February 21, 2012

Tentang Dua Orang yang Sama-sama Menanti sebelum Pagi

Sudah pukul sembilan malam.

Kita sudah berkomitmen untuk tidak membawa pulang pekerjaan. Tinggalkan di sebelah kanan meja ruangan. Lalu pulang dengan langkah ringan. Cukupi kadar glukosa dalam darah yang telah habis seharian. Jangan takut dengan pertambahan berat badan – agar kita bisa tetap berbincang dengan riang. Tentang apa saja yang menyenangkan. Atau yang menyedihkan untuk ditertawakan atau diselesaikan. Juga tentang harapan untuk digapai pelan-pelan.

Sudah pukul sepuluh malam.

Kita sama-sama menanti di pojokan. Menggenggam gadget dengan merk berbeda yang terperangkap persaingan oleh Yang Mulia bernama globalisasi dan era teknologi informasi sambil menunggu dentingan pesan yang sering macet di perjalanan karena jaringan yang kehabisan napas atau kelebihan beban. Sekali dua kali menghibur diri membaca timeline di twitter atau membalas chat yang tak diharapkan. Hanya selingan. Basa basi dan membiarkan jari-jari shuffling tanpa kelelahan.

Sudah pukul sebelas malam.

Kita masih sama-sama menanti – kau membiarkan televisi menemani dan aku menghidupkan laptop atau membuka novel mini untuk meninabobokan mata yang tak mau mengistirahatkan diri. Entah aku yang terlalu gengsi atau kau yang tak peduli. Padahal kita sama-sama telah berjanji. Tapi selalu kalah pada pilihan yang jatuh pada menanti siapa yang lebih dahulu merendahkan hati untuk menekan tombol call yang membebaskan hubungan dari banyak elegi dan konspirasi – yang entah kenapa terlihat sulit sekali.


Beberapa menit sebelum pergantian hari.

Mengalahkan rindu yang seharusnya tak begini. Terus menerus disimpan hingga nyeri. Pelan-pelan kau dan aku ditidurkan oleh haru dan dilebur dengan kalimat mati rasa tentang kau yang sungguh tak mau tahu kabarku dan sebagainya yang dicipta delusi sepi. Sungguh kita sama-sama menanti. Lagi. Dalam kebimbangan yang pulang pergi sendiri. Bahwa kau kalah – tak merindu dan tak peduli. Dan terjadi hampir setiap hari.

Padahal hakikatnya; kita sama-sama menanti. Sungguh saling menyayangi. Sungguh saling terjaga dan peduli. Sungguh tak ada yang bisa mengganti. Hanya terlalu berat untuk menyapa yang pertama kali. Yang kita sama-sama tahu bahwa itu bukan sebuah dosa atau harakiri. Bukan pula menghakimi harga diri. Yang sama-sama disadari bahwa itu akan menyelamatkan kita – pada apa yang akhirnya disesali dan seharusnya tak perlu terjadi menjelang pagi.

No comments: