October 23, 2015

Saudara yang Kupilih

I don't have a lot of close friends. But when I do, they can be thicker than blood. They are my family.
Terima kasih saudara dan saudariku, Kak Memed dan Ai. Kebersamaan kita membuat 2,5 tahun tugas belajar terasa lebih mudah, hidup kembali lucu, dan jiwa selalu muda. Dua orang ini adalah orang-orang yang luar biasa mau menerima kekurangan diri, keegoisan, keacuhan, kompleksitas - yang tidak bisa dimengerti setiap orang - dan tempat terpercaya untuk berbagi tanpa menghakimi. With them, everything seems alright.


Kak Memed selalu berhasil membangkitkan motivasi saya bahwa saya bisa, menjadi teman diskusi yang paling menyenangkan tentang apapun, contoh ayah dan suami yang menginspirasi, selalu menyodorkan saya buku-buku berkualitas untuk dibaca, dan menagih saya untuk menulis - walaupun saya tahu bahwa saya hanya ahli di tulisan beraroma depresi. Lalu, Ai pernah menjadi orang pertama yang saya peluk saat saya gundah, mendengar cerita-cerita saya, dan siap membantu saya banyak hal saat kesulitan. I can feel her big warm heart. Setelah saya menikah, mereka tak pernah berubah. Tetap khawatir jika saya sedang tak bergembira dan tetap memandang saya sebagai saudara. Status yang sangat indah untuk saya.


Selama dua bulan terakhir ini, kita tetap saling mendukung, hadir di setiap sidang masing-masing. Kalian adalah vitamin dan energi yang nyata saat diri merasa tak berdaya. Terima kasih untuk tetap ada. Saya bersyukur masih menemukan sahabat baik di usia yang tak lagi remaja. Akhirnya, kita bisa menamatkan mimpi untuk yudisium bersama. Di hari itu, saya merasa bahagia dan sedih seketika. Setelah ini, kita tak akan lagi sering bertatap muka. Dan, semoga hal itu tidak mengantarkan memori menjadi lupa. Tetap saling mendoakan seperti yang selalu kita lakukan dulu ya.

 
I'm gonna miss you, my brother and sister. Thank you, thank you so much.

No comments: