September 28, 2016

MPASI Perdana Biya

Huoraaay, saat-saat yang ditunggu tiba.

Beberapa hari sebelum MPASI Biya, saya sudah berdebar-debar lhooo. Bikinin makanan pertama apa ya? Biya suka makan nggak ya? Pakai referensi MPASI yang mana ya? Hehehe.

Sebagai ibu-ibu baru yang masih semangat, maunya masak MPASI sendiri, supaya hemat, sehat, dan memberikan yang terbaik untuk anak :)

Apa saja peralatan MPASI yang saya siapkan? Nggak banyak. Ternyata yang dibutuhkan tidak sebanyak kelihatannya hehe. Kira-kira ini peralatan yang paling saya butuhkan:

1. Home Food Maker
Saya beli merk Puku, karena dengan manfaat yang sama harganya setengah dari merk Pigeon (prinsip ekonomi banget hehe). Yang paling saya butuhkan adalah saringan, penting banget digunakan di awal MPASI untuk membuat puree atau bubur saring.

2. Munchkin Food Grinder
Saya nggak pakai blender atau food processor, karena males beli dan males nyuci hehehe. Food Grinder ini bermanfaat banget untuk menghaluskan makanan dalam porsi mini, mudah dibersihkan , dan nggak perlu listrik, sehingga bisa dibawa-bawa. 

3. Baby Cube
Saya nggak beli baru sih, pakai yang ada aja, produk IKEA murah meriah yang isinya kecil-kecil dan banyak. Pas untuk menyimpan kaldu dan MPASI yang akan didinginkan. 

4. Peralatan makan dan minum
Alhamdulillah, ada yang ngasih hadiah. Walaupun ada banyak variasi, tapi yang saya pakai juga masih itu-itu aja piring dan sendoknya hehehe. 

5. Panci, kukusan, pisau, dan talenan
Semuanya pakai peralatan yang ada dan belum pernah dipakai. Saya masih lebih milih bikin MPASI pakai cara konvensional, alias pakai kompor, hehehe semoga tetap rajin seterusnya.

6. Rak Piring Bayi
Saya pakai sterilizer Panasonic yang dikasih sama teman-teman kantor dan bisa dijadikan rak piring sekaligus. 

7. Kursi Makan Bayi 
Saya pingin Biya disiplin makan sambil duduk, dan ternyata Biya heboh banget kalau duduk di kursinya hehe.

September 24, 2016

ASIP Kejar Setoran

Setelah 6 bulan sejak kelahirannya, si kecil Biya hanya minum cairan kehidupan yang bersumber dari tubuh saya, dan hari ini adalah saat yang monumental, karena Biya berhasil lulus ASI Esklusif. Dulu saya pikir, sertifikat ASI S1/S2/S3 itu berlebihan. Ternyata nggak! Karena memang nggak mudah buat tetap konsisten sampai di fase tersebut :')

Puji syukur kepada Allah yang Maha Memudahkan dan kepada support system yang luar biasa: suami, keluarga besar, atasan, rekan kantor, dan teman-teman seper-pumping-an di ruang laktasi. I feel so emotional. Karena harus sadar diri, dengan ASIP kejar setoran, stok ASIP yang nggak melimpah, dan pengalaman "perah ASI hari ini untuk diminum esok hari" adalah titik dimana saya bisa menaklukkan ketakutan diri sendiri. Semoga bisa menyempurnakan hak ASI untuk Biya, serta setiap tetesnya menjadi berkah, menjadi pengikat rindu, dan menjadi penggugur dosa.

Bagaimana rasanya melihat stok ASIP di freezer kurang dari 10 botol? Wah, lemes.

Hal itu yang mulai terjadi saat Biya berumur hampir 5 bulan, saat konsumsi ASI sedang banyak-banyaknya. Hampir setiap hari defisit ASIP, nggak terasa tuh, ambil 1 atau 2 botol dari freezer, dan yes... nyadar kalau ASIP tinggal belasan dan nggak pernah nabung ASIP lagi. Di kantor 3 x pumping, maksimal hanya dapat 5 botol, di rumah sebelum berangkat bisa dapat 1-2 botol, dan... rata-rata selalu habis. Kalaupun bisa biasanya nabung 1 botol untuk menyiasati Biya yang growth spurt atau saya yang terpaksa pulang telat dari kantor.

Hmmm, gawat, nggak bisa gini-gini aja nih.

Akhirnya, mau nggak mau, frekuensi pumping ditambah, curi-curi waktu jadi pumping 4 x sehari, maksimal bisa dapat 6 botol, tambah frekuensi pumping malam hari, dan maksimalkan pumping di weekend, cuma bisa dapat maksimal 3 botol per hari karena Biya nempel terus kayak bayi koala hehe. Pelan-pelan mulai bisa nabung lagi, tapi kadang masih defisit karena... tanpa diduga Biya pernah minum 8 botol dalam sehari, antara senang dan khawatir hehehe. Wajar sih, karena menjelang MPASI memang Biya cenderung lapaaar dan minumnya tambah banyak, tapi produksi belum digenjot optimal :(

Lalu kenapa bisa sampai mengalami ASIP kejar setoran, yang tadinya freezer atas penuh, jadi tinggal beberapa botol aja?

Jawabannya adalah karena TERLENA dan kalah sama ngantuk. Terutama, waktu Biya masih di daycare, saya cuma sempat pumping 2 x sehari di kantor karena saat istirahat siang selalu jenguk Biya untuk nyusuin langsung, dan saat itu ASIP selalu cukup. Ternyata mengumpulkan ASIP sebanyak-banyaknya dan sedini mungkin itu pentiiing banget (pelajaran berharga buat saya), karena akan ada masanya dimana ASIP defisit dan mau nggak mau ambil stok di freezer, atau saat harus meninggalkan bayi untuk beberapa jam lebih lama, cuma stok ASIP itu yang jadi andalan.

Lalu setelah MPASI, apakah konsumsi ASIP Biya berkurang?

Nggak, hehehe. Saya masih perlu meninggalkan 6 botol kalau pulang tepat waktu, dan artinya... tantangan masih panjang. Tapi, saya percaya bahwa ini adalah bentuk ibadah, dan salah satu bentuk kasih sayang untuk mengubur rasa bersalah yang selalu timbul karena tidak bisa bersama bayi saya sepanjang waktu. Ini yang bisa Mama berikan, nak...

Buat para pejuang ASI, semoga kita selalu bersemangat, tetap sehat, dan tetap bisa menjaga suasana hati agar produksi ASI melimpah. Saling menguatkan ya :)

Jadi, apa pencapaian yang membuat saya senang setiap hari saat ini?

Pulang kantor tepat waktu, bawa ASIP banyak, dan bayi belum tidur saat sampai di rumah. Sudah, itu saja.

:)

August 25, 2016

Galau Level Ibu-ibu

Jadi, apa yang bikin galau setelah menjadi ibu (dan masih tetap bekerja), selain lembur dan meninggalkan anak di rumah dengan penuh drama?

Ditinggal pengasuuuuh.

Iya, setelah Biya tidak di daycare lagi alias sudah dirumahkan, Mak pengasuh yang bersama saya minta pulang. Hahaha. Baru seminggu lho. Saya sampai bertanya-tanya, salah saya apa ya sampai Mak minta pulang? Ternyata Mak sakit asma, dan asmanya kambuh sejak Mak kerja di rumah. Akhirnya, Mak dipulangkan karena beliau juga sudah pingin banget pulang dan satu rumah ikut batuk-batuk.

Artinya... Biya balik ke daycare.

Alhamdulillah Biya masih bisa kembali kesana karena masih terdaftar. Perjuangan dan kerepotan dimulai lagi, hehehe, alias ada adegan bawa bayi pagi-pagi dan berperang dengan macet. Seminggu dua minggu, hmmm nggak oke nih, nggak oke buat kesehatan jiwa karena kita berdua hampir selalu telat, alias telat banget ke kantor.

Mama mertua mencarikan pengasuh lagi, dan tepat di tanggal 17 Agustus, pengasuh yang baru datang. Beliau lebih muda, lebih pandai, dan lebih bisa diandalkan. Alhamdulillah, sejauh ini saya puas banget dengan bantuan Mak di rumah. Semoga Mak betah yaaa.

***

Dan, semoga akan ada waktunya di saat saya nggak perlu bantuan pengasuh lagi, nggak perlu merasakan beban mental harus pisah sama anak setiap bangun tidur di pagi hari. Saya percaya pada skenario Allah. Siapa tahu? :)

Aamiiin yang kenceeeeng.

July 29, 2016

Moodbooster

Di sela-sela jam kantor

Saya: "Mak, Biya sedang apa?"

Mak: "Sedang santai nih, baru bangun tidur"

Saya: "Icha mau ngomong ya Mak sama Biya"

Mak mengarahkan handphone ke dekat Biya, "Nak, ini Mama telpon. Ayo mana suaranya?"

Saya: "Biyaa... Biyaa... lagi apa tuh? Minum susunya banyak ya? Biyaa... Biyaa..."

Mak: "Biya nyariin nih, matanya ke kanan dan ke kiri, Mama mana ya, eh ketawa dia"

Saya: "Biyaa..."

Mak: "Eh ketawa lagi dia, Cha"

Too much happiness at once. My baby, you are my energy.

July 26, 2016

Motherhood #4: Mudik Pertama Biya

1 Juli 2016.

Cihuuuuy waktunya mudik! Kalau diingat lagi, rasanya nggak punya rencana akan mudik di tanggal 1 Juli. Kami memang belum berburu tiket murah sejak jauh-jauh hari, dan benar aja semakin mendekati lebaran harga tiket sudah beranjak hampir mencapai 1x gaji pokok, hiks. Tapiii nggak disangka kami berhasil dapat tiket muraaaah dengan promo BRI (nyebut merk) bersama Garuda yang harganya hanya 500 ribu sajaaaa buat ke Medan di tanggal 1 Juli. Alhamdulillah, rezeki bayik :)))

Sudah 1 tahun lebiiiih ga pulang ke Medan. Super excited! Apalagi kali ini bawa oleh-oleh cucu hehehe. Tanggal 1 Juli saya sudah cuti dan baru sempat packing pagi itu juga haha. Bawa koper, tas travelling bayi, tas ASI, kasur lipat bayi berkelambu, sampai bawa kursi mandi bayi. Supaya nanti nggak kerepotan di rumah Medan hehe.

Suami kerja setengah hari trus izin pulang lebih cepat. Sampai di rumah jam setengah 3 sore, sementara pesawat berangkat jam 5 sore dong. Uber sudah menunggu. 

Alhamdulillah, nggak macet dan jam 4 sore kami tiba di bandara. Langsung check in, dan bawaan tambah banyak karena dapat 3 goody bag dari promo hemat BRI haha. Suami bagian angkat ini itu sementara saya bagian gendong Biya yang lumayan juga bikin lengan berotot hehehe.