January 15, 2016

Menjadi Ibu Hamil yang Bahagia

"Jangan sedih ya, Ma. Aku di sini"

Saat saya sedang kelelahan atau merasa sendirian, ada yang langsung menendang dan seakan menghibur dari dalam perut. I will fight for you, my love, my baby.

♡♡♡

***

Kehamilan saya sudah memasuki trimester akhir, tepatnya 31 minggu. Perut semakin membuncit dan punggung semakin melengkung, hehe. Alhamdulillah, si dedek tumbuh sehat, walaupun dengan total pertambahan berat badan saya yang hanya 5 kg (dan optimis akan terus bertambah), but my baby has normal weight. Tendangannya semakin sering dan kuat, dan sekarang kepalanya sudah muter di bawah perut. Get ready to meet mommy in few weeks, right?

Pekerjaan membuat waktu berjalan cepat. Saya bersyukur dikelilingi orang-orang yang baik, peduli, dan bumil lain yang seperjuangan. Mereka kuat, saya juga pasti kuat. Saya juga bahagia walaupun dalam keadaan hamil rekan kerja dan atasan saya tetap memperlakukan saya secara profesional. Mereka adalah support system yang saya butuhkan. Karena kehamilan bukan penyakit, kehamilan adalah kebahagiaan dan sebuah pilihan. Jadi, hindari berkeluh kesah :)

Dulu rasanya naik kendaraan umum saat hamil terasa mustahil, tapi setelah dijalani ternyata tidak seburuk itu. Beberapa kali saya pernah naik kereta, masih ada orang-orang yang bersedia menawarkan saya tempat duduk (walaupun saya selalu menutupi perut saya dan bukan tipe orang yang secara frankly bisa meminta haknya langsung, padahal ini penting), dan ada beberapa waktu juga saat perut saya tertekan karena didesak dari pintu masuk yang membuat perut kram dan rasanya tidak manusiawi sehingga berhenti naik kereta dulu. Akhirnya saya beralih naik feeder dari BSD yang ternyata lewat deket kantor saya di area lapangan Banteng. Konsekuensinya saya jadi rutin jalan kaki pagi dan sore 10-15 menit dari halte ke gedung kantor. Jalan kaki memang mencegah badan jadi lemah dan bengkak. Semoga lahirannya juga bisa lancar karena rajin bergerak. Aamiiin.

Ada pula masanya saat saya terjebak macet, telat makan, atau berada dalam situasi yang kurang kondusif, maka saya bisa nangis tiba-tiba karena membiarkan si dedek kelelahan. Lalu saya minta maaf padanya dan menepuk-nepuknya dengan doa. Terima kasih telah membuat mama menjadi kuat ya dek. We are strong!

Saat hamil pula, saya lebih peduli pada kesehatan diri sendiri, pada gizi, pada suami, pada orang tua, pada ibadah, dan pada setiap hal yang saya lakukan - saya melakukannya bersama bayi saya. Saya juga belajar mengabaikan beberapa komentar negatif dan kurang menyenangkan. Pertama kalinya pula saya berani secara frontal mengusir perokok di samping saya, and he said sorry! Yes, it was an achievement for me.

Dedek paling aktif bergerak setelah saya makan atau saya sudah di rumah, beristirahat, terutama jika suami saya sudah pulang. Mungkin si dedek cari perhatian papanya, dia senang merespon tepukan saya dan ciuman suami di perut saya. Rasanya, kebahagiaan itu melepas penat apapun. Apalagi jika ditambah pijatan di betis dan di punggung. Ah, heaven!

Saya juga sadar jika quality time saya dan dedek semakin terbatas karena harus bekerja. Jadi sebelum tidur atau di akhir pekan, biasanya saya bacakan dia cerita, tilawah, atau senandung yang menenangkan sampai saya terlelap perlahan.

***


Thank you, baby and thank you, super husband - we are a good team. You both are my everything.

2 comments:

shalsa amalia said...

halo, selamat malam
perkenalkan saya shalsa dari Koran Sindo. ingin wawancara seputar sastra. bisa tidak ya? jika berkenan, wawancara bisa melalui media sosial/ email
atau contact saya di amalia.shalsa@yahoo.co.id / line : shalsaamalia
terima kasih

@chabadres said...

Sudah saya balas via email ya :)