October 5, 2012

Sejak Saat Itu

Minggu ketiga saat semuanya bermula. Aku masih mengingat jelas bagaimana darah mengalir dengan deras ke kepala. Aku masih tidak percaya bahwa ini nyata - bahwa aku akan pergi dengan kamu yang saat itu belum aku kenal dengan benar. Tapi entah mengapa aku menjadi berani, aku mematahkan semua ketakutanku dan peringatan-peringatan yang datang dari berbagai penjuru. Mungkin ini semacam untuk pertama kalinya aku yakin dengan pilihanku.

Aku tak punya banyak baju. Tapi aku tetap harus memenuhi janji. Aku berpikir bahwa tiket emas ini terlalu sulit untuk kuperoleh lagi. Aku bergonta-ganti pakaian selama beberapa kali agar tak terlihat aneh dan rendah diri. Tetap saja aku merasa aneh dan kembali pada baju yang itu-itu lagi, rok kembang bunga-bunga, atasan hitam, dan jilbab berwarna ungu. Saat itu aku belum gajian, aku tak punya sepatu layak untuk hari itu.

Memakai rok membuatku harus duduk menyamping beberapa lama, ini menyiksa, tapi aku takut untuk berpegangan - lebih dari ketakutanku untuk jatuh karena hilang keseimbangan. Lalu kita sampai di mall itu, cukup mewah menurutku. Maklum aku tak tahu banyak tempat dan jarang kemana-mana. Kita makan siang dan duduk berjauh-jauhan membicarakan hal-hal yang biasa. Aku tak merasa lapar. Aku masih tidak berani menghadap ke arahmu dan menatap langsung ke matamu. Aku masih tidak percaya bahwa pada akhirnya aku memilih kamu, bersama kamu.

Aku masih tetap bertanya dengan keyakinanku, dan jawaban yang terlontar dari kamu itulah yang sebenarnya aku tunggu-tunggu. Seolah semacam tepukan yang membuatku percaya diri dan belajar menyayangi diriku sendiri. Aku banyak berubah seterusnya hingga saat ini. Kamu memperlakukanku dengan sangat baik. Dan ini semacam sebuah anugerah. Anugerah terindah yang tak henti-hentinya aku syukuri.

Petang itu hujan gerimis dan aku meminta pulang sebelum gelap. Aku tersenyum penuh kelegaan dan rasa takut itu hilang. Tanda tanya yang memenuhi otak kiri mulai lenyap dan otak kanan bekerja mencipta kebahagiaan. Sayangnya, aku menjadi terbiasa mengutuki waktu dan menangisi rindu.


Aku masih ingin bertemu kamu lagi, setiap hari, sejak saat itu.

Image taken from here.

2 comments:

Ninda said...

hehehehhe euforia kencan pertamaa

@chabadres said...

hihi iyaaa :)))