Dia masih saja menoleh ke belakang. Barangkali beruntung menemukan sebuah bayang-bayang.
Mencari-cari celah lalu permisi sejenak.“Masih ada beberapa waktu sebelum kita benar-benar tak mungkin lagi bertemu”
“Aku tak mau”
“Kau masih saja seperti dulu – aku tak pernah bisa menaklukkanmu”
“Maka, jangan pernah begitu”
“Kau tahu. Sebentar lagi aku akan menikah. Mohon doamu”
Bayang-bayang itu mengubah raut wajahnya lalu tersenyum kelabu.
“Aku turut berbahagia untukmu”
“Kau pasti senang karena tak akan ada lagi yang mengganggu”
Lalu yang terdengar hanya desah.
“Lalu kau tak berbahagia? Akan menikah tapi kau masih saja melakukan ini? Tolonglah, hormati wanitamu yang sungguh mencintaimu”
“Tapi aku mencintaimu”
“Berhati-hatilah pada yang tak pernah kau punya. Itu hanya sejenis fantasi. Sudah kubilang agar tak terjebak pada perasaan yang tak perlu. Kembalilah, kau telah menyakiti wanitamu”
Dan sang bayang-bayang berlalu.
Sang pria kembali menggandeng wanitanya – seakan-akan tak terjadi apa-apa. Tibalah saatnya, mereka pun diikat oleh janji suci setia. Dengan cinta yang masih menggantung…
If only that woman knew the truth...
*dari sebuah true story dengan sedikit delusi. I hope they’re blessed and everlastingly happy*
6 komentar:
sepenggal kisah yang menarik.....
(seperti kisah yang pernah sayya alami dulu)
@arum: oh yaa? ini hanya metafora saja :)
bahwa hargailah yang sudah kau punya :)
Hmmm...lg terjd ini skr ˆ⌣ˆ
@hala mima: bisa terjadi pada siapa saja hehe :D
Asal cowoknya bisa menyembunyikan perasaan dari istrinya sih ga masalah..
tapi kalau istrinya sampe tahu, pasti sakit sekali rasanya
@amel: ya, rasanya sakit sekali pasti :)
Post a Comment