February 21, 2013

Patahan #70

"Memangnya Abah suka pempek, Ma?"

"Iya suka kok"

"Bukannya Abah ada maag ya? Ga boleh makan yang asem-asem"

"Katanya, apapun yang dari Icha pasti Abah suka banget"

"..."

So, there will always be some ways to make us feel close each other. I love sending surprising package to mom and dad. And finding out how they love to eat and to receive it is like... heaven.

February 20, 2013

Wonderwall


Bahwa segala sesuatunya mulai terasa menyenangkan. Dan kita telah terbiasa melakukan hal-hal yang dahulu tidak membuat kita terbiasa. Tidakkah membahagiakan saat ada yang mengingatmu setiap pagi lalu menanti sapa di senja hari? Menjadi suara yang kau dengar senyap-senyap sebelum terlelap? Seakan satu dua kata itu seperti suplemen energi yang membakar semangatmu menjadi berapi-api.

Cinta membuat dua orang terlihat jauh lebih menarik, setidaknya di mata masing-masing. Entah apa yang salah pada retina, tapi aku tak ingin kemana-mana. Hatiku cerah sepanjang hari, dan kalaupun mendung sebentar saja, dia kembali berpelangi. Bahkan di dalam mimpi, aku masih bisa merasakan kau hadir entah dari jauh atau dekat sekali.

Tahukah kau bahwa ketergantungan emosional ini membuatku semakin mandiri? Semakin kuat dan lebih baik dari hari ke hari?

Yes, you've been my wonderwall. 

Karena tidakkah membahagiakan saat ada telinga yang dengan baik hati mau mendengar ceritamu dari pagi hingga pagi lagi? Berceloteh hal konyol hingga saling mengagumi.

Bahwa merindukanmu yang tak pernah henti ini semacam berkah yang bisa mengiris berkali-kali. Tapi aku senang, senang sekali.


You are my favorite. Like a curse. But I really don't mind.

Mother's Prayers

So, here the answer is. And I still remember her cry that day. She will always be the happiest person of my happiness.

Terima kasih, Mama. Doamu membawaku kembali ke kampus itu. Aku selalu percaya bahwa ridhomu adalah ridha dari Sang Maha Tahu. Aku selalu percaya bahwa Allah adalah tempat satu-satunya menggantungkan harapan saat banyak hal terasa sulit dan tiada daya. Dan aku selalu percaya bahwa apa yang menurutku baik belum tentu baik untukNya, dan apa yang menurutku buruk belum tentu buruk untukNya.

.
.
.

See you again, Bintaro! :)

February 19, 2013

It Never Stops

How does it feel when you live your life but you don't actually have your own life?

I think one of the way to be relieved and happy is not to listen to everyone's opinions about your choice and your personal life. We all know that trade-off happens and there will be opportunity costs in every choice. You are the one who reach the goals, you are the one who deal with responsibility. Besides, there will always be pros and cons, about whom you are gonna get married with, what job you will take, what field you will study, friends come and leave, and any kind of them. It never stops.

Let Allah guide and bless you always.

And be happy. Embrace your own happiness. Be good, be humble. Then, live in the right track.

Because hater's gonna hate, right? It never stops.

February 18, 2013

Patahan #69

"Rezeki itu tidak akan tertukar, icha. Kita tidak sedang saling menghalangi" - Osel.

Super words from my super best friend when I was afraid to hurt her because I finally decided to take the same test like her. She's one of my best supporters ever. Ever. Irreplaceable

February 7, 2013

Februa-Rise! :D

Again, this is the month that I learn to follow my heart and take a deep breath. I try to lower my level of worry - because keep calm and God will answer your prayers, right? :)

I write a lot these days mostly in self notes and flash fictions about random things (haha I'm not good in making long story). Then, I bought two new books this week: Mempercepat Datangnya Rezeki dengan Ibadah Ringan and Nokturnal. Nokturnal is a collection of short stories written by some authors and published by themselves. One of the author is Aulia. She is one of the persons that I'd like to see this year! We've been three years in STAN but we've never met. She is cute and smart, and we are like having the same genes of melancholy sense. Hoho.

In this month, I also challenge myself to have wedges (just have, LOL). I already ordered 9-cm wedges! (I really can't imagine that I'm gonna be that confident to wear them). Then, I want to keep my prayers in time, make more savings, practice better in English, and get to be more focus in doing my job. Many friends get married this month, woohooo, but it is sad that I can't attend all because the places mostly are quite far. But I promise to send prayers from here.

I am so grateful to have loving mom and dad, beautiful-heart aunt, loyal friends, caring boss, 7-minutes-by-feet-to-office's dorm, and a super-duper-handsome-inspiring boyfriend, hoho! Complete feelings!


