October 7, 2013

Sebuah Opini: Membaca Perempuan

Membaca adalah salah satu cara yang paling juara untuk mencegah laci pikiran berdebu dan sudut pandang menyempit. Memberanikan diri untuk membaca berbagai genre akan membuat kita lebih bijaksana untuk melihat segala fenomena, juga tidak melulu merasa paling benar, dan membuka mata bahwa inilah yang pernah terjadi di masa lalu, di negara seberang, atau masuk ke dalam kehidupan orang lain dan merasakan transformasi menjadi dirinya.

Tapi tetaplah, dalam menjalani apapun termasuk membaca, kita semua butuh pijakan sehingga tidak membuat kita terbang ketinggian tergiring oleh opini si penulis atau tak tersadarkan secara batin yang masih melekat dahsyat dengan fantasi dan tokoh yang digulirkan oleh penulis.

Sudah cukup lama tergelitik untuk mengambil benang merah baik dari peran dan tema perempuan dari novel yang pernah saya baca. Tentu saja bukan sebagai kritikus fiksi, bukan pula sebagai pemerhati sastra yang cukup ilmunya - tapi murni dari sisi pembaca, sebagai perempuan :)

Tema perempuan seringkali erat kaitannya dengan isu sentral gender seperti feminisme, ketidakberdayaan, prostitusi, eksploitasi, dan objek seksualitas. Membaca fakta-fakta yang dijabarkan ini sangat menyedihkan dan menyakitkan, sebagai perempuan ikut merasa tidak aman dan yah memang begitulah yang terjadi di berbagai dunia, tak kenal era, bahkan di era modern sekarang sekalipun. Nilai perempuan semata diukur dari kemolekan tubuhnya seakan hanya itu yang dapat dia tawarkan dalam hidup. Tak sedikit pula yang menerima dengan senang hati peran itu. Namun di balik 'rendahnya' posisi perempuan dalam fiksi-fiksi tersebut selalu ada benang merah yang bisa ditarik, bahwa pada akhirnya sang tokoh mempunyai kekuatan untuk bangkit.

Sebut saja beberapa novel di antaranya kasus Lolita complex dalam novel Lolita oleh Vladimir Nabokov, kisah Sultana dalam The Princess yang berlatar negara Arab Saudi, kisah prostitusi dan perdagangan anak di Kamboja dalam The Road of Lost Innocence oleh Somaly Mam, peran Diva dalam KPBJ, atau peran Nyai Ontosoroh dalam tetralogi Pram - salah satu tokoh fiksi idola saya. Bahwa isu gender dan eksploitasi menjadi titik sentral, dimana penderitaan, kehilangan diri, dan kedukaan itu mendorong mereka untuk lari dan berjuang dari ketiadaannya. Sebagai pembaca, saya selalu ikut merasa pedih mengetahui bahwa inilah yang terjadi pada perempuan, hal itu terjadi secara global. Bahkan di dalam fiksi sekalipun perempuan terlalu sering mendapat tempat demikian.

Mungkin tak lain dan tak bukan, peran yang dijabarkan itu menjadi sebuah pembelajaran atau juga cambukan atau malah sekedar hiburan?

Selain novel-novel di atas, saya juga pernah mencoba membaca novel karya dua penulis idealis feminis seperti Ayu Utami dan Djenar Maesa Ayu yang banyak mengangkat isu-isu kontroversial yang tabu seperti kemerdekaan seksual - atau populer dengan istilah sastrawangi. Jujur saja, saya pernah mencoba membaca Nayla atau Mereka Bilang Saya Monyet dan beberapa review tentang Saman, dan hanya sanggup berpindah pada beberapa halaman depan... karena pedih. Tak sanggup. Seperti bertolak dari hal-hal yang menjadi nalar saya sebagai perempuan dan ini bukan pijakan saya.

Mengapa novelis feminis bahkan menjadikan perempuan sebagai objek seksualitas yang menjadi generator dalam karyanya? Atau saya yang kurang ilmu lalu salah mengerti?

2 comments:

k said...

why? the ugly truth is one of substances to develop stories.

@chabadres said...

It's just everybody's reason then ;)