February 22, 2017

Ketika Harus Dinas

Yeayyy.

Postingan ini dibuat dengan keadaan hati yang sungguh lapang karena hari-hari yang buat galau itu sudah berlalu.

It was a tough week. And, first time is never easy.

Dan, tibalah masa dimana dinas luar kota tak terhindarkan. Kalau bisa mah nggak usah aja saya yang berangkat, saya di kantor aja terus gitu, tapi bisa nggak bisa kali ini harus bisa...

Jadi, dengan penuh kegalauan, apa saja yang saya persiapkan untuk menghadapi dinas pertama tersebut? Plus, dengan status jadi busui bayi yang masih 11 bulan.

1. Izin Suami
Waktu saya bilang kalau saya harus dinas ke Surabaya, tanggapan suami, "Nggak bisa digantiin orang lain aja?"

Opsi saat itu, saya pergi malam, besok sorenya abis acara langsung balik. Opsi kedua, memboyong Biya dan mak pengasuh ikut berangkat. Dan setelah dipikir-pikir, opsi kedua sangat menguras kantong. Kalau cuma semalam, saya sebaiknya pergi sendiri aja.

"Biya gimana? Biya kan nggak bisa tidur kalau nggak kelonan"

"Tenang, kan ada aku..."

Baiklah. Makasih suamiku... *terharu*

2. Mental
Sebagai ibu-ibu yang baper, saya nggak siap bangeeet rasanya membiarkan si anak bayik tidur semalam tanpa saya. Jadilah saya nangis berihikihik sebelum berangkat, curhat ke mama, merasa bersalah, kayak apa sih yang dicari dalam hidup (ngelantur), dan kata mama... "Kalau ibunya gelisah, bayi juga gelisah. Kita kan berangkat untuk niat yang baik. Ikhlas yaa. Dia akan mengerti..."

Jadi sebelum berangkat, saya puas-puasin deh peluk, jalan-jalan keliling komplek, nyusuin, alhamdulillah berangkat ke bandara nggak drama, walaupun kebayang terus wajah Biya ngeliatin saya masuk dalam taksi.

3. Peralatan Pumping
Saya naik pesawat malam pukul 20.20 WIB. Sampai di bandara langsung sholat dan pumping di nursery room. Btw, saya cuma bawa pompa manual, plastik ASIP, 1 icegel, dan icebag yang biasa saya bawa ke kantor.

Landing, berangkat ke hotel bareng temen, mampir bentar makan rawon kalkulator. Sampai di hotel jam 23 malam, langsung bersih-bersih, pumping lagi. Tiap menit rasanya pingin cek kondisi anak hikssss. Ternyata bayi udah tidur. Berdoa smoga bayi ga rewel...

4. Bawa Baju Bayi
Buat ngobatin kangen saya bawa baju Biya yang belum dicuci, trus saya simpen di samping saya pas tidur. Baru satu malem udah kangeeen, sepiii, kayak ada yang hilang gitu dari diri, enak banget bau bayik hehe. Tapi karena capek, akhirnya saya ketiduran juga.


5. Rajin Cek Kondisi Rumah
Ini pasti ya dilakukan semua ibu. Dari jauh, tetap ngasih arahan ke mak pengasuh buat menu makan Biya hari itu dan sarapan si ayah. Pagi-pagi sebelum acara pumping lagi sambil video call sama bayi huhuhu.

So, how did it end?

Nggak nyangka saya bisa kuat mengendalikan emosi yang mellow karena jauh dari anak. Rasanya saya tambah kuat. Dinas ini benar-benar pelajaran dan tantangan buat saya.

Hari memang terasa berjalan sangat lama. Setelah acara selesai, pumping lagi. Total, saya bawa 500 ml ASI. Dan itu setara dengan yang dihabiskan Biya selama saya pergi. Setelah sholat, ngademin hati makan es krim Zangrandi dulu, beli oleh-oleh, dan menuju bandara. Btw, Surabaya bersiiiih ya. Sepanjang perjalanan pulang saya dipandu dan disajikan banyak cerita sama driver tentang banyak hal menarik di Surabaya :)

Gimana kabar Biya?

Suami nggak ngabarin ke saya kalau Biya nangis lama di malam hari karena minta disusuin langsung. Mungkin khawatir saya cemas. Biya nangis kencang dan minta digendong terus sampai akhirnya tertidur lagi... Duh, sedih bayanginnya.

Sampai di rumah, masih pukul 17.30 sore. Biya masih tidur, saya bisa mandi dulu. Tidak beberapa lama dia bangun. Dan..... dia histeris liat sayaaa seperti marah dan pingin bilang, "Biya kangeeeen Ma".

Langsung saya peluk, dia pun bersandar di saya, tak sabar saya susui dia. Subhanallah, rasanya tak ternilai, Biya menyusu dengan lahap. Saya lega... maaf ya nak membuatmu harus menunggu. Terima kasih nak...

Setelah nyusu dan ketemu saya, Biya bisa tersenyum lebih ceria, tidurnya pulas semalaman. Maunya digendong terus, ditinggal sebentar nangis. Mama happy sekali..... ♡

Mama sayang Biya, Biya sayang Mama. Sangat sayang, sangaaat sayang.

No comments: