November 9, 2011

Sepercik Kisah dari Jalanan #4: WIA

Aku menyebut waktu pulang sebagai WIA atau Waktu Indonesia Bagian Aku. Aku menikmati dunia sendiri – di dalam mikrolet, dengan blackberry di tangan, timeline twitter yang semakin ramai menjelang petang, dan rasa kantuk yang terlalu cepat datang yang membuat aku terbiasa tidur sepanjang perjalanan.

Dan di saat itu pula, pikiranku pun berputar-putar lebih aktif. Mempertanyakan itu dan ini. Mengajukan banding pada rasa bersalah – pada waktu dan perhatian yang menipis untuk orang-orang terdekatku, perasaan takut ditinggalkan, atau takut kehilangan. Berpikir bahwa aku menghabiskan waktu lebih dari dua belas jam sehari dengan rekan-rekan kerjaku. Bandingkan dengan waktu untuk menyapa Tuhanku atau orang-orang tercinta yang semakin aus karena diperdaya lelah atau marah?

Baiklah, mungkin rasa bersalah ini akan semakin merajalela jika aku masih berteman dengan perfeksionisme dan ketika telah menikah atau menjadi ibu. Ya ya ya.

Juga tentang hidup mengapa begini dan begitu. Saat beberapa orang kesulitan untuk menentukan pilihan, di saat yang lain ada orang-orang yang dengan mudah mencapai hal-hal yang mereka inginkan. Ada yang harus bangkit dari kemiskinan, dan ada pula yang tidak harus bersusah payah. Kata seseorang, kondisiku yang penuh pertanyaan seperti ini adalah karena mentalku baru bertumbuh – sedang banyak maunya, tidak suka dilarang, benci kata ‘jangan’ untuk hal-hal yang sudah dipikirkan matang-matang, lalu ngotot untuk bilang ‘ini faseku, dulu Anda juga begitu’. Mungkin ini pertumbuhan yang terlambat, jatuh cinta di usia yang terlambat, atau menyukai hal-hal secara terlambat lalu hingar bingar ingin punya banyak pencapaian yang terburu-buru.

Entahlah.

Dan, di sela-sela pikiranku yang semakin tak tentu, seorang pria tua jatuh dari sepedanya dengan karung-karung yang robek dan beras bertebaran di jalanan.

Astaghfirullah. Kasihan sekali. Aku seperti ditegur Tuhan dengan sopan.

“Fabiayyi ala irabbikuma tukadziban”

Bersabarlah – Tuhan akan menjawab doamu pelan-pelan. Karena Dia sayang. Dia menyayangimu lebih dari yang kau tahu.

2 comments:

Seagate said...

Kualitas kehidupan seseorang ditentukan oleh bagaimana ia memahami kehidupannya. Seperti apa ia memahami hidup seperti itulah ia menjalaninya. oleh karenanya, mari jalani hidup ini dengan selalu berpikir positif atas segala hal, Insyaallah jadi lebih enjoy untuk menjalani hidup dan kehidupan ini, just let it flows :)

nice blog anyway..oya, ternyata kita satu almamater..salam kenal :)

Farisa Badres said...

@seagate: itulah mengapa saya bilang disini bahwa mental saya sedang bertumbuh hehe sedang dalam proses memahami kehidupan :) insya Allah akan ada fase menuju tahap kemapanan batin itu.

satu almamater kah? :O uwooo. your blog is wonderful too :D