January 10, 2014

Fenomena Bitcoin

Jadi postingan ini dibuat dalam edisi BARU TAUUU haha *norak* yang terinspirasi setelah oom saya menanyakan hal begini,

"Icha pernah dengar cryptocurrency atau bitcoin?"

"Haa, apa tuh oom?"

Oom saya lalu menjelaskan dengan semangat. Sepertinya beliau punya ketertarikan yang besar dengan fenomena ini. Jadi, apa itu sebenarnya bitcoin?

***

Kira-kira begini.

Bitcoin merupakan mata uang yang terdapat di dunia maya yang menggunakan konsep kriptografi. Kriptografi adalah ilmu yang mempelajari teknik-teknik matematika yang berhubungan dengan aspek kerahasiaan dan keamanan dari informasi. Sehingga, tidak seperti alat transaksi lainnya yang berhubungan dengan bank seperti kartu kredit yang rentan terhadap risiko pencurian yang marak terjadi di dunia online. 

Logo Bitcoin

Mata uang digital yang dibuat oleh Satoshi Nakamoto pada tahun 2009 ini memang mulai mencuri perhatian dunia. Semakin banyak orang yang menggunakannya untuk bertransaksi. Untuk mendapatkan bitcoin, kita bisa membelinya melalui trader atau miner - sebuah istilah yang sama dengan analogi penambangan emas. Bahkan terdapat software khusus untuk menambang atau mencari bitcoin lho. Software tersebut akan terhubung dengan server khusus yang berpotensi sebagai tambang penghasil bitcoin. Dengan modal software gratis yang disebut bitcoin miner dan hardware komputer yang cukup canggih, maka setiap orang dapat ikut berpartisipasi.

Jumlah bitcoin disesuaikan dengan jaringan peer-to-peer sehingga bitcoin yang beredar dapat selalu diprediksi. Sistem ini menjadi handal karena jumlah bitcoin di keseluruhan sistem harus selalu dipertanggungjawabkan. Komputer para pengguna yang memantau dan mengesahkan transaksi terus mengawasi dengan mendapatkan imbalan bitcoin baru, sehingga jumlah bitcoin yang beredar selalu bertambah. Setiap menit saat ini kira-kira ada 25,5 bitcoin baru yang masuk ke dalam perekonomian dan diberikan secara acak kepada pengguna yang berkontribusi menambah kapasitas komputernya atau berhasil memecahkan blockchain (bitcoin database). Hadiah yang diberikan untuk 1 blockchain awalnya ada 50 BTC (satuan mata uang bitcoin), sekarang 25 BTC, selanjutnya akan terus berkurang diiringi dengan bertambahnya sirkulasi bitcoin. Sistem telah memastikan bahwa maksimal bitcoin yang beredar di dunia adalah 21 Juta BTC sehingga dipastikan tidak akan terdevaluasi.

Bitcoin secara langsung digunakan antar pengguna melalui internet tanpa perantara, yakni tanpa melalui perbankan atau sistem kliring, sehingga dapat menghemat biaya transaksi. Informasi kepemilikan bitcoin disebut wallet, yaitu berupa kode tertentu yang bisa disimpan di berbagai media baik itu komputer, flashdisk, maupun handphone. Setiap wallet memiliki nama atau alamat yang disebut dengan bitcoin address. Alamat ini berupa deretan huruf alpha numerik sepanjang 34 karakter. Wallet atau dompet digital ini mirip seperti internet banking. Ketika bitcoin akan dikirimkan, sebuah tanda tangan elektronik akan dibubuhkan. Dalam beberapa menit, transaksi akan diverifikasi oleh para miner. Transaksi adalah permanen, anonim, dan tersimpan dalam jaringan global.

Bitcoin memiliki kelebihan utama, yaitu menggunakan kurs global yang berarti tidak dimiliki oleh negara manapun sehingga mudah digunakan di negara manapun tanpa dipengaruhi oleh kurs mata uang suatu negara. Wallet tidak dapat dibekukan, transaksi tanpa syarat, dan tidak ada batasan transaksi atau transfer sebagaimana yang lazim ditemui pada sistem perbankan. Namun bitcoin juga masih memiliki kelemahan, pengguna tidak akan mendapatkan bunga seperti yang biasa ditawarkan bank. Karena bitcoin adalah uang tunai digital yang disimpan pemiliknya sendiri, sehingga dianalogikan sama halnya dengan menyimpan uang di dalam dompet.

