April 9, 2016

Motherhood #1: Belajar Meng-ASI-hi

Tentu saja, saya juga bercita-cita untuk memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan. ASI sangat bermanfaat untuk kesehatan, tumbuh kembang bayi, dan menciptakan ikatan emosional yang erat antar ibu dan anak. Dan, ternyata untuk jadi pejuang ASI tidak cukup bersandar pada komitmen saja, tapi juga butuh pengetahuan dan kepercayaan diri yang tinggi :)

Hari-hari pertama merupakan fase yang berat untuk saya dan Biya (panggilan bayi saya). Kami baru saja 'kenalan' (dan langsung jatuh cinta berkali-kali). Saya memang tidak sempat mengalami IMD tapi hal itu terhapuskan dengan indahnya debar-debar saat sang bayi diletakkan dan bergerak di dada saya 4 jam pasca operasi. Our skin met and it was priceless.

Di hari kedua, kolostrum baru keluar karena stimulus isapan bayi yang dilakukan di hari sebelumnya. Bayi saya baru belajar menghisap dan saya juga baru belajar menyusui. Sebagai sesama newbie, saya tidak tahu jika cara yang saya lakukan dalam dua hari ini salah. Saya memang belum pernah ikut kelas laktasi saat hamil dan dengan hanya kenyang teori dari artikel-artikel yang selama ini disantap, it was not enough. I made mistake.

Malam harinya, bayi saya tidak mau tidur. Dia sangat rewel dan terlihat tidak pernah kenyang setelah disusui. Saya STRESS. Malam itu bayi saya terus menangis di kamar rumah sakit. Setelah saya peluk dan gendong, dia diam, lalu menangis lagi. Saya coba susui, dia diam, lalu menangis lagi. Suami dan Mama ikut gantian menggendong, dia diam, tapi meronta-ronta lagi. Dalam hati, apa yang terjadi pada bayi saya? Apa dia kolik? Apa dia sakit? Kenapa dia tidak pernah kenyang? Baru dua hari punya bayi rasanya berat sekali... dia terus menangis tak henti hingga berjam-jam.

Setiap saya mencoba menyusui, saya tak tahan dengan sakitnya. Ditambah luka jahit di perut yang belum sembuh, I couldn't explain how it felt... Suami saya memegangi kaki saya dan menghapus air mata saya setiap saya terlihat sangat kesakitan. Setiap bayi saya mencoba menyusu saya menangis, "Ini lebih sakit dari luka jahit! Sakiiiiit". Tapi bayi saya tidak juga mau diam... Sedih sekali melihatnya. Saya memeluknya sambil bertilawah, menyanyikan lagu untuk menenangkannya. But her eyes still opened so WIDE. OMG what's wrong? :'(

I gave up. Sudah hampir subuh, kami belum juga tidur, bayi kecil kami terlihat kelelahan. Suami saya memanggil perawat anak dan minta tolong mengamati apa yang salah. Dia tidak demam, dia tidak sakit, dia hanya LAPAR. Dia menyusu tapi tidak ada ASI yang masuk ke dalam perutnya karena pelekatan yang kami lakukan salah. Pelekatan yang benar tidak akan membuat sakit seperti ini... Akhirnya saya diajari, bahwa sebagian besar areola harus masuk ke mulut bayi. Benar saja, bayi saya lapar dan dia langsung terlelap. Maafin Mama ya...

Akhirnya saya bisa menyusui bayi saya dengan baik setelah itu. Perawat anak terus membimbing pelekatan saya hingga akhirnya isapan bayi saya yang menyembuhkan luka-luka itu dengan sendirinya. Rasanya lega, sangat lega.

Saya bersyukur karena saya dan bayi saya diizinkan pulang pasca operasi. Bayi saya sempat terlihat agak kuning tapi masih normal asalkan saya terus memberinya ASI setiap jam dan menjemurnya setiap pagi. Bidan bilang ibu dengan golongan darah O memiliki kecenderungan yang besar untuk mengalami bayi kuning (jaundice).

Di rumah, supply ASI saya semakin banyak. Mama, suami, dan ibu mertua sangat rajin menyiapkan daun katuk, susu kedelai, dan juga telur ayam kampung rebus untuk memulihkan luka jahit saya. Happy banget sukses pumping untuk pertama kali. Dari yang awalnya cuma bisa pumping 10 ml, 30 ml, sampai bisa ngeboost 120 ml sekali pumping. Cara paling cepat buat memicu aliran ASI buat saya (istilahnya LDR atau Let Down Reflux) adalah memandang wajah bayi saya yang sedang tidur atau memutar ulang rekaman video kelucuannya. She grows up fast everyday... ♡ Juga harus percaya diri mensugesti diri sendiri, "Saya bisa. ASI saya banyak". And it works.

Sampai di usia Biya yang ke 10 hari, seorang bidan RS mengabarkan bahwa dia ditugaskan untuk melakukan kunjungan rumah untuk melihat kondisi kami. Saat saya membawa bayi saya keluar kamar, saya dikejutkan oleh pernyataannya yang tanpa basa-basi, "WAH BAYINYA KUNING BANGET".

I was shocked!

"Kemarin baru ke dokter, kata dokternya nggak apa-apa kok... Berat badannya naik 400 gram dalam seminggu, cukup ASI, nanti kontrol 10 hari lagi"

"Tapi 10 hari kelamaan Bu, kasihan bayinya. Kontrol lagi coba nanti malam. Kalau kuning begini mungkin disuruh nginep buat difototerapi. Bisa 1x24 jam, bisa juga 2x24 jam".

HELLOOO.

Setelah sang bidan pulang, saya langsung nangis meluk bayi saya. BENCI. Merasa bersalah banget. Apa saya tidak memberi cukup ASI? Apa ada yang salah dengan tubuhnya? Saya tidak mau pisah sama bayi saya. Saya tidak mau dia difototerapi. Nggak kebayang harus pisah dan memandang dia dari balik kaca hiksss...... She was healthy, I BELIEVED she was healthy. Saya peluk dia, dan saya paksa dia minum terus menerus.

Esoknya, saya dan suami membawa dia kontrol ke dokter lain untuk mencari second opinion di BWCC. Memang lebih nyaman membawa bayi ke klinik ibu dan anak dibanding RS dengan bermacam-macam pasien. Saya minta dilakukan tes bilirubin. Nggak tega lihat bayi saya nangis waktu diambil darahnya di bagian tumit. Hiks, maaf ya nak...

Hasil tes menunjukkan kadar bilirubin bayi saya adalah 12. Dan itu SANGAT NORMAL untuk bayi di bawah usia 1 bulan karena kemampuan hati yang belum sempurna. Kalau dilihat dari grafik, kadar bilirubin ini akan mencapai puncak hingga di usia bayi 14 hari dan terus menurun sampai usia 1 bulan. Terutama bayi ASI memang kuningnya lebih lama hilang daripada bayi sufor. Tapi jangan jadi alasan untuk tidak memberi ASI. Alhamdulillah, langsung saya cium cium bayi saya. Lega bangeeet. Ternyata gini rasanya khawatir dan paniknya jadi orang tua ya.

Ditunjukin grafik ini sama dokter.

Dan... moment paling menyenangkan selain melihat efek ASI yang bikin bayi tembem, nafsu makan busui yang ENAK banget, dan berat badan yang langsung melejit turun (wow I'm amazed) adalah menyaksikan wajah 'teler' dan senyum-senyumnya bayi setelah kenyang ASI seperti bilang "Makasih Mama...". Lalu tertidur lelap di pelukan saya.

Muka teler yang selalu dinanti :)

It is wonderful and can't be replaced by anything. It relieves the pain, sadness, and tiredness. Terutama capeknya begadang kalau si bayi lagi iseng ataupun lagi rakus alias growth spurt hihi.

Mari berjuang meng-ASI-hi dan menjadikannya investasi seumur hidup buat kesehatan anak ♡

No comments: