February 3, 2014

Maret, Hati-hati di Jalan (Finale and Extended Version)


Segerombolan semut hitam merayap di pagar besi. Mentari pagi masih bermalas-malasan tetapi serdadu mungil itu sudah keluar dari sarang dengan berapi-api. Mereka berbaris sambil menggendong butiran nasi, serpihan roti, atau kaki serangga malang yang jadi bagian rantai makanan hari ini.
                                                                              
Terima kasih hujan pukul dua malam, tak ada yang bisa mengalahkan warna violet di langit fajar berawan di Minggu pagi bulan Desember yang menyenangkan. Mei keluar dari peraduan, menatap langit, berjalan melawan angin, dan membeli semangkuk bubur kesukaan di perempatan perumahan. Dia mengambil pojok favorit di pekarangan, bersandar pada pagar besi, dan menatap semut-semut yang berkeliaran.

“Maret, semut-semut sudah bangun. Kau jangan kalah!”

Begitulah pesan yang rutin Mei kirimkan setiap akhir pekan. Jika Maret menggerutu kelelahan maka dia akan berujar, “Maafkan aku, semut-semut ini mengingatkanku padamu, pada kita”

“Kenapa?”

“Lihat saja mereka selalu berbincang saat bertemu, bersalaman, lalu berciuman”

“Heh, memangnya kita seperti itu?”

“Hahaha, ayo kesini!”

Seringkali setelah mendengar itu, Maret tak sampai hati dan bergegas menemui Mei yang langsung minta disuapi sisa bubur di mangkuknya yang tak hangat lagi.

“Tidak malu apa sudah lulus kuliah masih saja minta disuapi? Padahal sudah dua jam yang lalu, kenapa tak habis-habis?”

“Aku sengaja menyisakannya beberapa sendok. Karena aku tahu, kau akan muncul disini!”

“Darimana kau yakin aku akan kesini?”

Mei menelan suapan bubur terakhirnya, dia makan dengan sangat lahap. Maret sudah paham benar dengan sifat manja Mei yang bisa muncul sewaktu-waktu. Di balik kekanakannya itu, dia sangat tangguh dan mandiri. Hanya pada Maret saja dia menunjukkan sikapnya yang seperti itu. Keduanya adalah perantau dan sama-sama tinggal seorang diri. Maret adalah setengah dirinya, dan sebagaimana jiwa yang sempurna, dia tak bisa berfungsi tanpa setengah yang lainnya.

“Semut-semut ini yang memberitahuku” ujarnya bersemangat.

“Kamu sudah besar masih saja suka berkhayal”

 “Tidak percaya?”

“Aku kesini karena kamu yang menyuruhku...” ledek Maret sambil menunjukkan pesan dari Mei di handphone-nya. Pesan yang hampir sama di setiap Minggu pagi. Mei melengos kesal.
“Kalau aku harus ditugaskan pindah ke luar kota dan harus jauh darimu, bagaimana?”

“Tega! Pokoknya aku yakin, kau akan muncul kesini!”

Maret terdiam beberapa saat, sadar telah salah bicara. Gadis itu sangat sensitif mendengar kata jauh, tapi pada akhirnya cepat atau lambat kenyataan itu yang harus dihadapi bukan?

“Baiklah, apalagi yang semut-semut itu katakan? Beritahu aku”

“Aku tidak begitu yakin, tapi sepertinya mereka memberikan pesan saat berpapasan satu sama lain. Mungkin, hati-hati di jalan...”

Maret tertegun.

“Iya, kata mereka, hati-hati di jalan! Dan, aku tidak mau kalah dengan semut. Seperti kamu yang selalu kalah bangun pagi!”

Mentari sudah meninggi. Pohon mangga di pekarangan sudah tak mampu meneduhi mereka dari bola api yang cemburu dengan dua makhluk bumi ini.

“Baiklah, aku pulang dulu Mei. Ada yang harus aku selesaikan. Kamu juga jangan males-malesan, katanya nggak mau kalah dari semut!”

“Semut kan nggak mandi, berarti nggak apa-apa dong males mandi”

Maret tertawa lepas. Dia selalu dikejutkan dengan jawaban-jawaban Mei yang sangat polos dan cerdas. Seperti biasa, ketika Maret akan pulang, Mei selalu saja menggerutu.

“Terlalu sebentar!”

“Sabar yaa sayang, kalau pekerjaanku sudah selesai, nanti aku menemanimu lagi”

“Iyaa. Maret, hati-hati di jalan...”

Maret berbalik dan menepuk-nepuk kepala gadis itu. Bagaimana mungkin aku bisa jauh darimu sayang, gumamnya.

