June 18, 2015

Ramadhan yang Berbeda

Alhamdulillah. Marhaban ya Ramadhan.

Ramadhan kali ini berbeda karena ini Ramadhan pertama saya sebagai seorang istri. Setelah tahun lalu saya selalu diliputi oleh rasa galau, rasa itu kini telah berganti menjadi haru dan syukur atas nikmat yang luar biasa ini. Mungkin tidak terlalu berbeda dengan hari biasanya, saya punya tanggung jawab untuk merencanakan dan menyiapkan menu makanan yang selalu saya tulis di kertas kecil sebelum saya berbelanja. Karena ini Ramadhan, maka tantangannya adalah saya harus merencanakan menu sahur dan berbuka selama sebulan, bangun lebih awal dan membangunkan suami sahur (yang dulu hanya bisa saya lakukan lewat telpon), dan tidak boleh malas-malasan sepanjang hari hihi. Insya Allah bernilai ibadah. Waktu jadi anak kos, saya sering nggak peduli mau makan apa sahur dan buka. Dan seperti anak kecil yang baru belajar jalan atau naik sepeda, saya juga seperti itu. Lagi senang-senangnya buat kolak untuk pertama kali, bikin es dawet sendiri, atau masak apapun. Pujian dari suami, badan sehat, rasa lezat - adalah priceless :)

Ramadhan juga menjadi menyenangkan saat saya punya tetangga-tetangga yang umurnya sebaya untuk teman bertukar cerita dan makanan berbuka. Tapi, sayangnya, mereka pun sebentar lagi akan pindah karena mutasi dan keadaan. Selain itu, semester ini hanya saya habiskan untuk mengerjakan skripsi sehingga saya punya waktu banyak untuk di rumah. Karena saya dan suami masih berdua saja maka kami masih komitmen untuk menyelesaikan semuanya sendirian. Aktivitas dan tugas rumah tangga kami lakukan berdua, misalnya dia jadi Menteri Luar Negeri dan saya Menteri Dalam Negeri, bersih-bersih bagian halaman adalah tugas suami dan saya bersih-bersih bagian dalam. Rasanya puas aja bisa mengerjakan semuanya sendiri, saya merasa tangguh dan bermanfaat. Perasaan ini yang selalu harus saya jaga :)

Pernikahan juga membuat saya belajar untuk punya target Ramadhan, sesuatu yang dulu sering saya abaikan. Saya punya imam yang bisa memimpin saya beribadah. Mungkin hal itu jauh lebih berharga daripada khayalan saya yang selalu merasa kehilangan banyak moment dan meninggalkan kegiatan-kegiatan yang tidak lagi saya ikuti secara nyata. Karena pada dasarnya, pernikahan tidak mencuri kebebasan saya sedikit pun, pada batas-batas yang diatur karena ridho Allah terletak pada suami saya. Suami saya memberikan kebebasan yang banyak untuk saya terus belajar dan mencapai apa yang saya mau, menjadi pengajar, ikut komunitas, dan menikmati waktu dengan diri sendiri. Suami saya selalu menanyakan apakah saya bosan, apa yang saya mau. Dan, itu membuat saya mengharu biru karena saya merasa sangat sangat sangat disayang :)

Akhir-akhir ini saya merasa menjadi pribadi yang sangat tertutup (selain di blog, hehe). Saya lebih banyak menjadi silent reader dan lebih sering mengabaikan media sosial. Tentu saja saya sering iri dengan teman-teman yang punya banyak kegiatan, tapi entahlah saya pun tidak punya langkah yang kuat untuk merealisasikannya. Pragmatis. Semoga fase ini tidak berlangsung lama. Dan, saya lagi senang-senangnya jalan-jalan. Oh ya, saya juga banyak menelpon mama dan abah. Lebaran kali ini saya tidak akan bertemu mereka, karena harus ke kampung suami dan berlebaran dengan orang tua kedua saya :)

Semoga Ramadhan ini menjadikan kita pribadi yang lebih baik. Syukur yang lebih baik. Doa-doa diijabah. Air mata tidak sia-sia. Dan, tidak selalu merasa sedih atau sendiri. Karena Allah ada. Selamat datang saya yang baru :)

1 comment:

deadyrizky said...

i really wished you wrote that in english tho