April 7, 2016

Finally, We Met You Baby Girl

"Seorang ibu tetaplah akan menjadi seorang ibu, tanpa terikat bagaimana proses persalinannya..."

Debat yang tiada habisnya antar sesama perempuan terkait proses persalinan, pilihan untuk memberi ASI, dan pilihan karier membuat persepsi tersendiri bahwa saya pun harus bisa memenuhi kriteria yang dianggap sebagian besar orang menjadi kategori sebagai ibu sejati. Dari awal kehamilan, saya sangat percaya diri untuk bisa melahirkan normal - tidak ada pilihan lain. Tapi ternyata Allah menakdirkan saya bertemu sang putri melalui operasi caesar sebagai ketentuan yang paling baik untuk saya dan putri kecil yang sangat saya cintai.

***

Memasuki usia kehamilan 40 minggu, saya dilanda kegalauan hebat. Mungkin hampir sama dengan kegalauan saat ditanya, "Kapan menikah?" atau "Kok nggak hamil-hamil?", yaitu saat saya terus dikejar oleh pertanyaan, "Kapan lahiran?" dan "Kok belum melahirkan juga?". Sejak saat itu, saya mulai kabur dari social media dan sedih jika orang-orang terus bertanya-tanya, menelpon, atau mengirim pesan tentang kapan saya bersalin, setiap hari.

Syukurlah saya ditemani Mama yang rela datang di awal untuk mengurusi saya karena suami mendadak harus ikut pelatihan dan menginap di asrama sampai akhir Maret. Mama memberi saya kekuatan yang luar biasa dan dukungan ekstra untuk terus melakukan hal-hal yang dapat merangsang persalinan normal - jalan kaki di pagi dan sore hari, muter-muter mall hanya untuk jalan kaki, makan makanan yang bisa menstimulus kontraksi, ngepel jongkok, senam hamil, induksi alami, pokoknya dibikin capek. Terlebih saya baru saja pindahan baru-baru ini dan membereskan semua sendiri, dorong lemari sana sini, angkat ini itu, dan saya optimis hal tersebut dapat mempercepat bayi saya turun ke jalan lahir.

Kenangan safari mall sama Mama. How I miss the bump ♡

Saya terus berdoa semoga bayi saya segera memberikan tanda cintanya kepada saya melalui beberapa tanda persalinan normal, seperti kontraksi yang teratur, flek, atau pecahnya ketuban. Tapi semakin menjauhi dari HPL saya belum juga merasakan yang namanya mules atau bagaimana rasanya kontraksi. Yang terjadi hanyalah kontraksi palsu ataupun perih karena gerakan bayi saya yang semakin aktif di dalam rahim. Saya terus bertanya-tanya tentang apa yang terjadi pada saya.

Hingga akhirnya di kontrol kandungan di usia 40 minggu, dokter mengatakan bahwa bayi saya semakin menjauhi panggul - lebih jauh dari keadaan 1-2 minggu yang lalu. Terlebih, prediksi berat badan bayi saya cukup besar dan itu berbahaya buat kondisi mata saya dengan minus tinggi untuk mengejan. Dokter menyarankan untuk menunggu dan melihat bagaimana perkembangannya, atau lebih cepat lebih baik saya harus dioperasi. Saya sangat kaget mendengar pernyataan tersebut, sesuatu yang di luar kesiapan saya. Saya belum pernah mengalami operasi dan saya sangat takut untuk menjalaninya. Terlebih takut terhadap persepsi orang-orang. Padahal, persepsi tersebut tidak mampu menyelamatkan saya dan putri saya.

Lagipula setiap perempuan hebat dengan cerita dan perjuangannya masing-masing bukan? :)

***

Keesokan harinya saya langsung mengurus BPJS untuk kepindahan faskes menjadi Puskesmas Pondok Pucung dan meminta surat rujukan untuk operasi di RS IMC Bintaro (walaupun masih berharap ada keajaiban untuk bisa normal). Selama proses tersebut, saya senantiasa ditemani Mama saya. Saya sangat bersyukur atas kehadiran beliau. Terima kasih ya Ma.

Lalu tepatnya di hari Kamis tanggal 24 Maret 2016, saya melakukan kontrol terakhir dengan dr. Tri Yuniarti, SpOG di RS IMC. Sayangnya, petugas menyatakan bahwa dokter sedang tidak praktek karena anak beliau sakit. Akhirnya, suami menghubungi dokter langsung dan menyatakan bahwa saya sudah menunggu di RS dan harus segera kontrol karena layanan di RS tutup di hari libur nasional esok harinya. Mungkin ini ketentuan Allah, karena RS yang dituju penuh maka anak sang dokter juga ikut dirawat di IMC. Dan, dokter bisa memeriksa keadaan saya. Terima kasih dok buat kebaikannya...... Kondisi bayi saya tetap sama, tidak ada pembukaan jalan panggul, diinduksi pun berbahaya karena bisa pendarahan jika bayi belum masuk panggul, ketuban mulai keruh, dan berat badan janin semakin besar. Dokter menyarankan segera operasi, SORE ITU JUGA.

Saya masih berharap ada keajaiban untuk melahirkan normal, karena saya mulai merasakan mules yang teratur sejak pagi harinya. Tapi ternyata itu hanya masuk angin saja, bukan kontraksi yang sesungguhnya. Lalu saya bertanya ke suami, dia menyerahkan semua ke saya tergantung kesiapan saya, dan sebenarnya saya masih ingin menunda operasi sampai hari Sabtu hingga saya benar-benar siap. Tapi suami dan Mama menyarankan untuk melakukannya secepat mungkin karena khawatir. Saya duduk berpikir di ruang tunggu, menanyakan proses pemulihan pasca operasi dengan seorang sahabat, lalu pulang untuk makan karena saya harus puasa 6 jam sebelum operasi.

Ini adalah keputusan yang sangat besar untuk saya. Ya atau tidak yang saya ucapkan siang ini berakhir pada banyak hal seperti semakin cepatnya saya bertemu bayi saya dengan selamat. Tapi jujur saya sangat takut hingga saya tak tahan untuk menangis. Bidan menyatakan jika operasi dapat dilakukan sore ini pada pukul 5 sore karena dokter-dokter yang dibutuhkan sudah ada di RS dan jika saya berkenan maka saya harus datang pukul 3 sore untuk melakukan persiapan pra operasi. Akhirnya dengan kekuatan dari Allah, saya memilih untuk dioperasi sore itu.

Sebelum pukul 3 sore saya sudah sampai di RS dan berniat operasi dengan mengurus BPJS. Tapi ruang inap untuk kelas golongan BPJS saya penuh, dan jika menggunakan prosedur BPJS maka operasi hanya bisa dilakukan di jam kerja dan hari kerja. Sementara itu, untuk upgrade kelas dengan BPJS biayanya malah lebih mahal daripada biaya dengan pembayaran pribadi hiks. Dan, suami masih dalam perjalanan, belum ada tanda tangan suami, jadi persiapan operasi belum bisa dilakukan. Saat itu GALAU banget, sedih, kesel campur jadi satu huffff.

Akhirnya setelah telpon suami lagi, operasi tetap dilaksanakan dengan prosedur pribadi/umum. Jam 4 sore saya masuk ke ruang bersalin, ganti baju pasien, tes urine, tes tekanan darah, dipasangi infus, lalu suntik untuk tes alergi antibiotik. Tekanan darah saya seperti biasa rendah, dan kalau tidur terlentang kepala langsung berkunang-kunang dan pandangan hitam. Saya minta untuk tiduran miring sambil melakukan tes CTG atau detak jantung bayi. Perut saya tegaaang banget mungkin dipengaruhi sama sayanya yang nervous luar biasa. Detak jantung dedek bayi mencapai 170 yang kalau terus menerus seperti itu bisa gawat janin. Hiks. Saya pun dipasangi oksigen dan diminta untuk menarik napas panjang. Maaf ya dek...

Mama ada di samping saya dan terus mengusap punggung saya. Ini merupakan kenangan yang tak terganti bersama Mama yang sangat setia. Bidan kembali datang mengecek detak jantung bayi, masih juga tinggi. Akhirnya saya menjalani tes darah karena biasanya hemoglobin saya rendah. Masih di bawah normal tapi tidak bahaya, saya diminta menghirup oksigen dalam-dalam dan setelahnya saya lebih tenang, alhamdulillah detak jantung dedek sudah normal dengan rate 130-140.

Suami datang tepat waktu sebelum operasi dengan membawa tas bersalin saya (yang  isinya sedikit karena tidak saya persiapkan untuk caesar). Saya minta restu Mama dan suami lalu masuk ke ruang operasi sendiri. Rasanya seperti akan maju ke medan perang huhuu.

***

Di ruang operasi dingiiiiin banget, saya menggigil. Ada alunan lagu dance Korea, mungkin supaya pasien nggak stress. Setelah pasang oksigen dan monitor tekanan darah, saya disuntik spinal di tulang belakang. Dalam hati ini pasti bakal sakit banget nih kayak cerita orang-orang. Saya diminta memeluk bantal dan saya mensugesti diri sendiri untuk tetap rileks karena kalau tegang malah sakit. Dan ternyata nggak sakit, alhamdulillah. One step closer. Setelahnya pasang kateter pipis, sementara itu kaki dan tubuh bagian bawah saya pelan-pelan sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Di perut saya semacam dipasangi tirai gitu. Bu dokter datang dan operasi dimulai. Hiks rasanya sendiriiii banget saat itu dan masih menyalahkan ketidakmampuan saya untuk bersalin normal. But I have to deal with this. I have to. Saya bisa mendengar dokter dan asisten-asistennya ngobrol, ketawa-ketawa sambil perut saya digerak-gerakin sana sini. Mungkin maksudnya biar pasien nggak tegang ya tapi tetep aja..... waktu rasanya berputar lamaaa banget. HELP.

