January 17, 2012

#12 Self Note: TGIW

Mengamati itu menyenangkan. Kau bisa belajar banyak dari yang kau lihat - seperti saat kau mengamati pekerjaan orang-orang.

Kita semua adalah bagian dari sistem yang sama-sama menggerakkan roda perekonomian. Lihat, bagaimana menariknya uang berpindah tangan dari satu orang ke orang yang lain - saling memberi penghidupan satu sama lain.

Setiap pekerjaan punya konsekuensi masing-masing, ada pasang surutnya, ada senang sedihnya, bahagia yang satu tak sama dengan bahagia yang lain. Tanpa berniat memandang sebelah mata, aku sering bertanya-tanya, bagaimana menjadi dia, bagaimana hidup menjadi mereka – yang hasil pekerjaannya hanya cukup untuk makan sehari, tak bisa menabung, tak sempat istirahat, tak bisa selalu makan menu lengkap, yang harus tahan dengan pengabaian, lantai yang baru dipel tapi sudah kembali diinjak, atau sampah sisa hasil makanan yang harus dipunguti entah berapa kali dalam sehari. Tapi tak sedih – karena masih bisa punya hidup yang disyukuri – dan tak punya waktu untuk bersedih.

Bahagia yang satu tak sama dengan bahagia yang lain.

Beberapa berkata bahwa apa yang kau dapat saat ini adalah panen dari ragam pilihan atas buah dari apa yang kau tuai di masa lalu. Ada juga yang berkata bahwa tipe manusia memang beda-beda – ada yang merasa cukup dengan demikian tapi ada pula yang ingin maju ke depan namun tertahan karena keadaan atau kesempatan. Namun, semua ini tak lepas dari rahmat Tuhan - tak ada yang tahu hidup akan bergerak ke mana. Tak ada.

Dari sekian banyak yang kulihat – aku harus banyak-banyak bersyukur. Untuk apa yang sudah kudapat saat ini, untuk pekerjaan yang sudah kurengkuh erat-erat, untuk kehidupan yang berubah arah, untuk orang tua yang tersenyum dan berdoa tanpa lelah, untuk hal-hal yang masih saja dijadikan ladang mengeluh, padahal tak pantas – thanks God I’m working.

Tak ada yang tahu hidup akan bergerak ke mana. Tak ada. Tapi salah satu yang aku yakini selalu adalah, “Allah tidak akan merubah suatu kaum sebelum kaum itu merubah keadaannya sendiri” dan “Allah Maha Mendengar. Sampaikanlah apa yang kau inginkan dengan spesifik – maka Dia akan memberimu jalan dari yang tidak pernah kita duga-duga”. Juga apa yang selalu disampaikan ibuku saat sang anak sudah ingin menyerah, “Sabarnya ditambah!”

Mulai saat ini aku belajar berucap – TGIW instead of TGIF :p Yup, thanks God I’m working! Alhamdulillah, mari kita kejar berkah :)

*terinspirasi dari pemandangan kakek dan nenek tua yang tertidur pulas di sebuah jembatan penyeberangan dan percakapan random dengan gentleman yang terinspirasi dari buku 8th to be Great*

No comments: