November 20, 2012

Kabur dari Jakarta

Sabtu, 17 November 2012.

So, this is our first successful trip as a couple.

Uhyeah! Dengan rencana yang impulsif untuk mengisi long weekend dan pertimbangan transportasi, akomodasi, dan destinasi wisata yang oke, akhirnya dipilihlah kota Bandung.

Perjalanan dimulai dengan kereta dari Gambir ke stasiun Bandung. Saya sangat menyukai perjalanan dengan kereta Argo Parahyangan di pagi hari karena pemandangannya sangat menakjubkan dengan nuansa hijau, pepohonan, pematang sawah, dan sesekali sang kereta melaju lebih lambat saat melewati jurang dan lembah di kiri kanan. Aaah, senang sekali. Sudah lama tidak menikmati atmosfer hijau dan menenangkan seperti ini. Dan yang pasti bebas macet!

Pada awalnya, saya sangat ingin mampir ke Ciwidey. Sayangnya, hujan deras mengharuskan rencana tersebut dibatalkan. Alhamdulillah ada skenario yang lebih baik dan Allah melindungi kami. Hujan tersebut ternyata menyebabkan longsor di jalan arah Bandung menuju Ciwidey :(

Tapi saya tetap ingin menghabiskan liburan dengan petualangan dan menghiruuup udara segar, akhirnya dipilihlah lokasi Taman Hutan Raya Bandung Ir H. Djuanda di lokasi Dago Pakar sebagai destinasi berikutnya. Thanks to Raisha karena gadis ini rajin sekali mendokumentasikan kisah-kisah perjalanannya di blog secara detail. Setelah mampir ke blognya, jadi tahu deh bahwa ada lokasi sebagus itu di Bandung :D

Perjalanan menuju Tahura ditempuh dari angkot ke angkot (dengan mengandalkan tanya sana-sini dan bantuan Apple Map), kemudian dilanjutkan dengan ojek - iyeeeiii jalanan mendaki dan udara dingin menyentuh kulit pun mulai terasa. Aaah, menyenangkan sekali! Banyak pula yang bersepeda menempuh jalur ini.

Tiket yang harus dibayar di gerbang utama Tahura adalah Rp 8000,- per orang dengan rincian Rp 7500,- harga tiket masuk dan Rp 500,- untuk asuransi. Harga yang sangat murah untuk menikmati suasana sangat indah seperti itu. I'm so excited. I can't stop to walk, run, and say "subhanallah". Kondisi hutan sangat dijaga kebersihannya, dan di beberapa titik ada warga yang menawarkan jasa berkuda, jasa ojek menuju air terjun Curug Lalay, dan juga pedagang jagung bakar dan minuman hangat. Nikmat sekali!


Di lokasi ini, ada dua buah gua yang terkenal yakni Gua Belanda dan Gua Jepang. Kedua gua ini dulu berfungsi sebagai tempat penyimpanan senjata, alat komunikasi seperti transmisi radio, dan penjara warga pribumi. Dua gua ini dibangun dengan tangan oleh para pekerja rodi dan romusha saat itu. Masya Allah.

Saya pun ingin masuk ke Gua Belanda, dan di depan gua sudah ada orang-orang yang menawarkan jasa penyewaan senter seharga Rp 3000,- dan juga guide selama di gua dengan bayaran sukarela. Hufff, Gua Belanda sangat gelap dan jalanan yang berputar-putar seperti labirin menjadikan gua ini menyeramkan. Maka kami memilih ditemani guide dan saya berpesan, "Pak, jangan cerita yang serem-serem yaa". Ahaha, payah!

Di Gua Jepang saya sempat berfoto-foto saja, hoho (kabarnya gua ini jauh lebih seram dari Gua Belanda sebelumnya wakakak). Dan masih banyak sekali tempat-tempat menarik lainnya yang cantik untuk diabadikan. Ah, suatu saat saya harus mengajak adek kesini. He must love this place!


Kami memilih pulang mendahului arus balik dengan menggunakan bis Primajasa selama 2,5 jam. Jalanan masih lancar tapi eh tapi ternyata perjalanan dari terminal Lebak Bulus menuju Wahidin Raya menyaingi perjalanan pulang dari Bandung, yakni 2 jam! Hedeeeh.

Selanjutnya, secara impulsif lagi, kami memutuskan untuk nonton Breaking Dawn Part II saat itu juga. Setelah sholat magrib di mesjid kantor dan masih dalam keadaan kucel, kami langsung menuju Metropole. Luarrr biasa, film tersebut diputar di tiga studio daaan tetap saja kehabisan tiket ahaha kami lupa kalau itu Sabtu malam, pengunjung rameee luarrr biasa.

Namun syukurlah, dua orang kelaparan ini langsung berbahagia setelah menyantap Nasi Langgi dan Nasi Pecel dengan es puding dan es shanghai di Pondok Es Cendol Metropole sebagai ganti tidak sempat menikmati nasi timbel di Bandung. Subhanallah, makan dalam keadaan sangat lapar itu luar biasa nikmatnya. Tapi sudah tidak romantis sama sekali ahaha. Lapar!

Alhamdulillah, so much fun. My mood and my energy are full-tanked. This is one of the best weeks ever in 2012. And I love him for a thousand moooreee ~

 Hey, it's been two years. One step closer :)

3 comments:

Raisha Nurul Ichsanti said...

hwaaaah.. kaka makasih ya :)
seneng deh kl berguna hehehe

efenerr said...

great journey dek.
kalo mau sedikit adventure, dari Tahura bisa tembus ke Maribaya..trekking,tapi sedap pemandangannya. :)

@chabadres said...

@raisha: berguna banget. thanks raisha :)

@kak ef: hehe iyaa karena waktunya terbatas jadi ga sempat ke Maribaya :(