April 4, 2014

Passport Pertamaku

Lagi-lagi berasa telat, LOL. Saat yang lain udah berkali-kali ke luar negeri, saya baru ngurus passport dong -__- Sebenernya udah lamaaa banget pingin ngurus, sejak tahun 2012 mungkin. Kalau mau ngurus di kantor imigrasi (kanim) Jakarta dan KTPnya bukan domisili Jakarta, harus pakai surat keterangan kerja. Suratnya udah punya, eh males banget buat izin pergi ngurusnya ke kanim. Setelah tugas belajar, makin jauh deh itu berasa kanim..........

Berhubung pulang, sekalian deh ngurus passport. Belum ada rencana buat pergi kemana-mana hoho tapi sesuai yang saya percayai kita harus mempersiapkan kebaikan-kebaikan dari Allah itu datang. Setidaknya punya passport dulu hehehe. Saya bikin passport di Kanim Kelas I Khusus Medan. Lumayan jauh huhu tapi ada abah yang nganterin...... baiknyaaa. Kirain sepi jadi datangnya nggak terlalu pagi, eh sampai jam 8 pagi dapat antrian nomor 81 alhamdulillaaah masih dapat soalnya sampai nomor 90 antrian udah ditutup.

Sekarang mengurus passport sendiri jauh lebih mudah dan murah. Pelayanan sudah lebih baik. Jasa percaloan masih ada tapi tidak separah dulu, dan formulirnya gratis tis tis. Formulir bisa diisi secara online dan secara manual, alias langsung datang ke kanim. Saat mengisi formulir selalu ada perbedaan pandangan antara passport 24 halaman dan 48 halaman.
Walaupun sudah ada dasar hukum yang menyebutkan kalau passport tersebut tidak memiliki perbedaan (selain jumlah halaman), mempunyai derajat yang sama, berlaku untuk semua WNI dan di seluruh dunia... tapi katanya masih banyak perlakuan berbeda yang terjadi antara pemilik passport 24 dan 48 halaman tersebut, dari mulai pengurusan visa, desas-desus tidak diterima di negara maju, dan hanya diperuntukkan untuk TKI seperti yang ada di laporan dan tanggapan dari imigrasi berikut. Daripada sayang dan nanti jadi ribet, ya udah sekalian bikin yang 48 halaman saja :)

Setelah menunggu, sekitar jam 10 antrian ke 70-90 dipanggil ke ruang tunggu wawancara. Formulir permohonan diserahkan ke petugas dengan lampiran copy KTP yang diperbesar di A4, copy kartu keluarga, copy akta kelahiran, copy ijazah terakhir, dan copy dokumen-dokumen lain yang dipersyaratkan (seperti surat nikah). Pemohon dipanggil satu persatu lalu diminta menunjukkan aslinya. Karena ijazah STAN nggak ada aslinya, yang ditunjukin yang legalisir saja. Setelah itu ditanya pertanyaan standar, kalau saya "kerjanya di Jakarta ngurusnya disini?", "iya sekalian cuti soalnya KTPnya Medan". "Rencana mau ke mana?", "Mau wisata ke Singapura (ngasal banget), kuliah ke Australia..... (padahal D4 aja belum lulus, huksss kenapa nggak bilang Inggris............. ngarep)". Setelah tanya-tanya dan dokumen lengkap, langsung disuruh foto dan pengambilan sidik 10 jari. Karena kedinginan dan sidik jarinya nggak jelas, sidik jari 2 kelingking saya nggak bisa dibaca...... sedihnya. Tapi nggak apa-apa, yeah! :D

Setelah wawancara dan foto, petugas memberikan kita print out semacam nota yang harus dibayar langsung di BNI. Berdasarkan tarif PNBP, total biaya untuk passport 24 halaman adalah Rp 105.000,- dan passport 48 halaman Rp 255.000,- Setelah membayar tinggal tunggu sms deh. Sesuai SOP di kanim, passport selesai paling lambat 3 hari setelah permohonan. Passport saya selesai 2 hari dan diberitahukan melalui sms agar segera diambil.

Saat pengambilan, tanda terima dari bank dan nota dari imigrasi diserahkan ke loket pengambilan. Tunggu hingga nama dipanggil, tanda tangan, dan yeah passport sudah di tangan! :)

2 comments:

James said...

Hi,
Check this out :)
Passport, Tiket Untuk Melihat Dunia (Tulisan Inspiratif dari Rhenald Kasali)
http://rinaldimunir.wordpress.com/2011/08/15/passport-tiket-untuk-melihat-dunia-tulisan-inspiratif-dari-rhenald-kasali/

@chabadres said...

okay, thanks :)