April 20, 2015

Honeymoon Backpacker: Preparation 3

We both are fans of secrets and surprises.

Jadi pada apapun yang kami rencanakan terjadi, kami punya kesamaan prinsip - do not tell the others and do not show off in social media.  Mungkin sejak handphone saya hilang setahun yang lalu, saya sudah nggak lagi mendokumentasikan hidup di facebook, instagram, atau path. Hidup jadi lebih sederhana ternyata :)

Sejak tiket terbeli, maka persiapan sudah harus dimulai. Apa saja yang kami persiapkan?

1. Doa, doa, dan doa orang tua. Waktu saya bilang saya mau ke Jepang, mama langsung terharu. Mama bilang, "Allah punya cara sendiri ya untuk mewujudkan mimpi Icha yang dulu tertunda"

2. Beli buku panduan backpacking Jepang. Buat kami yang baru pertama kali ke luar negeri, perlu banget membaca banyak hal tentang persiapannya. Salah satu buku yang kami beli adalah buku karya kak Farchan - senior saya yang udah travelling kemana-mana. This book is GOOD dan ada bonus petanya! Beliau memberi banyak informasi yang sangat berguna dan bersedia menjawab pertanyaan-pertanyaan konyol saya yang buta banget tentang travelling. Bahkan beliau mengenalkan saya dengan orang Indonesia yang tinggal di Jepang dan kami boleh menginap disana....... :)

3.  Mempersiapkan berkas-berkas untuk mengurus visa Jepang. Karena visa Jepang harus diurus sesuai yurisdiksi maka saya harus mengurus visa di Medan sesuai alamat KTP saya (pas banget saat itu adalah jadwal saya pulang ke Medan), dan suami mengurus di Jakarta. Menyusun initerary adalah yang paling menantang, syukurlah ada orang-orang yang berbaik hati mendokumentasikan initerary mereka di blognya dan saya hanya perlu modifikasi ulang. Sementara itu, rencana penginapan untuk persyaratan visa diperoleh melalui bantuan situs booking.com karena bisa dibatalkan kapan saja dan tidak perlu bayar dulu.

4. Nonton Japan Channel dan Kokoronotomo di Metro TV tiap hari Minggu, dan belajar percakapan Jepang dasar melalui file audio Pimsleur. Very helpful! Pelajaran dasarnya adalah untuk bertanya apakah orang tersebut paham bahasa Inggris atau tidak:

"Sumimasen! Eigo ga wakarimasuka?"

"Iie, watashi wa eigo ga wakarimasen"

Dan, ternyata percakapan itu memang sangat berguna pas disana :p

5. Beli kamera. Pas banget saat itu lazada lagi diskon gila-gilaan (semuanya pas banget, mestakung.......)

6. Beli spring coat, syal, dan sarung tangan di factory outlet dan... pas lagi diskon. LOL.

7. Beli universal charger di Glodok Elektronik BSD Plaza Serpong, karena besar tegangan dan bentuk colokan di Jepang beda ;)

8. Beli printilan backpacking, mulai dari sabun, shampoo, toothbrush set dalam ukuran kecil (karena liquid yang masuk kabin dibatasi per botol dalam ukuran 100 ml dan total maksimal 1 liter yang disusun dalam dompet plastik transparan dengan resleting), disposable pants, dan tas ransel yang sehari sebelum berangkat baru sempat dibeli :/

9. Tukar yen dan ringgit di Pasar 8 Serpong. Saat itu nominal yang kami tukar hanya 80.000 Yen dan 250 RM buat berdua, dengan persiapan bawa kartu kredit buat jaga-jaga *ngirit*

10. Powerbank, kompas kiblat, dan sewa pocket wifi di Jepang seminggu sebelum berangkat melalui situs global advance. Jenis yang kami pesan adalah eco pocket wifi untuk 7 hari dengan unlimited data, harga saat itu adalah 4.950 Yen sudah termasuk ongkos kirim. Pocket wifi akan kami ambil di post office bandara Narita saat tiba nanti.

Btw, kami tidak memesan Japan Railway Pass sebagaimana biasanya disarankan. Dengan harga per orang 29.110 Yen untuk 7 hari, it was just quite expensive for us.

Malam sebelum berangkat, kami baru sempat packing. Packing tak pernah semenyenangkan ini. Total bawaan kami adalah dua ransel saja dan satu tas kecil untuk passport dan uang. Prestasi buat saya yang biasanya selalu repot bawa banyak printilan kalau pergi. Pesawat CGK-KUL terbang pukul 08.35 WIB, kami berangkat ke bandara naik sepeda motor pukul 05.30 WIB. Hemat uang taksi! XD

No comments: