June 7, 2015

Terampil Mendengar

"Don't judge" 
Sepertinya kita semua sedang sama-sama berjuang untuk keluar dari tekanan sosial dan meneriakkan tindakan untuk  tidak menghakimi dan tidak dihakimi. Tapi, menurut saya, perspektif setiap orang adalah satu hal yang paling berbeda di dunia ini, demikian pula dengan perspektif terhadap orang lain. Mengubah orang lain adalah hal mustahil, maka saya akan mengubah diri sendiri dengan memilih apa yang perlu saya dengarkan.
***

Mendengar versus mendengarkan.

Setiap hari, kita dibebani dengan peran baru dalam hidup secara sosial, entah menjadi murid, menjadi pengajar, menjadi karyawan, menjadi pengusaha, menjadi pelayan, menjadi pedagang, menjadi pemimpin, menjadi istri, menjadi ibu, dan seterusnya. Sudah cukup banyak energi yang kita keluarkan untuk tampil dengan baik pada peran-peran tersebut. Jadi, jangan sampai kebahagiaan dan syukur kita terkuras karena komentar orang lain selama hal itu juga tidak merugikan orang lain.

You can't please everyone. You have priorities. 

Bicara tentang peran sebagai perempuan, kehidupan di dunia ibu-ibu merupakan kehidupan yang kejam. LOL. Selain dikenal dengan sifat tak mau antre dan suka menyerobot (semoga kita tidak seperti itu), diskusi tentang siapa yang paling baik memang tidak ada habisnya. Tentang wanita karis versus ibu rumah tangga. Tentang ibu yang memberikan ASI eksklusif versus susu formula. Tentang ibu yang memilih tinggal berpisah sementara versus yang memilih ikut suaminya. Tentang wanita yang memilih menikah muda versus tidak menikah. Tentang ibu yang memilih menghabiskan waktunya di rumah versus berkumpul dengan tetangga. Tentang wanita yang sudah punya dua anak versus yang belum bisa memberikan keturunan. Tentang wanita yang memilih berdandan atau tidak sama sekali. Tentang pasangan yang tinggal di rumah orang tua versus merantau jauh dari orang tua. Tentang wanita berhijab. Tentang ibu dengan anak berkebutuhan khusus. Tentang pilihan sekolah. Tentang keahlian memasak. Tentang memiliki asisten rumah tangga. Dan masih panjang daftar diskusi yang memperdebatkan siapa perempuan yang paling baik berdasarkan pilihannya. Padahal, tidak pernah ada yang benar atau salah. Tidak pernah ada yang salah pada pilihan itu karena setiap orang mempunya alasan yang kuat untuk bertindak dan kondisi yang mengharuskan dia memilih demikian berbeda-beda.

You never truly know someone until you've walked a mile in their shoes.

Karena, saat kita menghabiskan waktu untuk memperdebatkan pilihan orang lain, kita sudah kehilangan waktu-waktu berharga untuk memperbaiki hidup kita. Saran dan berbagi pengalaman sebagai pertimbangan orang lain untuk memilih adalah penting, tetapi tidak untuk menghakimi apa yang dia pilih selama itu baik baginya dan tidak ada sangkut pautnya dengan keburukan orang lain. Pilihan adalah hak, dan efek dari pilihan itu adalah tanggung jawab.

And, filter what you've listened.

Pada akhirnya, biarkan angin berhembus. Coba untuk tersenyum dan terus melangkah, walaupun ada hal-hal yang membuat hati panas. Mari, terampil mendengar. Biarkan saja, tidak mengeluh. Yang baik diterima, yang buruk jadikan cermin, tapi bukan batu api yang membakar kebahagiaan sendiri. I stop opening facebook, path, or instagram to make life simpler.

Hater's gonna hate.

Sebuah buku berjudul The Happiness Project menyatakan bahwa kita cenderung menghakimi orang lain saat kita tidak cukup mengenal orang tersebut. Tak kenal maka tak sayang. Jika kita mengenal seseorang dengan baik, kita akan cenderung bersikap lebih santun pada pilihan-pilihannya. Benar bukan? 

When you can't make people happy, just try not to hurt them.

So, keep going. And, keep being a good person by listening carefully. Don't waste your time.

No comments: