July 25, 2016

Motherhood #3: Tentang Daycare

24 Mei 2016.

Cuti bersalin berakhir dan artinya harus kembali ke kantor. Membayangkannya saja sudah bikin saya meringis sejak beberapa hari sebelumnya. Dan, saya belum juga menemukan pengasuh untuk menemani bayi saya di rumah. Ya bagaimana bisa? Berusaha mencari pun saya malas dan rasanya tak rela jika bayi kecil ini harus berpindah tangan seharian.

Lalu, saya dan suami kembali pada pilihan terakhir (yang sebenarnya tidak disetujui suami) yakni jika kami belum menemukan pengasuh: Biya dititipkan ke daycare. Saya sudah berjaga-jaga untuk mendaftar jauh-jauh hari dan alhamdulillah masih dapat tempat untuk Biya di kelas bayi. Daycare Artha Wildan adalah taman penitipan anak yang berlokasi di belakang gedung DJPBN, Kemenkeu. Dan, untuk bisa menitipkan anaknya di sini cukup susah karena waiting list untuk masuk lumayan panjang.

Saya bersyukuuur banget. Artinya, saya masih tidak perlu berjauhan dengan Biya.

Tapi, kendala lainnya adalah bagaimana saya berangkat ke kantor dengan membawa Biya setiap hari dari Tangsel ke Jakarta Pusat? Sementara jemputan yang biasanya saya andalkan sudah tidak beroperasi. Akhirnya, suami saya berbaik hati untuk mengantar dan menjemput kami setiap hari dan melanjutkan perjalanannya ke kantor di Tanjung Priok. Terima kasih, ayah...

***

Hari pertama tak pernah mudah.

Saya menyiapkan perlengkapan Biya (handuk, baju ganti, selimut, diaper, ASIP, botol susu) dan bangun pukul 3.30 WIB untuk pumping, mandi, sholat lalu... membangunkan Biya. Membangunkan bayi pagi-pagi buta selalu membuat saya tak tega. Saya bersihkan badannya, ganti pakaiannya, dan mengangkat dia dalam gendongan menuju mobil.

Pada hari pertama itu, Biya cukup baik, tidak rewel, bahkan dia sudah menemukan teman sebayanya. Tapi, malah saya yang rewel. Rasanya ada separuh jiwa yang hilang. Terbiasa setiap hari memeluknya, kini terpisah oleh jarak dan tanggung jawab. Saya pura-pura baik-baik saja, menerima tamu dengan senyuman, menatap monitor dengan serius, padahal pikiran saya kacau, bahkan diam-diam saya nangis. Tapi, syukurlah, tidak sedrama yang saya bayangkan. I still could handle my feeling.

Hari pertama di daycare :)

Di sela-sela jam istirahat, saya diberi kesempatan untuk mengunjungi Biya dan menyusuinya secara langsung. Di daycare ini, saya punya rumah kedua, di mana saya bertemu wanita-wanita kuat yang begitu tangguh sehingga saya bisa berbagi banyak hal.

Hanya ada satu masalah, Biya kewalahan menyusu dari dot biasa (saya bawakan Pigeon dengan peristaltic nipple) padahal biasanya dia mau. Lalu Ibu guru (pengasuh Biya) mencoba memberikan ASIP dengan dot wide neck (peristaltic plus) dan Biya mau! Biya minumnya banyak, sampai 5 botol per hari. Dan sampai sekarang tidak ada masalah bingung puting yang saya takutkan. Alhamdulillah :)

Hari demi hari berlalu. Kami mulai terbiasa dengan rutinitas yang ada. Saya sudah semangat bekerja (walau dengan rasa bersalah setiap hari) karena ada Biya yang menemani kami dalam perjalanan pagi dan malam. Tidak jarang pula saya mendengar komentar yang mengasihani kami atau menganggap saya ibu yang tega membawa anak setiap hari, apa boleh buat karena keadaan yang memaksa, dan karena saya sayang sekali sama Biya makanya saya bawa-bawa dia... :)))

Di setiap perjalanan menuju dan pulang kantor serta saat meninggalkan dia di daycare, saya selalu menitipkan doa agar Biya selalu dalam penjagaan Allah. Alhamdulillah, Biya tidak pernah sakit selama di daycare. Teman-teman sebaya Biya sehat-sehat dan ibu guru mengasuh dan menstimulus Biya dengan kasih. Padahal ketakutan terbesar saya ya itu, daycare rawan penyakit.

Saya pernah bilang sama suami, "Capek banget ya tiap hari begini". Capek, iya, memang capek banget. Apalagi kami hanya bertiga di rumah tanpa ada yang membantu. Jadi pulang ke rumah masih harus lembur kerja bakti beresin ini-itu. Tapi super, super seneng. Terasa banget perjuangannya menjalani ini semua, malah jadi quality time. Dan, kata suami, suatu saat ini akan jadi cerita manis. Bahwa kami pernah dan bisa melaluinya :)

Sukanya banyak, kalau dukanya? Hihi. Duka tergalau adalah kalau mobil rusak atau suami sedang tidak enak badan. Alhasil kami pesan uber buat mengantar, atau saya izin tidak masuk. Iya, saya pernah izin tidak masuk karena di hari sebelumnya mengalami "super bad day" - berangkat telat, AC mobil mati, kena macet parah, Biya kepanasan, pulang kena macet lagi, duh..... haha.

Belum lagi suami yang sampai rela minta pindah ke lapangan supaya punya jam kerja yang fleksibel supaya bisa nganterin Biya dan saya (dan ternyata ENGGAK, kerjaan tidak berhenti hihihi), yang akhirnya balik lagi kerja ke balik monitor.

Setiap pulang kantor, saya jemput Biya di daycare, nyebrang di jembatan penyeberangan (walau ngeri-ngeri sedap), muter-muter taman kantor, dan kembali ke ruang laktasi menunggu suami jemput. Lalu dia menyusu sambil tertidur.

Menemani Mama di kantor ♡

Ya, ternyata kami bisa melaluinya. Saya pernah memangku Biya buka puasa di pinggir jalan, sholat tarawih di mesjid kantor di saf belakang dengan Biya saya taruh di samping (lalu dikerumuni anak-anak hiks), demi menunda jam pulang agar tidak kena macet. Nekat. Iya, nekat. Dua bulan di daycare, dua bulan pula penuh petualangan.

Namun, sebaik-baiknya di daycare, saya tahu bahwa itu bukanlah ritme yang paling baik untuk Biya. Biya jadi sangat sering terpapar udara luar dan terzalimi jam tidurnya. Saya memang lebih sering ketemu Biya, tapi saya tidak boleh egois. Juga pada suami saya, yang harus tiap hari antar jemput juga menunda pekerjaannya demi kami. Saya tidak boleh egois.

Walau sebaik-baik pengasuh adalah ibunya (galau lagiiiii hiks) dan akhirnya tanggal 22 Juli kemarin adalah hari terakhir Biya di daycare. Sediiiih banget pisah sama ibu guru dan teman-teman. Makasih sudah menjadi teman bertumbuh Biya yaa...



Mama mertua mencarikan pengasuh untuk membantu saya di rumah. Jauh-jauh datang dari Singkawang. Usia Mak (panggilan saya ke dia) lebih tua dari ibu saya. Dan, saya yakin bahwa Mak bisa menjaga Biya dengan baik sejak pandangan pertama.

"Mak, saya selalu sedih kalau harus meninggalkan Biya di rumah"

"Mak janji dunia dan akhirat jaga Biya dengan baik"

Lalu saya luluh dan menyerahkan pengawasan sepenuhnya kepada Allah yang Maha Menjaga.

Terima kasih Nak, sudah berjuang bersama Mama. Doakan ya, semoga Mama punya kesempatan untuk lebih banyak waktu bersama Biya dan ayah, menjadi ibu dan istri yang lebih baik. Aamiiin.

Kita pasti bisa melaluinya... :)

2 comments:

Raisha Nurul Ichsanti said...

Kakaaaaaa,
we're on the same journey ya !
Aku jg alhamdulillah udah dapet bibi untuk jaga Keenan, bismillah aja semoga sayang sama Keenan.

Kadang sedih bgt pas pamitan ke kantor tuh yaa :(

@chabadres said...

Semangaaat supermom... alhamdulillah.

Waah itu sedih yang tak berujung cha... apalagi kalau terpaksa ga bisa pulang on time. Jadi galau dan demotivasi huhu.

Semoga Allah menguatkan kita dan senantiasa memberi jalan terbaik yaa, juga senantiasa dikelilingi orang2 yang sayang sama bayi kita.

Aamiiin :)