February 7, 2012

Kusut

Antara kusut-robek-patah.

Kita terlalu banyak bermain-main dengan hati. Sayang sekali bahwa yang tumbuh di dada ini bukan sejenis kertas origami. Dilipat kesana dipipih kesini dalam berbagai segi. Kita sedang tidak mencipta angsa atau perahu kertas bukan? Angsa yang jatuh saat kau terbangkan atau perahu yang remuk saat kau layarkan. Sudahlah, tak akan pernah sampai tujuan.

Harusnya kita sama-sama paham bahwa yang kita tuju adalah masa depan. Kau pernah bilang bahwa mari kita mulai saja dari awal. Tapi di setiap langkah mundur yang kita usahakan masih tersisa garis-garis kecewa yang tak mungkin hilang. Sudah lihat? Cukuplah. Jangan lagi kau paksa – ini seonggok daging yang tak cukup dipulihkan hanya dengan waktu dan kesempatan yang malah menjadi beban. Lalu robek pelan-pelan.

Cinta itu menggelikan. Seperti satu rotasi bumi: kau menemui pagi, siang, malam, lalu pagi lagi. Hubungan ini bukan hanya terang benderang layaknya siang – yang membuat kita bebas bersenang-senang di bawah mentari hingga tak menyiapkan diri untuk gelap pada malam hari. Bisa saja kau kedinginan, sendirian atau kehilangan. Seharusnya kita sama-sama merengkuh dalam susah – tapi sepertinya kau sudah terengah atau malah pergi ke belahan bumi lain yang menyediakan pesona dan cahaya melimpah.

Kenapa tak belajar dari bumi dan matahari? Harusnya kita bisa saling mengitari untuk lebih dari satu atau dua revolusi bukan dari cuaca musim pancaroba yang terlalu wajar untuk gonta-ganti suasana hati kadang mendung kadang gerimis kadang terik – janganlah begitu. Karena payung yang sudah kusediakan pun akhirnya tak mampu mencegah dari sakit atau ketakutan pada gemuruh yang menderu.

Jangan salahkan aku yang lemah lalu patah. Tak ada yang salah – kita hanya kurang berusaha. Atau memang tak ditakdirkan bersama, klisenya. Aku pernah bertanya kenapa ranting bisa patah? Karena rapuh jawabmu. Karena tak mampu menahan tekanan jawabku. Aku bertanya lagi kenapa hati bisa patah? Karena kehilangan jawabmu. Karena terlalu jawabku. Lalu kita tertawa saja seperti tidak menyadari akan kedatangan hari ini.

Bahwa jawabmu dan jawabku sama-sama tak tepat. Tak apa. Hari esok masih ada. Jika jamur bisa tumbuh dengan mudah di musim hujan kuharap yang patah pun demikian.

Cukuplah sedih sekali asal jangan sekali sekali. Karena sedih mengingatkan kita tentang kebahagiaan. Bahwa inilah hidup: hulu dan hilir antara kusut-robek-patah. Kau harus kuat. Ya, lebih kuat.

"Nothing's forever. Forever is a lie. All we have is what's between hello and goodbye" - Marilyn Bergman.

4 comments:

Queen Aida Listia said...

speechless bc tulisan kk, hny sekedar metafora apa mengalami sendiri kk??? baguus bgt (:

Farisa Badres said...

@dek aida: ini metafora sayang :)

dan semua cerita-cerita kakak adalah hasil dari mengamati apa yang terjadi di sekitar :)

it can happen to everyone :)

Gede said...

aku baca dan aku udah mulai siap2 gtalk kamu buat ngobrol chubitooo,,,untung yang aku pikirkan sepertinya tidak terjadi padamu,,

Farisa Badres said...

aku baik-baik aja gede :D