March 7, 2012

Semua Sayang Abah

Aku memanggilnya Abah. Tidak matching memang dengan panggilan Mama yang tidak ingin dipanggil Ummi. Secara psikologis, Mama terasa lebih dekat, kata beliau.

Abah seorang teknisi reparasi elektronik. Jadi boss di rumah sendiri yang bisa bekerja di hari apapun dan jam berapapun. Bisa setiap hari sampai larut malam, atau libur sehari dua hari tak ada yang melarang. Ada banyak tabung televisi di rumah, obeng, solder, dan harddisk yang tertata di rak belakang. Juga memenuhi panggilan ke rumah pelanggan untuk memperbaiki satu atau dua benda yang rusak dengan tangan ajaibnya dan sepeda motor tua yang tak lekang oleh zaman. Serta tas sandang berisi dioda, transistor, voltmeter, atau resistor beraneka warna; kacamata gagang besar di kepala, dan jaket tebal menutup kulit dari serangan udara dingin atau teriknya siang.

Pakaian favorit abah adalah t-shirt putih polos. Pakai batik atau kemeja hanya sekali-sekali. Sangat suka musik rock milik Metallica, Guns and Roses, atau Scorpions dengan volume speaker maksimal untuk pereda kejenuhan. Pintar aritmatika dan fisika. Sering masuk angin karena tidur larut malam atau perihnya maag akibat terlambat makan. Hanya mau ayam goreng kampung bagian dada, ikan laut yang digoreng kering, dan yang lainnya entah hanya telur setengah matang atau tempe goreng tak masalah. Tidak suka makan di restoran. Tidak suka membeli pakaian – kecuali untuk anak-anaknya. Suka mentraktir eskrim. Rajin menemani ke toko buku dan sangat gembira diajak berkeliling Ace Hardware atau bagian elektronik Carrefour untuk pilah-pilih obeng atau peralatan multi fungsi lain. Atau berlama-lama di depan laptop setelah tahu bahwa ada banyak laman yang menyediakan manual atau skema yang bisa diunduh gratis.

Abah memang pemalu dan tidak romantis. Sederhana. Tidak banyak bicara yang tak perlu. Jarang ingat ulang tahun anak-anaknya bahkan Mama atau dirinya sendiri. Tak perlu, katanya. Yang penting kita sehat-sehat selalu. Tapi beliau sangat penyayang. Juga tegar. Dan penyabar. “Kamu harus sekolah”, katanya. “Harus tetap menjadi emas”, pesannya. Dan beliau pekerja keras. “Tidak boleh menyerah. Tidak boleh. Tidak boleh lemah”.

Jika aku pulang – beliau sering membuatkan manisan mangga. Dikupas, dicuci, dan dibumbui sendiri. Juga sangat mahir membuat kerucut lontong dari daun pisang menjelang lebaran. Suka duduk-duduk di halaman belakang. Memandang bintang sambil mendengar senandung Al Quran dari masjid seberang. Atau bermain-main dengan kucing yang berseliweran minta diberi makan.

Beliau sering terharu diam-diam. Entah sambil menonton film atau reality show di akhir pekan. Atau mendengar ceritaku yang diulang-ulang oleh Mama setelah makan malam. Dan beliau pun mengenang masa-masa perjuangan. Bahwa roda berputar. Bahwa biarlah orang memandang tak ada tapi tetaplah menjadi ada.

Abah jangan suka bersedih. Semua sayang Abah. Cukuplah semua itu kami – Mama dan anak-anak Abah. Juga Allah yang Maha Mengetahui dan Maha Penyayang.

*I’m sure everyone has own amazing story about father. Share it :)*

No comments: