August 16, 2012

Anak Abah :)

Kalau ditanya, siapa orang yang paling berpengaruh dalam hidup saya - orang itu adalah Abah :)

Tak henti-hentinya saya menulis tentang beliau. Beliau yang rutin membawa saya ke toko buku sejak kecil, membelikan beberapa buku saku yang saat itu harganya masih lima ratus rupiah, piknik membawa tikar dan bekal ke Taman Ria atau kebun binatang, mengajak saya menonton film animasi dan keluarga terbaru mulai dari Home Alone, Lion King sampai Harry Potter, bersepeda dari rumah ke rumah memenuhi panggilan memperbaiki televisi atau radio pelanggan, dan pulangnya membeli susu, makanan enak, atau buah-buahan agar saya tak sakit-sakitan.

Abah selalu mengajarkan untuk bekerja keras - tak boleh meminta dan hidup harus berjuang. Jika saat ini pernah miskin, maka tak boleh lagi di hari kemudian. Anak-anak harus sekolah, harus rajin belajar - karena pendidikan adalah jalan untuk mengubah nasib dan sejarah kemiskinan. Tak apa bersusah payah bekerja seharian, yang penting nutrisi keluarga tak kekurangan. Tak apa jarang membeli pakaian, baju yang sama - cuci pakai setiap hari, yang penting anak-anak pakai baju yang sepadan. Tak apa bersakit-sakit membangun kehidupan, asalkan tak hidup dari belas kasihan orang.

Kini usia Abah sudah lebih dari setengah abad dan rambutnya sudah beruban hampir keseluruhan. Tatapannya masih hangat. Tubuhnya masih sehat. Ibadahnya taat. Hasil kerjanya masih cermat. Kata-katanya semakin bijak, "Jangan menyerah, Allah akan menjawab doamu" "Abah doakan pasti nanti kamu bisa kesana"

Wajahnya selalu berseri-seri saat aku pulang, diantar kemana-mana - bahkan libur bekerja hanya untuk bisa bercerita dan menikmati waktu bersama. Abah tak banyak bicara - jika kebetulan saya menelpon dan beliau yang mengangkat maka beliau hanya menanyakan pertanyaan yang berulang-ulang. "Sehat-sehat kan?" "Bagaimana di kantor?". Dan saya bercerita panjang lebar, lagi dan lagi - beliau mendengarkan dengan seksama. Ah, menyenangkan sekali.

Saya tak pernah siap membayangkan betapa luar biasa haru yang harus beliau tahan jika saat itu datang - bukan karena tak restu tapi karena kesepian seperti membiarkan hati lepas sebagian. Ada begitu banyak kekhawatiran. Tidak ada ayah yang ingin anak perempuannya disia-siakan, sebagaimana mereka telah mendidik dan membesarkan dengan begitu banyak kasih sayang, kehormatan, dan penghargaan.

Tapi di balik semua itu, ada begitu banyak doa, harapan, dan nasihat yang tak lekang oleh zaman. 

Abah, engkau lelaki hebat. Selalu, please have long life for me, for us. There are too many things that I haven't done for you.

:')

2 comments:

Tanaya said...

satu lagi tulisan yang membuat aku terharu icha... Abah kamu sepertinya memang orang yang hebat. Father figure seutuhnya",

Aku doakan semoga beliau panjang umur, semoga anaknya terus bisa membanggakannya, dan semoga Allah selalu memberinya kebahagiaan sejati.

@chabadres said...

Hehe kalau ingat abah sering terharu :)

terima kasih naya. Smoga doanya diijabah Allah dan kembali teruntuk ayah naya juga :)

Amiiin.