July 31, 2012

Such an Introvert

Gadis itu tidak banyak bicara. Dia penuh dengan rasa bersalah setiap hari. Kepalanya keroncongan dengan gagasan bahwa seharusnya aku tak begini dan begitu. Lalu dia cepat-cepat memijat dahinya bahwa ini akan baik-baik saja. Dia sembunyi di dalam kamarnya, mengambil beberapa buku untuk teman tidur atau menghidupkan laptop lagi untuk menulis dan menari-nari sebentar.

Gadis itu tidak banyak bicara. Dia pergi ke pertemuan itu bukan karena suka tapi karena janji. Lalu dia duduk rapi, mendengar dengan teliti. Baginya, memperhatikan itu jauh lebih penting daripada memberikan komentar semacam interupsi. Lagipula terkadang manusia datang karena dia butuh telinga dan hati, bukan solusi. Manusia kan pintar beradaptasi. Hanya butuh dukungan agar tidak sepi - agar tidak mati.

Gadis itu ternyata banyak bicara. Dia duduk berdampingan lalu bercerita apa saja. Aku tidak terbuka dalam kelompok besar, katanya. Aku lebih suka seperti ini, kelompok kecil yang memiliki arti. Dan membuatku berarti. Lalu, kebahagiaannya melambung sampai ke ubun-ubun.

Gadis itu ternyata banyak bicara. Dia penikmat sendiri tapi sang setia. Banyak sekali yang tinggal dalam lemari angan-anganku, katanya. Kau mau mendengar? Namun, orang itu tidak tertarik. Dia pun membisu. Bahkan lebih bisu dari seharusnya. Semacam sakit.


Gadis itu antara banyak dan tidak banyak bicara. Mungkin, di antaranya saja. Sayangnya, dia penuh dengan rasa bersalah setiap hari.

random pict from google

No comments: