February 20, 2016

Mama Kenapa?

"Mama kenapa suaranya serak ma?"

"Iya biasa, mama batuk. Cuaca sedang tidak bagus"

***

Beberapa hari kemudian, di menit-menit yang saya manfaatkan untuk menelpon orang tua di rumah dalam dua jam perjalanan pulang dari kantor yang melelahkan, Mama mengaku, "Kemarin suara Mama serak, bukan karena batuk, tapi karena menangis".

Mama menangis karena merindukan saya, karena tidak bisa merawat saya di sela-sela kehamilan saya. Juga karena beliau kesepian, karena adik pun semakin dewasa dan sudah punya kesibukan.

Diam-diam, air mata saya ikut menetes. Saya buru-buru mengambil tissue agar tidak terlihat oleh penumpang bis yang duduk di sebelah saya. Saya pun merindukan orang tua saya. Saya pun merindukan pelukan mereka, merindukan bubur kacang hijau buatan tangan Mama, atau menyentuh mereka dari dekat.

Saat sedang mengandung, rasa sayang dan kagum saya kepada Mama semakin besar. Jadi beginilah yang Mama rasakan waktu saya ada di rahim beliau, sakit, susah, sedih, bahkan mungkin lebih berat dari itu...

Tak beberapa lama, setelah telpon berakhir, adik mengirimkan saya sebuah foto. Foto mereka sedang makan malam bertiga di meja makan dengan lauk sederhana yang istimewa.

"Banyak sekali lauknya. Kangen. Jadi sedih", komentar saya.

"Kak Icha masih di jalan?"

"Iya"

Mata saya berkaca-kaca lagi.

***

Dalam setiap doa, saya menitipkan permintaan yang sama agar Allah menjaga mereka selalu dengan baik, bisa bertemu lagi dalam waktu yang paling baik.

Mereka adalah semangat saya, malaikat bumi saya.

No comments: