May 19, 2012

Kisah Listrik

Dimulai dari weekend yang damai.

Masih ada Iron Lady yang belum ditonton. Lalu saya menghidupkan laptop daaan... weekend tidak lagi damai. Tiba-tiba lampunya mati. Listrik satu kosan mati. Tapi rumah ibu kos yang di sebelah baik-baik saja. Hmmm, mungkin beda jaringan. Saya harap-harap cemas - semoga ini benar mati listrik seperti biasa.

Sudah hampir 4 jam. Tidak ada tanda-tanda. Petang menjelang. Semakin berkeringat dan mati gaya. Lalu ibu kos berinisiatif untuk memanggil petugas PLN.

"Kabelnya robek, faktor alam" kata pak petugas.

Dan selamat! Malam harinya saya bisa menonton Iron Lady yang tertunda.

***

Dilanjutkan dengan long weekend yang overrated.

Saya sampai di kosan menjelang magrib. Ternyata listrik sedang padam dan baru hidup beberapa menit setelah azan. Teman-teman yang lain sedang asyik berkemas untuk pulang. Lagi-lagi saya menghidupkan laptop, memasukkan colokan daaan... gelap! It happens again! Karena laptop saya, dua rumah listriknya mati!

Saya sangat shock - berharap ini mimpi, ini mimpi! Please, ini hanya mimpi! Pemilik kos berteriak-teriak. Sungguh saya sangat tidak suka teriakan. Saya sholat saja berharap keajaiban dan ketenangan. Petugas PLN datang lagi - katanya masih faktor alam, kabel tua, dan sebagainya. Saya diam saja di kamar. Mau menangis. Mau menelpon ayah. Seandainya dia di sini. Seandainya.

"Kalau abah punya sayap, pasti abah sudah kesana"

Oh daddy, it's too sweet!

Lalu saya diajarkan banyak hal - tentang regulator, tentang korsleting, tentang tegangan naik turun, tentang penggunaan daya listrik... Oh dad, I wish you were here. Oh seandainya dulu belajar fisikanya ga cuma teori.

Sampai saat ini saya tidak tahu apa yang salah. Saya tidak berani menghidupkan laptop sama sekali. Entah sampai kapan. Dan jadilah long weekend ini semakin biasa saja. Akhirnya saya membawa semua - mulai dari laptop, adaptor, sampai rol kabel ke rumah tante untuk diperiksa. Dan semua baik-baik saja.

Solusinya cuma satu: pindah!


*Postingan curi-curi - sebelum kembali menuju sepi*

No comments: