October 17, 2011

Nyanyian Hujan

Maaf saja, aku belum bisa mengikhlaskanmu sendirian terlalu lama. Tak pernah habis pikir bagaimana kau bisa begitu bahagia tanpa aku yang bisa menemanimu secara nyata.

And I wonder if I ever crossed your mind.


Mari kita bertemu selama masih bisa.

Kenapa harus kau tunda-tunda hingga aku tersiksa dengan lari-lari tak tentu arah dengan pikiran yang bercabang menuju kamu – hanya kamu.

For me it happens all the time.

Aku merindukanmu seperti tanah yang retak-retak merindukan hujan. Diam – bisu – sakit – sampai berbau karena kehausan saat satu atau dua tetes menyapa dari langit merekah merah.

Lalu, bagaimana kau merindukanku?

Seperti angin dingin yang membuatku menangiskah? Rindu yang tak terlihat – tapi ada. Terasa.

Mungkin demikian.

3 comments:

shanty wiryahaspati said...

kalimat-kalimat yang di tulis, bener-bener saya alami. setelah penantian selama 8 tahun...tidak ada satu kepastianpun yang saya dapat...lelah, sakit sudah jadi "kebiasaan" selama penantian. akhirnya saya menyerah dan mengembalikan lagi semuanya kepada Yang Maha Mengetahui...

Farisa Badres said...

@shanty: ya, pada akhirnya kita sadar bahwa akan ada orang yang memperlakukan kita dgn lebih baik dan mbak shanty juga akan dianugerahkan seseorang yang akan sangat menghargai mbak :)

jadi gmana sekarang? :)

smangat yaaa :)

Shanty wiryahaspati said...

aamiin. wah baru bisa bales neh he...sekarang alhamdulillah sudah bisa ikhlas dan move on. Walaupun belum menikah, tapi saya tetap mensyukurinya. Kalau flash back tentangnya, ada sdkt penyesalan, merasa bodoh krn menghabiskan wkt dgn sia2 hny utk sesuatu yg ga bermanfaat tp semua tetap saya syukuri dan di jadikan pengalaman dan pembelajaran yg sgt berharga. Semua adalah proses pendewasaan diri. Makasih supportnya :) kalau sempat tlg add ya ke FB saya, Shanty Wiryahaspati atau mampir ke blog www.shantywiryahaspati.blogspot.com