January 24, 2012

Bayang-bayang

Dua orang sedang berjalan menuju altar. Sang wanita tersenyum bahagia sambil membawa seikat bunga bangkai yang dicat merah muda. Sang pria pun merona – tapi pura-pura.

Dia masih saja menoleh ke belakang. Barangkali beruntung menemukan sebuah bayang-bayang.

Mencari-cari celah lalu permisi sejenak.

“Masih ada beberapa waktu sebelum kita benar-benar tak mungkin lagi bertemu”

“Aku tak mau”

“Kau masih saja seperti dulu – aku tak pernah bisa menaklukkanmu”

“Maka, jangan pernah begitu”

“Kau tahu. Sebentar lagi aku akan menikah. Mohon doamu”

Bayang-bayang itu mengubah raut wajahnya lalu tersenyum kelabu.

“Aku turut berbahagia untukmu”

“Kau pasti senang karena tak akan ada lagi yang mengganggu”

Lalu yang terdengar hanya desah.

“Lalu kau tak berbahagia? Akan menikah tapi kau masih saja melakukan ini? Tolonglah, hormati wanitamu yang sungguh mencintaimu”

“Tapi aku mencintaimu”

“Berhati-hatilah pada yang tak pernah kau punya. Itu hanya sejenis fantasi. Sudah kubilang agar tak terjebak pada perasaan yang tak perlu. Kembalilah, kau telah menyakiti wanitamu”

Dan sang bayang-bayang berlalu.

Sang pria kembali menggandeng wanitanya – seakan-akan tak terjadi apa-apa. Tibalah saatnya, mereka pun diikat oleh janji suci setia. Dengan cinta yang masih menggantung…

If only that woman knew the truth...

*dari sebuah true story dengan sedikit delusi. I hope they’re blessed and everlastingly happy*

6 comments:

Arum Pratika said...

sepenggal kisah yang menarik.....
(seperti kisah yang pernah sayya alami dulu)

Farisa Badres said...

@arum: oh yaa? ini hanya metafora saja :)

bahwa hargailah yang sudah kau punya :)

pusssmiaawww said...

Hmmm...lg terjd ini skr ˆ⌣ˆ

Farisa Badres said...

@hala mima: bisa terjadi pada siapa saja hehe :D

amel said...

Asal cowoknya bisa menyembunyikan perasaan dari istrinya sih ga masalah..
tapi kalau istrinya sampe tahu, pasti sakit sekali rasanya

Farisa Badres said...

@amel: ya, rasanya sakit sekali pasti :)