Salah satu asisten dokter harus mendorong kaki bayi saya yang masih berada di bawah rongga dada. Saya ingat dokter sempat bilang, "Bu, bayinya masih sangat jauh dari panggul". Saya menghela napas, so it is the right choice. Dedek bayi maunya 'dijemput' sama Mama ya  :')

Dua puluh menit kemudian, ada suara tangis bayi. "Alhamdulillah Bu, anaknya perempuan, sehat, cantik...". Tapi saya masih belum bisa melihat anak saya karena ditutupin tirai itu. Tiba-tiba air mata mengalir gitu aja. Bayi saya menangis dengan lantang. I will meet my baby soon. Karena nangis, hidung jadi mampet dan tekanan darah saya drop. Saya pun diminta menghirup oksigen dalam-dalam lagi.

Tak beberapa lama setelah dibersihkan, bidan membawa bayi saya dan meminta saya menciumnya. Masya Allah haruuum banget dan bersih. Tuhan MEMANG Maha Besar. Nangis lagi deh saya, bahagia banget. Setelahnya saya dibawa ke ruang observasi dan di sana sudah menunggu Mama, papa mertua, dan suami. Wajahnya sangat bahagia. Belum pernah terlihat sebahagia itu. Alhamdulillah.

***

Pukul 10 malam, bayi saya dibawa ke ruang inap untuk dirawat gabung dengan saya. Sayangnya kondisi saya masih mati rasa dan nggak boleh bergerak banyak selama 1x24 jam. Dia dibaringkan di dada saya. Walaupun gagal IMD tapi dedek bayi sangat pintar, dia bisa menghisap dengan baik. Duh rasanya nyessss LUAR BIASA. 

Malamnya saya tidak bisa tidur, efek bius sudah hilang dan baru deh terasa luka di perut kayak diiris-iris perih banget hiks. Saya belum diberi obat pereda nyeri sampai pagi harinya. Saya menggapai dedek bayi di samping saya dan sakitnya pelan-pelan hilang. Dalam hati terus bilang huhu caesar ga enak. Duh, pingin peluk......

Di hari kedua, ASI saya yang merupakan kolostrum baru keluar. Dedek bayi menghisap dengan lahap, walaupun lecet dan luka di sana sini tapi rasanya bahagia. Banget.

Setelah 1x24 jam pula, infus dan kateter saya dicabut. Finally I'm free! Bosaaan tiduran terus. Lalu saya diajari untuk duduk dan jalan beberapa langkah. Sakiiit, pusing, ngilu nyosss... ternyata nikmat bisa duduk dan jalan itu tidak bisa didustakan. Tapi malamnya saya harus sudah bisa ke kamar mandi sendiri dituntun dan ditunggui suami saya. Hiks makasih suami...

Hari ketiga saya mulai lancar jalan, diajari pijat PD dan pelekatan yang baik, diajari memandikan bayi, makan juga lahap (masakannya enak-enak hihi), sudah bisa mandi, I feel powerful by handling this pain. Dedek bayi juga nggak mau tidur di boxnya, dia maunya tidur seranjang sama saya, karena sudah kenal bau Mama ya nak :*

Di hari keempat, saya dan dedek bayi boleh pulang. Huoray! Ada penghuni baru di rumah kecil kami. Selamat datang ke dunia, Shabriyya Fatiha Nafeeza. Artinya, anak perempuan pertama kami yang berharga. Dia lahir tanggal 24 Maret 2016 pukul 18:18 dengan berat 3390 gram dan panjang 51 cm. 

Bayi ini adalah harta luar biasa yang dititipkan Allah kepada kami. Berlipat doa dan harapan indah untuknya. Yang biasanya menendang dan menyapa Mama dari perut, kini sudah ada di pelukan.



It's love before the first sight. We love you so much to the moon and back ♡

***

P.S.: maaf ya curhatnya panjang hehe. Terima kasih untuk doa dan dukungannya :)

6 comments:

ninda said...

wah lucunyaaa selamat ya icha :D

@chabadres said...

Alhamdulillah, makasih ninda 😊

angelic_creature said...

Wihhh mbaaa tulisannya berharga bgt nih buat aku yg mau SC senin besok... terimakasih ya sangat mwnginspirasi.. sama bgt saya mau 40mgg ga ada tanda2 nii.. doain ya btw RSnya deketan saya di buah hati ciputat...

@chabadres said...

Gimana mbak kabarnya? Semoga cepat pulih yaaa dan titip salam untuk sang buah hati.

Selamat menjadi ibu :)

NiteZzzzz.....Sky said...

Mba, kalau boleh tau berapa biayanya melahirkan operasi SC di RS. IMC Bintaro denganjalur umum/pribadi ?

Kayanya saya akan melahirkan disana hehhe

@chabadres said...

Tergantung kelasnya mbak, kelas 1 sekitar 8-9 juta net seinget saya.

Smoga sehat-sehat ibu dan bayi :)