So, rise your level of happiness! 

Picture taken from here.

Ibu, Boleh Aku Tambah Lagi?

"Ayo Nak, ditambah lagi dagingnya" seru Ibu sambil menambahkan potongan semur daging andalannya ke piringku. Potongan sebelumnya bahkan masih sebagian tersisa.

"Sudah Bu, aku sudah kenyang"

"Ah, jangan bilang begitu. Kamu kan jarang pulang, jarang makan masakan Ibu"

Bibirku mengerucut. Entah mengapa di meja makan ini aku tak pernah merasa sangat lapar. Belum lagi dengan kebiasaanku yang memegang-megang perut seakan setiap suapan membuat lingkar pinggangku bertambah.

"Aku tidak mau gemuk, Bu"

Ibu diam saja. Mungkin dia bosan mendengar pernyataan yang sama di setiap aku pulang. Padahal aku tahu bahwa Ibu memasak semua makanan kesukaanku ini agar aku senang. Kasihan anak perantau, katanya.

"Nanti Ibu bawakan beberapa potong semur daging ya untuk kamu makan di sana"

"Tidak usah, Bu. Aku khawatir tidak sempat dimakan"

"Ah, kamu. Semua tidak mau". Lalu Ibu mengemas beberapa potong daging ke dalam kotak bekal berwarna merah, mengikatnya dalam plastik, dan meletakkannya di sebelah koperku yang sudah tersusun rapi. Matanya menatap sendu. Perpisahan lagi.

***

Setelah penerbangan selama dua jam, aku tiba di kontrakan sebelum pukul sembilan malam. Perut lapar sangat menyiksa. Aku sengaja melewatkan waktu makan lagi. Aku ingat kotak bekal yang dibawakan Ibu, ada tiga potong besar daging semur di dalamnya. Ah, aromanya nikmat. Aku segera menghangatkannya dan memasak nasi dengan gegabah.

Aku langsung mengunyah potongan daging itu pelan, pelan, pelan, lalu termenung mengutuki jarak yang gemar sekali membuat lupa dan luka. Daging itu lumat di dalam mulut bercampur dengan tangisanku yang tanpa permisi. Aku merasakan itu. Aku merasakan Ibu. Ada tangan Ibu, ada cinta Ibu, ada keringat Ibu, ada air mata Ibu, ada pengorbanan Ibu, ada harapan Ibu.

Ibu, aku sudah rindu lagi.

Ibu, aku lapar sekali.

Ibu, masakanmu enak sekali.

Kenapa baru terasa senikmat ini?

Ibu, boleh aku tambah lagi?

Ibu, tapi kau jauh, aku ingin disuapi.

Boleh Ibu?

Ibu...

Aku menjilati piring di tanganku sampai licin, dan tak ada lagi yang tersisa hingga satu butir nasi pun - digantikan beberapa tetes air mata yang mendarat dengan cepat. Aku spontan menelpon Ibu. Hanya isak yang keluar. Aku tak bisa berkata apa-apa. Ibu pun tak mungkin memelukku dari sana.

Bukankah jarak itu menjadi pengujimu? Di saat dekat dia berbau, di saat jauh dia merindu.

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Ritual

"Ayo mari menyeberang"

Ini sekian kalinya kita bertemu dari dua puluh delapan hari pertama di tahun dua ribu tiga belas. Anehnya, akhir-akhir ini saja aku baru melihatmu. Dan lebih anehnya, kita selalu berangkat di jam yang sama dan menit yang hampir sama. Hampir - kadang aku berjalan beberapa meter di depanmu, lalu aku memperlambat langkahku. Kadang kau sudah berlalu saat aku akan keluar dan mengunci pintu pagar, lalu kau berpura-pura berhenti seakan ada yang salah dengan sepatumu atau langit pagi itu.

Sayangnya kita tak pernah benar-benar saling bicara atau sekedar bertanya namamu siapa? Tinggal di dekat sini juga? Kau selalu berjalan bergerombol dengan tiga orang teman, tapi jujur saja kau yang paling menonjol. Apa karena penciumanku sadar bahwa kau tertarik padaku? Atau aku yang tertarik padamu?

Ini sekian kalinya kita berdampingan menanti lampu hijau lelah berganti merah. Lalu menyusuri jalan yang sama hingga berpisah di pintu masuk berbeda. Kau tersenyum seakan isyarat sampai jumpa setelah mengantarku. Aku pun tersenyum sambil tak bilang apapun setelah itu.

Ritual setiap pagi itu membuatku seperti kecanduan morfin. Ini salah tapi aku tak berdaya. Ini tak ada makna tapi aku menikmatinya. Harusnya dia yang lebih banyak kulihat, bukan kamu. Harusnya dia yang melindungiku, bukan kamu. Mengapa kau mencuri kesempatan yang tak pernah dia ambil itu - dan malah membuatku senang dengan perlakuanmu?

.
.
.

"Sayang, selamat pagi. Hari ini aku senang sekali"

*message sent*

Pesan rutin yang sama. Semoga dia tak pernah bertanya mengapa.

Benih

Akhir-akhir ini, aku terlalu banyak menanam hal dalam pikiran. Baik dan buruk sudah bukan pertimbanganku lagi. Mulai dari bagaimana cara membayar utangku yang membengkak karena tagihan kartu kredit bulanan hingga inflasi nasional yang harus kuhitung secara matematis lalu kutampilkan secara grafis sebagai penentu kebijakan publik. Anggap saja aku analis padahal jika kau bertanya padaku, sungguh aku tak tahu bagaimana rupa gejala ekonomi yang tak pernah henti menghantui pemerintah itu. Percayalah, aku hanya pintar bermain kata-kata. Tepatnya, aku hanya butuh gajiku dibayar tepat waktu. Itu saja.

Apa iya aku terlalu banyak berpikir? Rambut hitam mulai langka di usiaku yang masih terbilang muda. Tepatnya ini warna apa? Buka putih bukan pula jingga. Ah sudahlah, yang penting tugasku malam ini selesai. Mengurus negara bermasalah ini menyulitkan sekali. Padahal hidupku sendiri pun sudah sulit, masa iya aku masih harus menyelamatkan negeri?

Ya Tuhan, apa lagi ini? Persediaan logistik menipis karena spekulasi dan kuota impor dibatasi? Sedangkan produk domestik tak mampu memenuhi kebutuhannya sendiri? Harga-harga melonjak naik tinggi dan lagi-lagi aku harus membohongi negeri bahwa semua baik-baik di bawah kendali? Pendidikan sarjana dan master yang sudah menghabiskan tenaga dan ratusan juta hanya berakhir untuk kepentingan si itu dan si ini? Aku tahu siapa yang bermain di balik semua ini. Ah, menyedihkan. Tapi bayaran kali ini menjanjikan. Ya sudahlah, aku pun harus membeli obat untuk memelihara tubuh yang sudah mulai sakit-sakitan.

Kepala berat sekali. Apa saja yang aku biarkan disantap oleh si otak ini? Susah tidur. Lidah pahit. Kulit kepala gatal-gatal padahal aku keramas setiap hari. Tapi, hei, apa ini? Aku memang jarang bercermin, tapi apa ini? Semacam sulur tanaman muncul dari akar rambut dengan panjang tiga sampai lima sentimeter! Tak mungkin, ini pasti imajinasi karena aku terlalu banyak berpikir.

Aku sakit kepala parah setelah beberapa hari sejak imajinasiku tentang sulur yang mengada-ada. Aku tidak mau ke dokter, tak ada uang. Entah mengapa aku tak pernah bisa punya simpanan, pendapatan habis terus untuk makan dan utang. Padahal dengan pekerjaan elite itu aku tak perlu sengsara. Apa iya ini karena benih jahat yang aku tanam di dalam otakku? Benih dari hasil membodohi negeri? Meninabobokan masyarakat demi alasan keselamatan rakyat? Ouch, Tuhan... sakit sekali! Ah, tapi aku harus tetap bekerja. Banyak sekali data-data yang masih harus aku manipulasi.

Ini terlalu sakit! Aku tak bisa menahan lagi. Setiap aku mencoba mengetik tuts keyboard, sulur itu semakin panjang dan mencambuk wajahku sendiri. Bola mata seakan terlepas. Sakiiit! Aku masih mencoba menggapai laptop di pangkuanku, dan... tak sanggup! Detik ini aku sadar bahwa sulur ini bukan sebatas imaji. Ini nyata. Ini nyata! Sulur itu menguasai tubuhku, akarnya menyengat otak, dan melilit tubuhku sendiri. Aku terhisap! Aku terhisaaaap oleh benih yang kutanam sendiri.

Aku mati.

Dengan jari yang hampir saja menekan digit terakhir pertanda kehancuran negeri.

February 6, 2013

Sidik Jari

Jempol telunjuk jari tengah jari manis kelingking. Tangan kiri dan kanan lalu kembali berulang. Kelingking jari manis jari tengah telunjuk jempol.

"Masih tidak bisa terbaca. Ayo gosok kedua tangannya lalu tekan jarinya lebih keras lagi" ujar sang petugas e-ktp dari kecamatan yang sudah hilang kesabaran masih mencoba menempelkan satu persatu jari ke alat pembaca sidik jari. Peluh keluar dari dahinya. Kondisi ruangan yang tidak diselamatkan dengan penyejuk udara bertambah panas dengan orang-orang yang masih berjejal menunggu antrean.

