January 2, 2014

Memulai Investasi

Akhirnyaaa, setelah beberapa bulan yang lalu postnya masih berisi tentang belajar investasi, sekarang saatnya memulai investasi melalui pembelian reksadana. Jujur aja saya rasanya telaaat banget baru mulai, mungkin baru berani ya tepatnya jadi yang baru jalan cuma sebatas Tabungan Rencana, dan hal ini dilakukan sebagaimana tekad saya di tahun 2014 untuk memulai pengelolaan keuangan yang lebih baik.

Nah, investasi seperti reksadana ini merupakan salah satu instrumen untuk mempertahankan nilai uang atau melawan arus inflasi. Sadar atau nggak, inflasi tiap bulan tiap tahun pertumbuhannya ga ketulungan. Karena memang secara ekonomi, selama masih ada uang yang dicetak dan terjadi gejolak pertumbuhan ekonomi, maka inflasi juga terus tumbuh. Cara pemerintah buat mengendalikan inflasi ini antara lain adalah melalui kebijakan moneter pengaturan suku bunga, mencukupi kuota kebutuhan domestik seperti melalui impor biar ga terjadi kelangkaan, subsidi, atau menetapkan ceiling dan floor price supaya ga ada oknum yang mempermainkan harga sewenang-wenang di pasar.

Tapi tetep aja yaa akan ada kekuatan pasar yang ga bisa dibendung, mekanisme demand dan supply bakal terus berjalan. Sebagai contoh, harga rumah yang terus naik sampai puluhan persen, biaya pendidikan yang tambah mahaaal aja gila brooo harga bangku perguruan tinggi sekarang, harga katering buat resepsi (LOL, serius!), atau harga kebutuhan pokok yang kenaikannya dianggap sepele cuma ratusan rupiah tapi terus menerus. Apalagi berdasarkan hasil penelitian BPS, biaya hidup warga Jakarta merupakan yang tertinggi di Indonesia sebagaimana dilansir dalam situs berita berikut. Kalau dihitung-hitung inflasi real pertahunnya mah bisa mencapai 10-20%. Ga sebanding sama kenaikan pendapatan, terutama pendapatan mahasiswa tugas belajar *hammer*

Nah, karena kita percaya Allah maha mencukupkan rezeki, maka salah satu caranya adalah 'sadar diri' atau tau kemampuan keuangan melalui mengatur keuangan sendiri. Terutama buat yang masih single, biaya gaya hidup biasanya gede banget, dan kita sering lupa atau telat mempersiapkan yang namanya biaya masa depan seperti biaya nikah, biaya buat DP rumah, biaya pendidikan adik atau anak, biaya pulang kampung (tsurhat), atau mungkin biaya buat liburan yang puoool sekalian, dan manajemen utang. Nah, saat-saat baru terima gaji atau rapel hmmm selain dialokasikan buat beli keinginan ini itu, buat orang tua atau adik, justru itu adalah saat yang paling tepat buat mengumpulkan modal. Karena biasanya setelah itu gaji udah dialokasiin pas-pasan buat ini itu.

Kalau dipikirin semua puyeng yaa hahaha. 

Nah, masih dalam rangka belajar untuk memulai dan saya orangnya bukan high risk taker alias masih moderat, jadinya saya beli reksadana pertama di pasar uang artinya 100% investasi pada obligasi atau surat utang. Ada juga reksadana pendapatan tetap, saham, dan dana campuran. Ada yang konvensional, ada juga yang syariah. Kenapa saya pilih pasar uang? Karena jangka pendek alias di bawah 1 tahun, selain itu belum punya idle cash yang bener-bener idle untuk jangka menengah atau jangka panjang karena butuhnya ya buat jangka pendek. Reksadana pasar uang juga bebas biaya dan bebas pajak. Risikonya menengah, return juga menengah. Yang menarik lainnya adalah investasi ini sangat likuid. Jadi bisa dijual sewaktu-waktu dan dalam jangka waktu H+2 atau H+3 sudah bisa ditransfer ke rekening sumber.

Ternyata beli reksadana itu gampang! Awalnya saya males karena taunya selama ini harus ke Commonwealth atau Panin (Panin adalah salah satu agen atau manajer investasi dengan beberapa pilihan sekuritas yang memiliki return terbaik), karena ga tau tempatnya dan harus bikin rekening baru. Keuntungannya sih kalau di Commonwealth ini jenis reksadana yang ditawarkan lebih bervariasi, sangat terpercaya, investasi dan top up bisa otomatis dilakukan secara online.

Selain online, pembelian reksadana bisa juga dengan cara manual. Saya pilih cara manual. Baca dulu prospektus tiap jenis reksadana, lihat fluktuasi Nilai Aktiva Bersih, return, dan risikonya, tentukan, lalu datang ke bank terdekat. Sebagai nasabah Mandiri, biar ga ribet saya langsung datang ke Mandiri trus menemui customer service buat beli reksadana. Saya disuruh mengisi data diri dan profil investor. Dari sini akan dinilai tujuan investasi dan toleransi kamu terhadap risiko investasi. Jangan lupa untuk membawa buku tabungan, KTP, dan NPWP.

Untuk pertama ini saya memilih Mandiri Investa Pasar Uang. Untuk bisa berinvestasi, nominal minimalnya adalah cukup lima ratus ribu rupiah. Tetapkan nominal yang mau dibeli, setelah itu kamu akan dibuatkan rekening investasi dan melalui teller nominal tersebut langsung didebet dari rekening sumber. Rekening investasi ini berbeda dengan rekening tabungan, begitu juga untuk menjaga kesinambungan investasi, bank sebagai agen atau manajer investasi berbeda dengan bank kustodian, dalam hal ini Deutsche Bank. Trus tiap bulan kita akan dikirimi laporan perkembangan investasi reksadana kita.

Selain itu, kita juga bisa langsung bikin aplikasi top up. Artinya tiap bulan akan ada dana yang secara autodebet pada tanggal tertentu dialihkan dari rekening sumber ke rekening investasi, minimal top up seratus ribu rupiah selama 6 atau 12 bulan. Dan dalam rangka diversifikasi, alias ga menaruh semua telur dalam satu keranjang, investasi bisa juga dibagi-bagi misalnya ke jenis reksadana lainnya, tabungan rencana, modal usaha, deposito, property, atau emas. Tapi kayaknya yang berat-berat ini belum mampu, LOL. Nah, berdasarkan artikel di kontan yang saya baca, nilai emas adalah penjaga nilai uang terbaik dan harganya masih akan terus naik karena sebab-sebab berikut.

Bagaimana dengan tabungan? Tabungan memang sangat likuid tapi nilainya akan cenderung turun. Satu juta rupiah tahun ini belum tentu bisa membeli barang yang sama untuk beberapa tahun mendatang sebagaimana konsep nilai uang dalam manajemen keuangan.

Idih, sok ngerti gini ngomongnya. Hihi, gapapa deh ya soalnya dalam rangka sama-sama belajar, mumpung masih muda dan lagi semangat-semangatnya ^^ 

Apapun itu kembali ke diri kita masing-masing, kita yang tahu kemampuan kita, tujuan menabung kita, prioritas masa muda, prioritas hari ini, so everyone is different :) oh iyaa ilmu, sedekah, shalat, dan berkah orang tua juga salah satu kunci rezeki dan investasi dunia akhirat. Mari memulai investasi yuk, selalu bersyukur, dan tetap nikmati hidup!

2 comments:

Fadli M Nur said...

Wah, mudah ya ternyata. Saya pikir ribet. *males nyari info sih*

Thanks infonya cha! :)

@chabadres said...

iyaa mudah kok :)