June 17, 2012

10 Hari

Saya ingat sekali masa 10 hari itu.

Saat itu teman-teman sekantor sudah akan berangkat ke lokasi sosialisasi untuk makan malam dan mempersiapkan segala sesuatu. Tiba-tiba ada pesan yang meminta saya dan atasan untuk stand by di ruangan karena ada hal yang harus segera diselesaikan. Dan, baiklah saya menyusul saja.

Sudah pukul setengah sembilan malam. Belum ada tanda-tanda bisa pulang. Lalu entah kenapa saya menghidupkan PC, membuka twitter, dan memeriksa Direct Message. Dan ada sebuah pesan. Pesan itu baru terkirim beberapa menit yang lalu.

Seperti ada yang tercekat di kerongkongan. Telapak tangan saya dingin. Rasanya saya bisa menangis. Itu kamu - yang saya tak tahu kabarnya untuk sekian lama. Yang saya kirimi pesan setiap hari. Walaupun saya tahu bahwa pesan itu tak mungkin terbaca.

"Bagaimana bisa?"

"Kamu sehat-sehat kan?"

Saya membalas dengan pertanyaan sepotong-sepotong. Kamu tak memberitahu. Tapi berjanji akan menelpon malam itu juga. Entah bagaimana caranya.

"Aku sehat"

"Kangen"

Dan entahlah - rasanya bahagia sekali. Saya mau lekas pulang. Pulang. Sekarang. Menerima suara itu.

Tak lama, saya dan beberapa yang tertinggal di ruangan diizinkan pulang. Sudah terlalu malam - dan saya tak jadi menyusul.

Saya cuma mau lekas pulang. Pulang. Sekarang. Menerima suara itu.

"Sehat-sehat ya kamu"

Dan dalam beberapa menit yang langka itu, entahlah - rasanya bahagia sekali.

No comments: