July 2, 2012

Terima Kasih

Mulai dari pagi itu di rumah sakit, kamu tak henti mengawasiku dari dekat dan dari jauh. Mengingatkan untuk istirahat dan makan obat juga jangan masuk kantor dulu. Aku tak tahu bagaimana jika kamu tak datang waktu itu. Aku tak tahu.

Hari-hari cukup terasa sepi. Tapi cukup membuatku kuat. Juga tahu, bahwa siapa saja yang memang peduli. Dan menambah syukur bahwa nikmat sehat, nikmat bekerja, dan nikmat makan itu indah sekali. Tak sedikit-sedikit pusing atau tak merasa lapar. Lalu rindu, semacam rindu yang banyak.

Dan akhirnya sudah jadi berpindah kos. Tak terlalu luas memang, tapi cukup membuat tenang. Mulai dari sepagi itu, kamu sudah membantuku lagi. Aku melihatmu bersusah payah dan lelah. Lalu aku melihatmu meninggalkanku. Sedihnya membekas lama. Aku jadi tergantung. Lalu mengharu biru seharian.

Akhir-akhir ini pun banyak menangis. Malam itu tak bisa tidur. Aku menelpon ibu, kamu, ibu lagi, ibu lagi, sampai pulsaku tak tersisa. Masih belum puas. Tidak puas. Aku ingat kalau aku sudah punya kakak. Sore itu dia membuatkanku sup hangat. Aku mengganggunya lagi malam-malam itu dan masuk ke kamarnya. Menangis lagi tanpa tahu apa yang kutangisi. Aku hanya ingin dipeluk lalu tidur di sampingnya. Sampai bisa tertawa. Sampai aku tak sadar bahwa ternyata pagi sudah menjelang.

No comments: