March 23, 2015

Merayakan Perubahan

Tahun 2015 saya tidak banyak menulis, tepatnya terasa sulit untuk mulai menulis kembali. Mungkin, akhir-akhir ini saya tidak cukup "merasa". Apakah saya yang mati rasa, atau hidup sudah menampar diri untuk berlabuh merenungkan realita, bahwa waktu untuk mengagungkan segala jenis kerisauan dan air mata yang pernah sedikit saja bisa mengombang-ambingkan hati sudah tak perlu. Masa itu sudah berlalu. Romantisme telah berganti wujud, dari setangkai bunga menjadi waktu tidur ekstra, atau dari secarik puisi menjadi berbagi tugas rumah tangga.

Tahun 2015 saya tidak banyak menulis, dan seakan jari-jari ini menghukum dirinya sendiri. Saat dibutuhkan, mereka diam lalu mencari alibi bahwa waktumu masih terbentang. Satu kata pun tak kunjung datang, hingga harus memaksa agar tak didahului oleh mata yang menutup perlahan. Tiga kalimat untuk menggambarkan semester ini, saat hari terasa panjang, namun ujungnya bagai fatamorgana. Semester ini banyak saya habiskan dengan diri sendiri, selain dengan suami, pekerjaan rumah, mimpi di siang bolong, bacaan sepintas lalu, dan linimasa. Semester ini saya tidak bertemu dan bicara dengan banyak orang, tanpa merasa kesepian. Mungkin, karena itu juga saya tidak cukup "merasa".

Tahun 2015 adalah tentang merayakan perubahan. Sebagai tipe orang yang sering terjebak nostalgia, saya selalu ingin pergi ke masa lalu. Awal bulan ini saya telah pulang, pulang yang pertama kalinya dengan keadaan yang baru. Di balik kebahagiaan yang berlebihan, ada kerinduan yang tak bisa digambarkan. Saya masih rindu dipeluk ibu dan jalan-jalan bersama ayah, berdua saja. Tapi, keinginan itu tak tersampaikan. Tak tersampaikan, sama sekali. Saya mengutuki waktu, sebagaimana waktu tidak selayaknya dipersalahkan, maka terdengar penyesalan di setiap pilihan yang tertunda dan tersia-sia.

Dan, teruntuk suamiku. Terima kasih telah berjuang. Mungkin, kamu satu-satunya orang yang bisa menghadapi kompleksitas saya dengan tenang dan kasih sayang.

No comments: