September 20, 2014

Nostalgia tentang Matematika

Tulisan kali ini terinspirasi dari postingan yang menyebar di media sosial dimana tiba-tiba orang-orang meributkan perkara 4×6=6×4, yap tentang Habibi dan tugas matematikanya dan nilai 20 yang diberikan gurunya. Dan, tulisan saya kali ini bukan dalam rangka ikut-ikutan menghakimi, tapi gatel pingin cerita... karena kasus ini seperti dejavu di masa lalu saya. Uhuk! :D

Memang benar, perkembangan zaman, kebebasan, dan keterbukaan informasi menjadikan tantangan mendidik anak baik sebagai guru dan orang tua semakin berat. Tidak hanya itu, bahkan di pekerjaan apapun. Isu-isu kecil bisa dengan mudah dihembuskan di media sosial dan menjadi bahan perbincangan banyak orang.

Ceritanya throwback di masa saya duduk di bangku kelas 2 SD, errr tahun 1996, sama seperti Habibi. Sepertinya pengalaman itu membekas sangat dalaaaam di memori jangka panjang. Saat itu kami sedang belajar perkalian dengan metode "loncat" di garis bilangan. Lalu kami diberi tugas sebanyak 5 soal, mulai dari 2×3, 3×4, dan seterusnya. Mirip konsepnya dengan soal yang diberikan guru kepada Habibi.

Saya ingat benar saat mengerjakan soal 2×3, maka saya mulai menggambar garis bilangan, melakukan loncatan tiga kali dimulai dari angka 0 ke angka 2, 4, lalu berakhir ke angka 6. Secara hasil kelima jawaban saya benar, tapi secara proses saya salah... sehingga guru memberikan nilai nol. Benar-benar NOL tanpa ampun dengan pulpen merah. Saat itu saya sediiiiiih banget, pertama kali dapat nilai jelek di pelajaran matematika, galau, maluuuu, merasa seperti Nobitaaaa...... tidak terima, karena saya sudah hapal perkalian tapi malah salah semua di pelajaran yang saya pikir mudah, dan saya tidak suka cara itu. Saya merasa tidak butuh cara perkalian dengan metode kuno garis bilangan itu. Toh saya sudah hapal, huh!

Seperti biasa, sepulang sekolah mama selalu memeriksa buku-buku pelajaran. Jujur, saya takut banget dimarahi aargggh udah kebayang deh seremnyaaa... jadi saya robek kertas berisi nilai nol itu dan saya ganti dengan yang baru, perbaiki, tempel, lalu beri nilai sendiri: 100. Ide yang wow! Entahlah, mama sadar atau tidak, tapi sepertinya hampir sadar saat tanpa sengaja mama bertemu teman saya dan dengan berbangga hati membuka tabir, "Kemarin kan icha dapat nilai nol......" OKE FINE.

Inti cerita di atas dan yang mau saya sampaikan adalah, memang perlu membiasakan yang benar, bukan membenarkan yang biasa, sejak dini. Walaupun jawaban saya benar, tapi secara proses saya salah, dan ternyata itu menjadi bukti saya memang tidak mengerti. Jika guru tidak bersikap tegas kepada saya - dan membiarkan saya yang dianggap "masih kecil dan patut dihargai", saya mungkin tidak akan pernah mengerti bahwa 2×3 tidak sama dengan 3×2. Pada 2×3, terjadi pertambahan 3 sebanyak 2 kali bukan 2 yang diulang 3 kali. 

Cerita menarik terkait lainnya, saat itu kami para murid SD mempunyai budaya dan pemikiran yang sama bahwa PR haruslah dikerjakan sendiri. Walaupun bagus dan benar semua namun jika dikerjakan oleh orang lain maka menjadi tabu, dan akan ada yang cuek nyeletuk meneriakkannya ke guru: "Dia kan dibantuin papanya, bu....." LOL. Sadis!

Jadi... yuk, membiasakan yang benar dan tidak melulu selalu merasa benar :)

No comments: