October 31, 2013

My Own Therapy: Professional Judgment

Jika saya sedang banyak menulis, atau memilih menulis dalam 'bahasa' berarti tulisan ini dipersembahkan dalam rangka terapi. Pikiran saya memang sering mengawang-awang, dan saat tak mungkin menemukan telinga setia yang bisa mendengar, maka blog ini pun jadi korban :)

Let me explain, di usia saya yang sudah menjelang 24, saya malu karena masih saja sering mengawang-awang. Ketika teman-teman yang lain sudah menghasilkan karya yang matang, tulisan yang bijak, or steps ahead,  post about marriage, pregnancy or raising a baby, i'm still busy thinking about random things... so readers, mohon pemaklumannya yah :(

Saya suka 'membaca' orang lain. It means, saya suka memperhatikan kepribadian orang lain dan belajar mengerti. Saat diam saya senang memperhatikan lalu lalang. Saya suka bertanya pada diri sendiri "kenapa ini" dan "kenapa itu". Saya juga suka mengingat, pencemburu, keras kepala, moody, susah move on, dan pecinta kenangan. Penyuka hal detil, obsessive compulsive pada detil, as a prove, saya menggambar pohon apel dengan detil daun-daun kecil memenuhi seluruh rantingnya saat psikotes. Sometimes being like that is good, but sometimes it makes you overthinking and left behind...

Satu hal yang saya yakini adalah: treat people as the way you want to be treated. Terdengar klise, klise sekali, especially living in this skeptical era. But here the things, contohnya, saat presentasi saya ingin didengarkan, maka saya pun harus mendengarkan dengan antusias. Saya ingin diberi excuse, maka saya pun harus memahami excuse orang lain. Saat susah, saya pasti butuh bantuan orang, saya juga harus membantu. Saya tidak ingin disakiti pasangan saya, maka saya pun tidak akan menyakiti dia. Istilahnya berempati, salah satu nilai tertinggi setelah kejujuran dan respect menurut saya.

And whatever people do to you, or treat differently in your back, or hate you with no clear reason, it's not your business, it's theirs. Setiap orang dibesarkan dengan nilai yang berbeda-beda, dan kita memang tidak bisa mengubah orang lain. Like Maya Angelou said, “If you don't like something, change it. If you can't change it, change your attitude. Don't complain.”

How about the title in this post? Lagi suka sama frase itu. Bahkan auditor, akuntan, dan hakim juga punya professional judgement yang berbeda-beda. And what i believe is i try not to judge people though sometimes i need it not to mark others but to make sure what really fits me or not.

Dan berusahalah untuk selalu punya tempat yang disebut rumah. Ketika hal-hal membuatmu kecewa, hatimu selalu punya tempat kembali dan menemukan kebahagiaanmu sendiri. Juga agar tidak berharap selain kepada-Nya ♥

3 comments:

^^ said...

lol... i used to be like that... but many dissapointment led me be a mirror of what they think of, if they think im good, i'll be good, if they think i'm bad, i'll be bad to them..

hope u don't go to that path ^^

btw, love the line "if u don't like something,..."

i'd prefer "if i don't like something, i'll change it. if i can't change it, i won't change my attitude, i'll just make another d*mn movie. Coz i'm a director.... of my own world" :d

@chabadres said...

Told you, my writings are my therapy. I hope I can be that way, but sometimes I'm still not wise enough :(

K said...

we r what we think we r, so we shouldn't think negative about ourself.. we've all made mistakes.. that's the only way we become more wisely... ^^

http://www.youtube.com/watch?v=Qm9d5wAXW5c