Tiiiit.

"Akhirnyaaaa Bu!"

Lalu wanita itu pulang ke rumah ditemani suaminya sambil bermuka muram. Dia memencet tombol bertuliskan call dengan dua kali tekan.

"Ah sedih, memalukan"

"Jangan sedih. Alatnya saja itu yang kurang canggih"

"Kulit telapak tangan Mama sudah menipis begini. Sidik jarinya tidak terbaca lagi"

"Jangan terlalu sering terkena sabun dan detergen, Ma. Minyak zaitun dan lotionnya masih rutin dipakai?"

"Ya bagaimana. Rutin kok"

"Tapi lucu juga, kalau misalnya ada kasus dan butuh pemeriksaan barang bukti, eh polisinya bingung karena nggak ada sidik jari yang nempel hehe"

Dia pun tertawa. Sedikit terhibur dan beralih ke topik lain. Entah tentang ajang pencarian bakat di televisi, menu masakan siang ini, atau apa saja yang telah aku kerjakan seharian.

Namun, pikiranku menerawang.

Berapa banyak pakaian yang telah dia cuci selama puluhan tahun? Popok kain bayi perempuan cengeng yang harus diganti beberapa kali sehari? Piyama yang kotor terkena muntahan atau noda akibat lari kesana kemari? Botol susu dan mangkuk bubur beras merah? Seragam sekolah yang menguning dan penggorengan yang menumpuk setiap lebaran?

Tangan yang menyapih. Tangan yang menggandeng ke taman bermain. Tangan yang membimbing menulis, menyeka tangis, dan mengajari bersikap manis. Tangan yang tak bisa diam menggendong dan mengompres di kala sakit. Tangan yang merangkul saat menang dan saat jatuh. Tangan yang melambai tak rela di pintu keberangkatan bandara. Tangan yang berjasa dan dirindukan untuk dikecup sambil berair mata hingga aku percaya bahwa surga tidak hanya ada di telapak kaki ibunda, tetapi juga di telapak tangannya.

Hingga aku percaya, bahwa setiap sel kulit yang terkelupas dari telapak tangan itu akan diganti Allah dengan lipatan pahala dan tangga untuk Mama menuju surga.

February 5, 2013

Saat Aku Menjadi Buta

Dulu, aku ditemukan seorang wanita baik hati saat sedang tertidur kedinginan di dalam sebuah pot kosong tanpa tanaman. Mama meninggalkanku, aku tidak tahu pastinya, maka aku lebih senang jika menggunakan kata tersesat. Aku tersesat dari Mama.

Wanita yang memungutku itu, dia punya bau yang khas, seperti ada unsur beraroma kami yang menjadikannya terkesan ramah dan mengundang kami mau mendekat. Ada beberapa orang yang punya karakteristik semacam ini. Kabar baiknya, dia memang sangat ramah.

Aku dibesarkan di rumah itu, makan tiga kali sehari, dan bebas tidur dimana saja. Aku juga rutin diberi susu, maka jadilah aku sehat dan lincah. Aku suka bermain tapi Ibu tak pernah membolehkanku keluar rumah. Berbahaya, katanya. Ya sudah, aku menurut saja.

Aku menyesal karena pernah tidak mematuhinya. Aku beranjak dewasa dan mulai suka cari pacar keluyuran. Saat itu hujan, dan sebuah mobil melaju kencang ke arahku. Tubuhku yang didominasi corak hitam membuatku tak kelihatan. Terlebih saat itu listrik sedang padam. Aku terpelanting jauh hingga ke seberang jalan. Sakit sekali. Punya tujuh nyawa pun tak ada gunanya jika sesakit ini. Leherku tak bisa digerakkan, sebagian wajahku rusak, mata kananku tak bisa berfungsi, dan kakiku terluka hebat. Tapi aku teringat Ibu, Ibu pasti mencari-cari aku. Ibu akan menolongku. Aku harus pulang.

Instingku yang kuat membawaku kembali menemukan jalan pulang. Aku berteduh di bawah pohon mangga yang sangat rimbun tertanam di halaman sambil menjilati kakiku. Ah, sakit sekali. Aku meringis, meraung-raung. Ibu, tolong aku. Ibu.

Ibu mendengarku. Dia tergopoh-gopoh membawa senter lalu mengangkatku dengan hati-hati ke dalam rumah. Aku menangis terus, sakit sekali, Ibu. Ibu kebingungan, dia mengambil kain lalu mengelap tubuhku yang basah kuyup. Dia menyeka lukaku dan memaksaku menelan cairan yang luar biasa pahitnya. Sepertinya dia menangis. Aku meraung-raung lagi. Ibu, jangan menangis. