October 5, 2012

Sepercik Kisah Dari Jalanan #5: Manusia

Akhir-akhir ini saya jarang bercerita tentang kisah pulang. Mungkin karena sudah lama tidak naik angkutan umum lagi dan kos-kosan bisa dicapai dengan berjalan kaki, dekat sekali. Hal-hal yang saya lihat pun semakin sedikit seperti para pejalan kaki yang berpacu dengan pengendara motor yang curi-curi menerobos lampu merah, Pak Polisi yang betah berdiri diserbu sahut-sahutan klakson dan asap knalpot dengan tangan yang terus membentuk gerakan konstan, atau para supir angkot, bajaj, dan ojek yang rebutan mencari makan memenuhi bahu jalan saling mendahului menyerbu calon penumpang. Semua ingin bergegas memenuhi urusan, menghindari kemacetan, bertemu anak, isteri, atau pasangan, dan istirahat dengan nyaman.

Metro mini 47 yang sehari-hari membawa saya dari kantor ke kampus selalu membawa cerita. Metro mini ini dibenci sekaligus dipuja. Dibenci karena asap yang mengepul luar biasa pekatnya dan kondisinya yang sudah menua. Tapi juga dipuja karena memang dibutuhkan banyak orang, karena ketangguhan supirnya dalam ambil haluan belok kiri dan kanan, lihai cari kesempatan tapi selalu nyaris menyerempet kendaraan yang lain, dan punya cara untuk kabur dari kemacetan dengan seolah melompat ke jalur busway sehingga penumpang di dalam harus tahan dengan guncangan-guncangan semacam berada di dalam roller coaster. Penumpangnya juga harus punya nyali terutama jika ada perokok yang tidak tahu tempat dan tidak keren sama sekali mengotori oksigen yang pas-pasan dengan hembusan sisa tembakaunya yang mencemari kulit wajahnya sendiri, atau saat berhenti - entah diturunkan di tengah-tengah jalan raya atau kaki baru turun satu eh pak supirnya sudah tega melaju pergi. LOL.

Pemandangan di seputaran stasiun Senen selalu menarik perhatian saya. Dari jendela metro mini bisa kau lihat berbagai macam manusia. Orang-orang dengan wajah lelah selepas kerja, pengemis dan pengamen yang siap tampil dengan bermacam aksinya, toilet umum berbau dan sampah yang menyeruak, gadis-gadis belasan dengan puntung rokok di mulutnya, remaja-remaja baru tumbuh dengan poni lempar nongkrong di trotoar, bocah kecil yang tersenyum puas menghitung lembaran-lembaran dari hasil copetan, penjaja gorengan dengan minyak bercampur plastik panas, dan orang-orang dengan berbagai jenis dagangan mulai dari handphone, aksesori, baju, minuman, sepatu - membuka kios dan mengambil posisi - memenuhi sampai badan jalan.

Semua motifnya sama, pada dasarnya kita semua sama, sama-sama cari makan. Sama-sama cari kesempatan bertahan di metropolitan.

Percikan lainnya: 1 2 3 4

2 comments:

Latifa_Sulistiaji said...

Kangen 47, kangen ngejar-ngejar 47 yang sering extrim pas naikin penumpang, ngebutnya, pengamennya, tukang copetnya..
Metromini 47 memang super!!:D

Kangen kamu juga, chaaa...

miss u..

@chabadres said...

mbaaak aku juga kangen, sekarang ga pernah menjelajah makanan di wahidin lagi :(

aaaahhh stress juga ya mbak naik metro mini 47. Ngebutnya gilaaaa