December 27, 2011

Jatuh

Bahwa awal dari kehancuranmu dimulai saat kau membiarkan dirimu jatuh. Sudah kubilang untuk berhati-hati. Jangan berani dekat-dekat sebelum kau tak cukup kuat. Seharusnya kau tak memalingkan wajah ke kiri dan ke kanan – hingga tak melihat ada lubang besar tepat di persimpangan.

Bahwa awal dari kehancuranmu dimulai saat kau membiarkan dirimu jatuh. Pada suatu titik – menjadi lupa dengan yang seharusnya kau capai atau kau gapai.Menjadi lunglai karena candu atau rotasi akal yang secara tidak wajar hanya berputar di satu sumbu. Seperti hilang arah, mempertanyakan salah, jalan terus atau menyerah.

Seharusnya kau tak selemah itu. Seharusnya kau memperbaiki gagang kacamatamu – sebelum melangkah satu-satu. Bisa saja jalan yang di hadapanmu itu jalan buntu. Sayangnya hatimu sudah dicuri, sayang. Kenapa tak kau simpan kuncimu di tempat yang lebih aman? Agar kau aman. Agar kau aman.

Kini apa yang kau dapat selain penyesalan? Bayangan indah itu tidak lagi menakjubkan saat kau merasakan jatuhmu sendirian. Pada suatu spasi – seharusnya kau diajak bangkit lalu berjalan beriringan pada ruas-ruas yang dibatasi antara pertemuan dan perpisahan. Tapi kau hanya dipandangi dari jauh – mungkin puas karena kehancuranmu atau kecewa karena kenyataan bahwa kau tak seindah yang ada dalam angan. Atau kau diajak berdampingan hingga pada suatu lorong berbatu – tertatih – lalu ditinggalkan.

Kau ini bukan hanya seonggok air mata. Kau ini mahkluk Tuhan bukan? Anak dari dua orang manusia yang penuh kehormatan bukan? Maka bangkitlah – berlindunglah dari perasaan-perasaan ketakutan. Sudah jauh sekali. Sudah jauh sekali.

Teriaklah dengan lantang – bahwa awal dari kehancuranmu dimulai saat kau membiarkan dirimu jatuh – itu mereka, bukan kau. Maka buktikan.


*sebuah analogi skeptis tentang jatuh: kau pasti tahu – jatuh apa yang kumaksud*

No comments: