April 26, 2012

Another Story of Going Home


I feel weird these days, so I decide to go home.

Semacam ada perasaan bersalah – kau bisa menghabiskan waktu lebih dari belasan jam sehari dengan pekerjaan tapi tidak dengan keluargamu. Atau kau bisa berbagi hal-hal dengan orang lain – tapi tidak dengan ayah, ibu, dan saudara-saudaramu.

Juga semacam kangen. Lalu saya pun mengambil cuti 3 hari di pertengahan April kemarin sambil menghela napas dari rutinitas dan hari-hari menjelang kuliah setiap hari lagi.

Abah seperti biasa tidak mau naik taksi – beliau menjemput dengan sepeda motor tuanya. Mama dan adek sudah menunggu di rumah dengan hidangan pisang goreng, nasi uduk, dan sambal kesukaan. Nikmat sekali.

Saya tidur di sebelah mama – tubuhnya hangat. Sayang sekali, malam beranjak sangat cepat padahal saya tidak mau cepat-cepat turun dari kasur dan melepas pelukan beliau. Sudah lama sekali tidak dipeluk.

Hari-hari yang singkat tapi menyenangkan. Masih sempat mengajak abah jalan pagi dan sarapan lontong Medan, ketemu Osel yang baru pulih dari operasi tumornya, main badminton di halaman rumah, belanja oleh-oleh dan alat tulis murah meriah di Pasar Ramai, mengunjungi SD dan ketemu guru-guru. Rambut mereka sudah banyak yang beruban. Juga bisa nonton tivi yang puas. Sudah lama tidak nonton tivi.

Lalu bisa cerita dan ngobrol secara nyata. Tertawa. Melihat kucing-kucing yang mengerumuni kaki. Melihat adek tumbuh besar. Sekarang dia sudah bisa main gitar dan mahir banyak jenis olahraga. Apa yang saya tidak bisa, dia bisa.

Juga nonton Hunger Games di 21 Thamrin. Adek senang sekali. Saya juga senang. Tokoh Katniss sangat menakjubkan. Kuat. Suka!

Dan di hari Minggu sudah harus pulang. Kata Mama, harus banyak-banyak sabar, harus berjuang, dan jaga kesehatan. Apapun yang terjadi tidak sesuai harapan, pasti ada hikmahnya, Allah Maha Baik. Ini pertama kalinya saya diantar sampai ke anjungan lambaian tangan. Untuk masuk ke sana per orangnya dikutip 2000 rupiah. Ada adek kecil tetangga yang ikut menemani. Katanya mau lihat saya sampai pesawatnya terbang. Ah, gadis umur 4 tahun itu cantik dan cerdas sekali.

Padahal saya baik-baik saja. Tapi lagi-lagi saya nangis diam-diam di pesawat. Masih terbayang wajah abah, mama, adek. Juga sikap saya yang kadang menyebalkan, tapi mereka tetap sayang. Pelupuk mata penuh sekali. Saya mau menyalahkan efek hormonal saja.

3 comments:

Ririsuchan said...

they are a sources of all happyness and energy after Allah...
yes they are`

Azizah Ananda said...

jadi ikutan sedih bacanya..
Semangat kak ^^

@chabadres said...

@mbak lilis: yap, angels of the earth :)

@azizah: ini sedih yang membahagiakan, sayang :)