***

Sejak saat itu, Mei tak pernah lupa untuk menitipkan pesan serupa. Konsisten setiap pagi, petang, dan malam di saat Maret akan bekerja atau berkendara. Rutinitas tersebut berubah menjadi jarum jam tersendiri dalam rotasi hubungan mereka.

“Maret, hati-hati di jalan”

“Pasti, aku akan berhati-hati. Kau tidak pernah lupa ya mengucap itu padaku”

“Karena kalimat itu adalah doa dan lebih ringan dibanding kesiapanku untuk mengucap selamat tinggal atau sampai jumpa. Aku akan terus mengucap itu  hingga seterusnya pada masa aku menunggumu pulang, duduk di sofa, menyiapkan cemilan, dan membuka pintu. Aku menyambutmu tidak lagi untuk berpisah tetapi untuk bertemu. Kembali ke tempat yang sama yang kita sebut rumah”

“Terima kasih, cantik. Doanya manis sekali, menyertai dan menjagaku sepanjang hari”

Benar saja. Kalimat itu bagaikan candu. Dan, Mei telah menjadi pencandu. Seperti pria tua yang ketagihan mariyuana, Maret adalah candu yang tak bisa dia lepaskan dari kepalanya. Ini candu yang menyenangkan.

Seorang teman pernah mengingatkannya bahwa pasir yang digenggam terlalu kuat pun akan berjatuhan perlahan-lahan. “Mei, aku risau sekali dengan kecenderunganmu ini. You have extreme anxiety, dear. Kau pernah mendengar sebuah quote dari Osho?”

“Jangan ajari aku. Of course, I know it. If you love a flower don’t pick it up. Because if you pick it up it dies and it ceases to be what you love. So if you love a flower, let it be. Love is not about possession

Yes, love is about appreciation

“Ini tidak sama. Kau pikir aku mengharapkan dia tak bahagia? Aku hanya mendoakannya karena aku menyayanginya. Tak bolehkah?”

He is fine, Mei. Jangan sampai dia gerah dan tidak nyaman dengan kekhawatiranmu...”

“Pada akhirnya, sayang sekali. Cinta tak lebih dari tentang memiliki. Bagaimana kau bisa mencintai tanpa memiliki?” gusar Mei. Dia memetik mawar di pekarangannya dengan kasar. “THIS!”

***

Minggu pertama di bulan Februari, langit tidak lagi serakah membagikan hujan. Sudah lebih dari dua puluh empat jam, tetapi lima belas pesan dari Mei belum juga terbalas. Mei tidak berselera makan bubur pagi ini, para semut juga tidak ada yang berkeliaran di pagar besi. Aneh sekali, gumam Mei.

“Perasaanku tidak enak. Maret, kau bahkan tidak mengaktifkan handphone-mu... Teman-temanmu pun seperti berkonspirasi dan tidak memuaskanku, mereka bilang mungkin kau sibuk! Benarkah kau setega itu sampai mengabaikanku?” Mei berbicara dengan handphone-nya dan memencet tombol panggil berkali-kali. “Para semut bahkan hilang dan tidak mau memberitahuku”

“Oh, tidak! Bagaimana mungkin aku lupa? Dari lima belas pesan itu aku belum mengiriminya doa untuk hati-hati di jalan! Ah, dia tidak membalas pesan-pesanku sih!”

Beberapa menit kemudian sebuah nomor tak dikenal memanggil.

“Nak, Mei...”

.
.
.

“Maret... kenapa kau tak bilang... kenapa kau tak pamit... kenapa kau tak menuruti pesanku untuk... BERHATI-HATI... dan kembali pulang... PADAKU...  Ini salahku. INI SALAHKU...” isaknya seperti orang kerasukan. Setengah jiwanya sudah terenggut dalam kecelakaan pesawat tadi malam dalam perjalanan menuju kota dia dipindahtugaskan.

Semut-semut yang tadi bersembunyi berdatangan menghinggapi pipinya, memunguti bulir-bulir air matanya yang jatuh bercampur darah di pergelangan tangannya.

“...Aku menyambutmu tidak lagi untuk berpisah tetapi untuk bertemu. Kembali ke tempat yang sama yang kita sebut rumah...”

Dan, pesan terakhir itu sempat dikirim beberapa detik sebelum tetes air mata terakhirnya.

***

P.S: Cerita ini dibuat untuk memenuhi tantangan pertama yakni membuat cerita dengan judul yang mengandung nama bulan. Cerita ini merupakan extended version dari kisah sebelumnya dan merupakan akhir dari keseluruhan cerita Maret dan Mei. Terima kasih sudah membaca :')

No comments: