March 12, 2012

Patahan #42

Hai sayang, apa kabarmu?

Sudah seminggu berlalu, dan aku masih meraba-raba saja.

Tidak hanya aku yang begini kok, ada banyak kami yang lain dengan perasaan harap-harap cemas serupa.

Kamu sedang melakukan apa? Latihan fisik setiap hari kah? Yang aku yakini kamu pasti baik-baik dan menjadi orang yang bisa kubanggakan selalu. Aku menitipkanmu pada Rabb Yang Maha Tahu yang menjagamu di setiap waktu. Sehat-sehat ya kamu dan semangat terus. Hanya itu pintaku.

Akhir-akhir ini aku banyak menulis. Laptopku tidak berulah lagi, syukurlah, aku belum mau menukarnya dengan yang baru. Aku juga membeli beberapa buku. Ada yang kuhabiskan dalam sehari namun ada juga yang masih terbungkus di lemari. Mungkin untuk cadangan di sisa akhir pekan saat aku tak ingin berjalan-jalan. Aku juga bermimpi sekali dua kali. Tak begitu indah, tapi juga tak begitu buruk.

Tentang berjalan-jalan? Aku masih suka kemana-mana sendirian. Rasanya menyenangkan – memesan makanan atau masuk toko ini dan itu hanya untuk melihat-lihat lalu mengamati sekitar dan belajar – bahwa banyak sekali hal yang harus disyukuri juga dinikmati dengan sepenuh hati. Sendirian juga mencegahmu dari sakit hati, karena akhir-akhir ini orang dengan mudah membuat janji. Hanya untuk berbasa-basi. Jadi aku selalu siap jika pada akhirnya itu tak mungkin terealisasi. Siap. Karena mungkin kita pun begitu dan harus mengerti – bahwa kita tak lepas dari siklus itu semua bukan?


Hai sayang, kamu tahu?

Banyak sekali hal yang ingin kubagi juga kusampaikan.

Setiap hari aku menghitung waktu. Atau mengirim pesan yang tak mungkin terbaca. Aneh bukan? Aku memang aneh. Tapi aku tak menyesal. Karena saat aku harus menunggu, Tuhan memberikanku banyak hal lain yang bisa mengganti itu. Mungkin kesibukan, atau satu dua orang teman, atau Mama yang semakin membuatku cemburu. Bayangkan, aku mencemburui Mama saat beliau harus mengabaikan telponku karena ada tamu. Begitu anehnya aku. Dan aku pun bercerita tentang apa saja. Tentang kesedihanku – dan beliau berucap bijak, “Doakanlah. Dia sedang berjuang”

Ini sudah patahan kesekian. Dan aku pun berjuang untuk menjadi orang yang bisa dibanggakan. Juga menjadi orang baik yang punya banyak teman dan hati yang lapang. Dicintai Rabb yang Maha Rahman.

2 comments:

amel said...

oalah, ngeh juga akhirnya.. lagi ditinggal samapta ya,,
Pernah ngalamin dulu.. dan emang sih, beratnya itu karena komunikasi benar2 terputus. ga bisa telpon/sms, padahal biasanya udah jadi kebiasaan sehari2..

kalau dulu sih ngatasinnya dengan ngebayangin orang jaman dulu yang mesti surat2an, suratnya pun baru nyampe berbulan2

eh malah curcol di sini

Farisa Badres said...

@amel: hihi payah ya akunya, baru ditinggal samapta doang :p

haha banyak hal2 kecil yang terasa hilang yaa, padahal itu sangat berarti :)

waaah ga kebayang ya gmana orang2 jaman dulu komunikasi surat2an gitu ~~

gapap curcol. aku seneng :)