October 19, 2013

Pelesir (?)

Berdasarkan KBBI, definisi pelesir yang pertama adalah bersenang-senang atau mencari kesenangan. Artinya, pelesir bagi tiap orang bisa berbeda-beda, tidak harus selalu identik dengan berjalan-jalan. Karena tidak semua orang punya budget dan waktu yang mencukupi untuk itu. Sebagai contoh, pelesir bagi saya adalah dengan membaca buku atau bersantai di kamar tidak diganggu oleh rapat di akhir pekan. Bukankah itu sebuah bentuk bersenang-senang juga?

Semacam kontemplasi. Kata teman saya, lebih baik tuangkan semrawut dalam kepalamu dengan menulis saja. Sebagai mahasiswa juga harusnya lebih banyak waktu untuk menulis. Yah, kritik yang bagus teman! Atau kerja paruh waktu? Cari kesibukan di luar selain organisasi melulu pasti lebih menyenangkan :)

Lalu saya berpikir, ada baiknya juga untuk pelesir dengan bepergian ke suatu tempat. Tapi bukanlah sindrom pergi ke luar negeri dan menyerbu tiket murah yang terjadi akhir-akhir ini. Sepertinya belum waktunya. Pelesir kali ini dipersembahkan dalam rangka 'kondangan', kabur, dan menemukan diri sendiri. Maafkan saja, bukan orang yang karena kepentingan tertentu bisa konsisten melakukan hal yang tak disuka. Pasti tersiksa.

Memang benar ternyata bepergian bisa membantu menemukan diri sendiri, belajar toleransi, syukur, juga makna sebuah perjalanan. Bukan hanya foto-foto atau sekedar cari eksistensi. Saya selalu kagum dengan kak Hanny yang banyak melakukan perjalanan dari negara ke negara lalu menemukan sesuatu dan belajar banyak hal tentang jiwa dan persahabatan. Indah sekali. Selain itu, selalu ada note book atau buku catatan di tasnya. Dia menulis di sela-sela perjalanannya dengan tangannya. Ah, indah sekali :)

Di bulan Oktober ini ada banyak teman yang menikah, tapi hanya bisa hadir dua di antaranya, yakni Lia Putri di Cirebon dan kakak kesayangan Nur Halimah di Kebumen. Satu persatu sudah memasuki tahap kehidupan yang baru. Things change, priority changes.

Saya juga berkunjung ke Yogyakarta dan Semarang. Bertemu nenek dan keluarga ah menyenangkan sekali. Sudah lama tak pernah sesenang ini. Bisa menikmati Idul Adha di samping nenek, jadi teman tidur nenek selama beberapa hari, dan dengan senang hati makan tanpa merasa berat badan bertambah. Pada saat kepulangan dia sangat sibuk dan membawakan saya nasi agar tidak kelaparan. Ah tak pernah sanggup dengan hal-hal melankolis semacam ini.


Sepedaan di Simpang Lima 

Di bulan ini, saya juga menamatkan novel Norwegian Wood. Mungkin, ini adalah novel yang tidak akan saya baca lagi dalam waktu dekat.

No comments: