika tak jatuh cinta padaku mana mungkin kau tahan bersama makhluk sepertiku. Aku tak pernah hilang hanya saja kadang dicuri waktu – kau tinggal bilang saja kalau kau butuh aku. Jangan sendirian kemana-mana, nanti kau malah hilang diculik orang, kau ini kan aset semesta. Satu-satunya di dunia. Dan aku selalu merindukanmu, hanya saja tak perlu kubilang selalu – aku kan pemalu!

:)

Nah begitu dong tersenyum. Itu baru gadisku!

5 comments:

destian said...

jujur, baru baca sekali langsung jatuh cinta pada tulisanmu...perfect!! :)

Anonymous said...

“Bagaimana aku tak sakit? Kau malah hilang saat aku baru jatuh padamu. Jatuh cinta yang berkali-kali. Dan kau tak rindu saat aku merindukanmu!”

sesuatu banget deh kata2nya...:'(

Anonymous said...

Mgkin,,,mgkin saja,,,,rsa rindumu tak harus kau rasakan,, bukankah Allah akan selalu menemanimu sayang?:-)

Farisa Badres said...

terima kasih :) :)

yah begitulah, seraut analogi saja, tentang bagaimana pria dan wanita punya pikiran yang berbeda tentang rindu, tentang pertemuan, tentang perhatian dalam suatu hubungan :)

but it complete each other :D

hehe

Anonymous said...

suka sekali ^_^