June 3, 2015

Menjadi Pendiam

"Kalian kalau pacaran gimana ngobrolnya, soalnya sama-sama pendiam"

Jadi itu pernyataan pertama yang muncul dari keluarga waktu kami memperkenalkan diri dan berniat untuk menikah. Dalam hati saya, belum tahu aja kali ya, kalau ketemu kami berdua sama-sama error. Artinya, sisi dari diri saya yang tidak pernah saya perlihatkan ke orang lain, begitu juga dengan dia, cuma kami berdua yang tahu.

"Mereka kalau ngomong pasti bisik-bisik"

LOL. Pernyataan yang keluar beda lagi setelah menikah, masa iya ngomong mau teriak-teriak, dalam hati saya.

"Biasa, ngomongin bisnis"

Saya cuma bisa nge-les misterius begitu. Mau tau aja atau mau tau banget, hihi. Itu cuma satu sisi kisah seseorang yang secara historis dikenal pendiam lho. Nggak bisa disalahkan juga sih, karena masa kecil saya memang seperti itu.

***
Menjadi pendiam bukan pilihan.

Saya dibesarkan di lingkungan yang tidak biasa bertetangga, artinya cukup tau aja satu sama lain gitu. Dari lingkungan masa kecil saya, saya hanya punya satu teman sebaya yang membuat saya sangat posesif, artinya tidak boleh ada yang merebut saya dari dia. Saya mau ngasih apapun yang saya punya supaya dia nggak main sama teman yang lain. Begitu juga di keluarga besar, saya termasuk anak rumahan sejati, yang mau bicara banyak cuma sama mama, abah, dan nenek. Menyebutkan nama saya ke orang lain pun saya tidak mau. Dengan sepupu-sepupu sebaya, saya lebih sering diejek sehingga saya lebih suka diam saja. Tapi semua berubah setelah saya mengenal sekolah. Di tempat itu, saya bertemu teman-teman yang tidak mengejek saya. Saya bertemu ibu guru yang menyayangi saya. Saya suka berbicara di sekolah, tapi jika pulang ke rumah, saya kembali menjadi sosok yang pendiam.

Hal tersebut kembali berlanjut sampai saya SMA. Saya bisa tampil di depan umum, menyanyi, menari, berpuisi, dan menjadi MC tanpa merasa malu sama sekali. Saya yang pendiam ini juga bisa ikut menjadi peserta lomba pidato Bahasa Inggris dengan percaya diri, sebuah prestasi yang mengharukan karena saya bisa menanggalkan semua identitas saya yang selama ini dikenal pendiam dan tak punya nyali. Tapi hal itu hanya terjadi di luar rumah, saat kembali ke keluarga besar, saya tetap tak banyak bicara. Arisan atau pertemuan keluarga menjadi ketakutan tersendiri untuk saya karena saya selalu dihantui pernyataan ini, "Kok diam aja, bisu ya? Sakit gigi ya?". Jadi, wajar saja kalau seorang pendiam semakin pendiam di keluarganya.

Perubahan saya yang sangat besar terjadi saat saya merantau. Merantau ini menjadi titik balik perubahan dalam hidup saya. Saya mulai harus bisa melakukan semuanya sendiri, dan yang paling penting, saya bisa menjadi diri sendiri tanpa ada bayang-bayang orang akan men-jugde saya karena pribadi dan masa lalu saya. Demikian pula halnya ketika saya bekerja, saya bertemu dengan banyak orang yang menyenangkan. Pengalaman ini membuat saya berani bicara banyak di keluarga besar, saya belajar untuk berbasa-basi, dan mulai dianggap 'ada'. Sesuatu yang selama ini saya tak pernah punya. Saya didengarkan. Kecuali pada obrolan-obrolan yang membahas keburukan orang lain, saya merasa butuh diam saja, karena saya tak tahu dan saya tak kenal. Lagipula, saat saya tidak ada di sana, akan ada masanya keburukan saya juga dibahas oleh orang yang sama. Akan muncul lagi pernyataan, "Kok diam saja?" atau "Ah, nggak asyik, nggak banyak ngobrol". Duh, ngomongin orang kok bangga. Rasanya saya pingin kabur saja. Because small minds discuss about people, right?

Saya menyadari bahwa hal paling menyenangkan adalah ketika kita bertemu dengan seseorang atau berada di suatu kegiatan dimana kita meninggalkan semua atribut dan identitas kita. Itu menyenangkan sekali. Hal lain yang saya sadari adalah kepribadian seseorang kurang lebih berasal dari pendidikan dan pengalamannya di masa kecil. Jangan sampai kita menyudutkan seorang anak atau membandingkan perbedaannya yang membuat dia membenci dengan lingkungannya sendiri. Jika bertemu dengan seorang pendiam, jangan pernah menyebutkan tentang diamnya dia, tapi ajaklah dia bicara. Karena di balik diamnya, dia menyimpan kebaikan hati dan kisah hidup yang luar biasa.

Dan, saya sangat mensyukuri menjadi diri saya yang sekarang. Ini bukan perjuangan yang mudah :)

No comments: