March 7, 2012

Bukan Metafora

So, here is my pretty-ugly-story and never-ending-happy-learning process so far– Insha Allah in His will :)

Just wanna share! :D


***

“You’ll find someone after college”

Mom’s right.

Mungkin itu salah satu alasan saya tidak punya riwayat ‘relationship’ sejak masa sekolah sampai kuliah. She loves me and worries too much. And that made me successfully never be in love and trust someone – I thought :O

“Kamu masih kecil, jauh dari orangtua, dari dulu Mama dan Abah ga pernah kasih izin jalan sama cowok kan?”

Well, salah satu statement di awal masa-masa kuliah yang saya tempel di dahi dan bikin terbahak-bahak sampai sekarang. Nyahaha. Rebel!

But Mom’s right.

Hikmahnya, saya tidak perlu merasakan patah hati sebelum waktunya. And I’ve got a lot of time to focus on myself and my friends that far :D

Again, Mom’s right.

Saya jadian beberapa hari setelah masuk kerja haha. He asked me in my birthday. Tapi baru resmi saya terima 10 hari kemudian. Dengan total 3 kali pertemuan nyata dan mengalahkan rasa takut, tradisi, dan izin yang ternyata masih ditolak, okay, I believed and I tried. I surprised my family and my friends with this decision. They asked how it could be and guaranteed that it would last in a month or less than a year, huh!

***

Wait, 3 kali?

Ya, saya dan dia kenal di social media – tepatnya awal tahun 2010 waktu foto dukungan untuk jadi finalis duta-dutaan yang didesain adek kelas saya beredar tanpa izin. Padahal saya benar-benar tidak mau ikutan, dan eh tiba-tiba ada panggilan interview mendadak yang ternyata ketua kelas saya mengajukan pendaftaran juga tanpa sepengetahuan saya. Huks.

Ya sudah begitu saja. Friend request saya terima dan tidak ada komunikasi apa-apa. Sampai 1 bulan kemudian saya butuh contact person mahasiswa baru Bea Cukai untuk jadi peserta kegiatan TOEFL Test STAN English Club. Daaan ya sudah saya kirim message untuk dibantu, he could help and we shared phone numbers. Dan setelah itu tidak ada komunikasi apa-apa lagi.

But thanks for any unpredictable conspired nature! :D

Daaaan beberapa bulan setelah itu komunikasi berlanjut via twitter. Saat itu kondisi saya mengenaskan. Dan timeline isinya tentang rutinitas ngajar yang melelahkan, outline, nyusun bahan kompre, ngiler lihat makanan, sakit, ngajar lagi, gajian, makan enak, ahaha. Sedangkan timeline dia, makan martabak, makan martabak lagi, eh masih martabak lagi dooong, ke tempat itu, ke tempat ini, ngerjain ini, ngerjain itu. Dari timeline masing-masing, saya sadar kalau karakter saya dan dia itu beuuuuh beda jauuuh. I was interested and curious about him. And it made us keep sharing each other.

***

Terus kapan ketemunya?

Wisuda! Walaupun ketemunya cuma salaman doang dan ya udah, payah ahaha. Syukurlah ga penasaran lagi padahal awalnya saya harap-harap cemas kalau dia ga bisa datang karena kondisi kesehatan, transportasi, dan sebagainya. Dan syukurlah tidak ada adegan tersandung high heels waktu saya menuju stage wisuda padahal teman-teman saya sampai lebay ikut tahan napas waktu saya jalan ke depan. Haha :’)

Pertemuan kedua – ambil foto wisuda di Plasma STAN! Dan saya niat-niatin datang dari Condet ke Bintaro walaupun saat itu Mama, Abah, Adek, dan Nenek masih di Jakarta :p Hah! Dan hal yang paling tidak bisa saya lupa adalah waktu lagi ngobrol begitu eh ada yang datang dan nembak sayaaaa doooong di depan diaaa dengan berbekal tiga kata dan dua lembar puisi terus kabur gitu aja. Padahal kayaknya saya nggak pernah kenal orang itu sebelumnya. Kyaaaaaaaaaaa!

