October 5, 2012

Abah ❤

"Icha katanya jatuh ya?" tanya Abah saat menjawab telponku sambil mencuri-curi waktu selepas sholat Ashar. Sinyal di ruanganku tidak terlalu jelas sehingga aku selalu berpindah ke toilet untuk menemukan ruangan yang tenang dan pemandangan lalu lalang kendaraan dari jendela yang kacanya selalu dikenai kehangatan cahaya pantulan.

Tidak biasanya Abah bicara banyak. Tapi saat itu Mama dan adik sedang tidak ada di rumah, dan sore itu hujan deras. Beliau sendirian. Maka kami pun mengobrol ringan selama beberapa menit untuk mencerahkan suasana hatinya dari sepi dan  bosan.

"Icha tidak apa-apa, Abah. Hanya sedikit terhuyung-huyung"

"Abah kepikiran..."

Padahal aku tidak apa-apa tapi beliau terdengar sangat khawatir.

"Sungguh, tidak apa-apa, Abah" jawabku berulang kali untuk menegaskan bahwa hal itu adalah biasa dan aku baik-baik saja.

"Keseleo ya? Ada yang luka? Jangan dibiarkan, nanti berbahaya. Icha darah rendah ya? Suka males makan sih. Coba makan yang bisa tambah darah. Madunya diminum?" Abah menghujaniku dengan pertanyaan. Pertanyaan yang dibanjiri kasih sayang.

"Iya Abah, sudah tidak males makan lagi". Aku mencari bahan pembicaraan yang lain agar Abah tidak terus-terusan mengkhawatirkanku. "Sepertinya kita sama-sama sedang bermasalah dengan kaki ya, Abah bagaimana? Sudah semakin sehat?"

"Iyaa cuma sering nyut-nyutan, mungkin besok mau diobati lagi"

"Abah juga sehat-sehat ya"

"Icha juga semoga lancar ya nak kerjaannya, kuliahnya. Jangan sedih-sedih"

Dan air mataku menetes tanpa sadar saat itu juga. Abah, aku mau memelukmu dari sini...

*** 

Tak henti-hentinya aku menulis tentang beliau. Abah adalah figure favoritku. Dan menjadi gadis kecilnya adalah anugerah terindah yang pernah dihadiahkan oleh Tuhan Yang Maha Pemurah.

Woman - when she is a daughter, she opens jannah for his father. Hope I can be that way, Abah

No comments: