April 12, 2012

Tentang Dua Orang yang Hampir Berakhir

"Kapan terakhir kalinya kau menangis di telepon genggam?"

Aku menggeleng. Seperti ada yang tersangkut di kerongkongan. Seandainya saja kau tahu bahwa setiap panggilan darimu membuatku ingin menahan napas untuk memasang senyum palsu. Aku baik-baik saja, lalu kujawab begitu. Mencegah sesuatu yang penting jatuh dari kedua pelupuk mata. Bukan padamu, pada yang tidak menganggapku sepenting itu.

"Mungkin sepanjang waktu - saat aku merindukan Ibu"

Aku menjawab begitu. Lalu kau tertawa dan bergumam ya baguslah. Padahal kau tak tahu. Memang kau mau tahu, batinku.

"Kapan terakhir kalinya kau menangis di bawah hujan?"

Aku berpikir sejenak lalu menerawang. Tak pernah, jawabku.

"Bukankah saat itu... saat itu... kau menangis di sampingku?"

"Itu hanya bulir hujan. Jatuh di pipi. Cukup jelas bukan perbedaan antara tetes hujan dan air mata?" 
 

Aku berbohong lagi. Memang kau pernah marah jika aku tak mengaku?

Seharusnya kau mengerti bahwa hujan sangat handal berdansa dengan emosi. Aku menangis saat itu. Mungkin tangis yang terakhir yang perlu kau tahu. Ini tangis yang indah, aku pernah bilang begitu. Lihatlah, Tuhan sangat baik menghadiahkan penghuni bumi berliter-liter air segar, juga mengingatkanku untuk membawa payung pagi ini. Aku berceloteh panjang lebar saat itu. Juga berada di sisimu, tidakkah kau bahagia? Tapi kau diam saja. Ah, aku merasa sia-sia.

Kini tidak ada lagi percakapan yang menyenangkan. Apa kau pun merasa begitu? Hanya tunggu waktunya saja. Aku pernah memikirkan itu. Dan kini aku memikirkan itu lagi.

Hei, apa kau pun merasa begitu?

1 comment:

obat penyakit maag kronis alami said...

menarik buat dibaca...

salam kenal ya,,,