Dan pertemuan ketiga – beberapa hari setelah ulang tahun saya. Lagi-lagi saya niatin datang dari Condet ke Atrium Senen buat mengungkapkan semua ketakutan saya. Awalnya, saya ga dapat izin keluar rumah sih tapi alibinya adalah ketemu sahabat! Iya sih, ketemu sahabatnya setelah saya nangis soalnya endingnya saya tolak lagi karena saya takut, dan soft lens saya kok yaa lepas di jalan jadinya nyasar salah naik angkot. Hahaha.

Setelah jadian pun saya masih kabur-kaburan. Beberapa hari setelah jadian, tante saya mau kenalan sama pacar saya ini. Daaan jadilah dia PSW dari Soekarno-Hatta ke kantor saya terus lanjut ke rumah. Jantung mau copot dong! My first time dooong ngenalin cowok ke rumah! Kalau ga suka gimana? Kalau dimarahin gimana? Karena takut banget jadilah roti yang saya hidangkan meisisnya bertebaran entah kemana-mana. Aaaaaaa!

Setelah kenal, mau jalan juga masih susah hehe. Saya sebut ‘izin jalan’ itu adalah golden ticket. Soalnya saya izinnya biasanya 2 minggu sebelum rencana keluar bareng dan harus jelas tujuannya. Syukurlah masih bisa ketemu 20 hari sekali, telpon juga kayaknya Sabtu-Minggu doang biar saya tidurnya ga kemaleman. Haha, masih kaget kali yaa mereka dan waktu weekend saya yang biasanya di rumah harus dialokasikan buat kelestarian hubungan, halah. Setelah dapat lampu hijau dari om dan tante, tapi tetep saya masih kabur-kaburan kalau Nenek datang ke Jakarta. Haha. What a life!

Berkat golden ticket yang berharga itu saya jadi tahuuu tempat-tempat menyenangkan di Jakarta. Metropole, Taman Menteng, Taman Suropati, La Piazza, Java Jazz Festival! Haaah, padahal sebelumnya nggak pernah. Daaaan setelah golden ticket hangus, kembali deh saya menghitung hari dan cari tanggal cantik lagi. Fyuuuuh.

But thanks to aunt and uncle because they made my mom and dad trust us. 

***

Kini semuanya sudah berjalan normal. We meet almost every weekend; call every time we need, and kill any burden outside. Tidak ada lagi kabur-kaburan dan saya semakin matang secara mental. Thanks to him yang bisa sesabar itu menghadapi keruwetan saya. Beberapa bulan setelah itu, dia penempatan definitif di KPPBC Serpong – kabur-kaburan lagi sih, soalnya saya beneran pingin lihat Serpong dan ga boleh tapi tetap yaaa nekat :p Mulai saat itu saya jatuh cinta sama Alam Sutera. Sama roof park-nya Living World Mall. Pemukiman yang masih asri dan lampu-lampu yang menggantung cantik di malam hari.

Many things change. I change. He changes. We change. I promise and make it to work harder, study better, love Allah most, and love family more and more. I grow a lot mentally. We design future clearly. I seize my ego. What a great achievement for me!

Mom loves me. Mom likes him. I love mom. I love him :D

*intinya tidak ada kisah indah yang mudah saudara-saudara :) So make it happen and pray often!

6 comments:

Daisy said...

Ichaaaaa. :')

Farisa Badres said...

jeng dessy :") *red face*

amel said...

tiap orang punya ceritanya masing2 ya..

Farisa Badres said...

@amel: hihi iyaa, lucu aja kalau diinget2 :D ya ampun pernah ngalamin hal2 begitu.

Dan kita kuat :)

Ratna Yunita said...

wonderful story kak Icha!! :))
*mupeng*
hihi

@chabadres said...

@ratna: haha kok mupeng :p