Sistem transaksi bitcoin sebagai mata uang digital pertama yang tidak terpusat (desentralisasi) sangat menguntungkan sekaligus membahayakan. Tidak adanya pemerintah dan perbankan yang mengatur menimbulkan risiko terhadap fluktuasi nilai tukar bitcoin di dunia maya. Sebagai contoh, pada saat awal dikembangkan, nilai tukar  bitcoin sangat kecil. Bahkan seseorang pernah bertransaksi hanya untuk membeli pizza dengan harga 10.000 BTC. Bandingkan dengan nilainya saat ini. Untuk tahun 2013 saja, 1 BTC diperjualbelikan dengan harga kisaran 13 USD pada bulan Januari. Sedangkan pada bulan Desember 2013, 1 BTC diapresiasi dengan nilai 860 USD yang berarti telah melambung 66 kali lipat dalam 1 tahun. Ancaman lain yang timbul adalah bitcoin yang tersimpan di wallet pengguna lainnya dapat dilepas melalui virus, dan sangat rentan terhadap transaksi kriminal. Namun berdasarkan pernyataan dari Komisi Pengaturan Yayasan Bitcoin, hal ini dapat dicegah karena transaksi bitcoin selalu dapat dipantau oleh komputer lainnya. Bitcoin juga dapat diatur oleh UU Kerahasiaan Bank dimana pihak yang melakukan transaksi dianggap sebagai pihak pengedar uang seperti pada transaksi konvensional biasa.

Saat ini, sudah banyak transaksi yang menggunakan bitcoin seperti transaksi jual beli di dunia maya dan bisnis online mulai dari kecil dan menengah karena sifatnya yang dapat menembus pasar global. Sekitar 1700 perusahaan global di seluruh dunia sudah menerima transaksi dengan bitcoin lho. Bitcoin juga dapat ditukar melalui exchanger seperti mata uang konvensional biasa, ditukar dengan Dollar, Euro, Rupiah, dan mata uang lainnya.

Prototype ATM Bitcoin pertama oleh Jeff Berwick

Amerika Serikat, Jerman, dan sejumlah pemerintah negara lainnya sudah menerima penggunaan uang digital ini dengan tetap menekankan perlunya pengawasan transaksi yang lebih ketat. China melarang penggunaan bitcoin untuk perbankan namun tidak untuk bisnis. Bahkan jika masyarakat luas mulai menggunakan bitcoin, sangat mungkin hal itu akan mampu menenggelamkan sejarah Dollar AS yang selama ini dianggap sebagai mata uang universal di seluruh dunia. Kemunculan bitcoin memang tak dimaksudkan untuk menggantikan Dollar AS atau mata uang negara lain yang selama ini dikontrol oleh pemerintah atau bank sentral setempat. Akan tetapi, kehadirannya bisa menjadi mata uang alternatif yang universal dan bisa diterima dimanapun di seluruh dunia.

Bagaimana dengan Indonesia? Bank Indonesia sebagai otoritas moneter juga meninjau fenomena ini namun untuk penggunaannya sendiri belum diizinkan secara legal, karena berpotensi terhadap transaksi pencucian uang. Selain itu, karena dilakukan via dunia maya maka risiko kejahatan dan pembobolan data akan semakin besar. Oleh karena itu memang diperlukan regulasi dan koordinasi lebih lanjut dari pihak terkait antara BI, PPATK, dan OJK.

Bitcoin disebut-sebut sebagai simbol pasar bebas dan kapitalisme yang sesungguhnya. Konsep kapitalisme secara sederhana didefinisikan sebagai sistem ekonomi yang dicirikan oleh kepemilikan pribadi atau korporasi terhadap barang modal, investasi yang ditentukan oleh keputusan pribadi, dan harga, produksi, dan distribusi barang yang ditentukan melalui persaingan di pasar bebas. Sama halnya dengan sistem transaksi bitcoin yang hanya dikendalikan oleh pengguna, diperdagangkan sesuai keinginan, partisipasinya dilakukan secara sukarela, dan tidak dapat dikendalikan oleh pemerintah, perbankan, korporasi, bahkan lembaga internasional seperti United Nations. It's simply people trading with people.

Hmmmm.

 ***
Referensi utama: https://www.bitcoin.co.id/


Gambar diambil dari sini dan sini.

3 comments:

Anonymous said...

kayak paypal gitu ya

@chabadres said...

Sesui info yang aku baca, paypal lebih kepada sistem pembayaran secara elektronik, sedangkan alat bayarnya sendiri masih berupa uang "nyata" baik dollar atau mata uang lain untuk transaksi yang bisa kita transfer dari bank ke akun paypal atau sebaliknya. Artinya masih ada pemegang regulasi dari alat bayar yang dipakai. Nilai dari alat bayar yang kita gunakan pun berfluktuasi sesuai dengan kondisi pasar atau bahkan politik, karena memang setiap pihak/negara punya mata uang/alat bayar masing-masing.

Sistem pembayaran elektronik ala bitcoins benar-benar menggunakan alat bayar virtual. Tidak ada lagi dollar atau mata uang lain, semuanya menggunakan alat bayar dengan mata uang digital yang sama, yaitu bitcoins.

Incognito said...

http://www.thejakartaglobe.com/business/indonesia-bans-use-of-bitcoins-other-virtual-currencies/