January 17, 2012

Pulang

“Selama masih bisa pulang, maka pulanglah”

Jadi akhir-akhir ini saya sangat impulsif – pulang ke rumah karena kangen berat. Dan saya pun tak mengambil cuti. Intinya cuma mau ketemu Mama, Abah, adek, dan pingin banget tidur di rumah. Juga mimpi-mimpi yang datang sekali dua kali seperti mengharuskan saya untuk pulang. Berawal dari iseng-iseng cek harga tiket tiga minggu sebelumnya dan eh masih ada yang murah. Wrapped! Maka, Jumat pagi, setelah perjalanan dari Bandung – kantor dan sorenya langsung ngebut meluncur ke airport, saya bisa kembali menginjakkan kaki di rumah pada pukul 2 dini hari, 14 Januari 2012. Alhamdulillah.

Abah sudah menjemput di luar dengan jaket tebal dan sepeda motor tua yang usianya lebih tua dari usiaku. Aaaah rasanya sudah lama sekali tidak dibonceng oleh beliau.

Mama dan adek juga sudah menunggu – menahan kantuk agar bisa bertemu. Masih tersisa makanan di atas meja. Juga beberapa potong kue pandan. Dan manisan mangga muda kesukaanku yang diiris dan dibuat sendiri oleh Abah beberapa hari sebelumnya agar bisa kulahap dan kubawa pulang.

Selama dua malam aku menikmati terlelap tidur bersama Mama. Juga sensasi menunggu jam makan siang sambil bermain bersama kucing-kucing yang kelaparan – rasanya menyenangkan.

Adek sudah tinggi sekali – sudah puber. Mulai ikutan ngegym dan punya style sendiri yang tidak bisa lagi dipilihkan harus pake ini atau itu. Pagi-pagi main badminton, tertawa, belajar software-software pemrograman, dan jalan-jalan makan eskrim beberapa jam sebelum pulang. Berdua saja.


Pukul 7 malam, 15 Januari 2012. Waktu cepat sekali berlalu dan harus sudah menuju airport lagi. Setelah sampai dan di tengah-tengah obrolan, saya baru ingat kalau flashdisk saya ketinggalan. Sebenarnya tak apa, walau ada beberapa data penting toh sudah dibackup. Tapi Abah tetap khawatir. Sudah pukul 8 malam, dan jadwal boarding jika tidak delay adalah 30 menit lagi. Abah bersikeras dan akhirnya beliau sendirian pulang ke rumah – naik becak motor dan kembali ke sini dengan sepeda motornya. Terengah-engah dan kembali dalam waktu tidak sampai 30 menit :’(

I hate any kind of saying goodbye. Jadi saya tidak mau menangis. Dan kita sama-sama berjanji untuk tidak berair mata.

Ternyata penerbangan delay sampai jam 10 malam dan saya tiba di Jakarta hampir pukul 1 dini hari. Jujur saja, airport sangat menyeramkan di malam hari. Banyak taksi-taksi ‘tanpa argo’ yang memaksa berangkat, juga orang-orang di luar yang menyapa usil. Saya kabur saja ke bagian keberangkatan. Dan Alhamdulillah, di tempat itu dipertemukan dengan orang baik – seorang pegawai airport yang berbaik hati mencarikan saya taksi yang aman walaupun saya pada awalnya takut sekali dengan beliau.

Mama dan Abah belum bisa tidur hingga saya mengirim kabar bahwa saya sudah baik-baik tiba di kos-kosan. Don’t worry, I’m okay :)

Pulang itu seperti menuai doa ibu yang dihantarkan di depan pintu. Walau hanya dua hari, tapi saya sangat bahagia bisa mengobati rindu. Walaupun, sungguh tak akan ada obat untuk sebuah rindu.


Don’t worry, I’m okay. And I’ll always be :)

4 comments:

Rikian said...

gilaaaaaaaaaaaaaaaaaa, kita sama2 manggil 'abah' ke ayah kita :D

Farisa Badres said...

kamu manggilnya abah-ummi yaaa :D hehe samaa yaa tapi aku manggilnya abah-mama :p

khansa with passion said...

bikin pengen pulang..
salam kenal..
kunjungan pertama...

Farisa Badres said...

hihi, iyaaa jadi pingin pulang lagi :P

salam kenal juga khansa :)