February 5, 2013

Saat Aku Menjadi Buta

Dulu, aku ditemukan seorang wanita baik hati saat sedang tertidur kedinginan di dalam sebuah pot kosong tanpa tanaman. Mama meninggalkanku, aku tidak tahu pastinya, maka aku lebih senang jika menggunakan kata tersesat. Aku tersesat dari Mama.

Wanita yang memungutku itu, dia punya bau yang khas, seperti ada unsur beraroma kami yang menjadikannya terkesan ramah dan mengundang kami mau mendekat. Ada beberapa orang yang punya karakteristik semacam ini. Kabar baiknya, dia memang sangat ramah.

Aku dibesarkan di rumah itu, makan tiga kali sehari, dan bebas tidur dimana saja. Aku juga rutin diberi susu, maka jadilah aku sehat dan lincah. Aku suka bermain tapi Ibu tak pernah membolehkanku keluar rumah. Berbahaya, katanya. Ya sudah, aku menurut saja.

Aku menyesal karena pernah tidak mematuhinya. Aku beranjak dewasa dan mulai suka cari pacar keluyuran. Saat itu hujan, dan sebuah mobil melaju kencang ke arahku. Tubuhku yang didominasi corak hitam membuatku tak kelihatan. Terlebih saat itu listrik sedang padam. Aku terpelanting jauh hingga ke seberang jalan. Sakit sekali. Punya tujuh nyawa pun tak ada gunanya jika sesakit ini. Leherku tak bisa digerakkan, sebagian wajahku rusak, mata kananku tak bisa berfungsi, dan kakiku terluka hebat. Tapi aku teringat Ibu, Ibu pasti mencari-cari aku. Ibu akan menolongku. Aku harus pulang.

Instingku yang kuat membawaku kembali menemukan jalan pulang. Aku berteduh di bawah pohon mangga yang sangat rimbun tertanam di halaman sambil menjilati kakiku. Ah, sakit sekali. Aku meringis, meraung-raung. Ibu, tolong aku. Ibu.

Ibu mendengarku. Dia tergopoh-gopoh membawa senter lalu mengangkatku dengan hati-hati ke dalam rumah. Aku menangis terus, sakit sekali, Ibu. Ibu kebingungan, dia mengambil kain lalu mengelap tubuhku yang basah kuyup. Dia menyeka lukaku dan memaksaku menelan cairan yang luar biasa pahitnya. Sepertinya dia menangis. Aku meraung-raung lagi. Ibu, jangan menangis. Aku takut, Ibu. Ini sakit sekali.

Aku berdiam diri di dapur selama tiga hari berturut-turut. Aku tidak enak makan. Kata Ibu, aku sudah bau bangkai. Dia menangis terus seperti berusaha merelakan aku. Dia terus menyeka lukaku dan menyuapi susu. Aku pun tetap terus berusaha hidup dan mengobati diriku sendiri dengan air liurku yang dianugerahi Tuhan ini.

Berangsur-angsur aku sembuh. Aku ingin bilang pada Ibu bahwa aku sudah sembuh. Aku meraung-raung memanggil-manggil dia, Ibu mana Ibu? Saat itu aku tak sadar bahwa bola mataku telah menggelinding jatuh ke luar. Ibu hampir terpeleset menginjak organ yang tidak menjadi milikku lagi itu. Dia terkejut lalu memelukku, menggendongku. Dia merayakan kesembuhanku. Aku sembuh walau dengan leher yang masih miring dan mata yang tak berfungsi sempurna. Ibu tetap menyayangiku walau kini aku menjadi buta.

Kini sudah hampir sepuluh tahun aku tinggal bersamanya. Aku kian menjadi tua, kadang aku suka berbuat semaunya, tapi dia tetap bersabar dengan keberadaanku. Ibu adalah penyelamatku. Melalui tangannya, Tuhan telah menyematkan beberapa nyawaku. Dan kasih sayangnya cukuplah menjadi pengganti mata kananku yang kini telah buta itu.

No comments: