January 17, 2012

Ruang

Sudah sejauh ini – tapi masih saja ingin mundur beberapa langkah. Ini jalur satu arah. Pada titik tanpa rambu dengan perintah dilarang berhenti – aku bertanya, “Apakah ruang yang kuberi terlalu luas hingga kau tak lagi bisa melihat batas?”

Kau menggeleng. Tak pernah ada ruang. Tak perlu.

Bukankah cinta bisa tumbuh jika ada ruang? Aku sempat percaya itu – hingga menghadiahkanmu dua atau tiga kali lebih banyak. Padahal kita seharusnya ingat bahwa yang terlalu itu malah menjadi belenggu. Tak baik – sungguh tak baik.

I don’t wanna mess the things up. I don’t wanna push too far.

Hei, masih kenal aku?

Kita terbiasa berjalan sembunyi-sembunyi atau sendiri-sendiri. Mungkin bersamaku terlalu dingin hingga kau mencari sisi hangat yang lain. Mungkin bersamaku terlalu lelah hingga kau menyerah. Pada titik dimana kau tak lagi tahu bahwa aku merindukanmu – dan demikian pula denganku – ini salah. Seperti kehilangan kemampuan untuk merasa. Selain sangkaan-sangkaan yang menari liar di kepala dan seharusnya tak pernah ada.

Aku bertanya lagi, “Apakah ruang yang kuberi terlalu luas hingga kau tak lagi bisa melihat batas?”

Kau masih menggeleng. Tak pernah ada ruang. Tak perlu.

Maaf, harusnya aku tak mengangguk. Seakan-akan kita sudah berada dalam zona nyaman. Padahal ini labirin fatamorgana.

Kenyataannya, kita sama-sama tak sadar sedang saling melepaskan.

No comments: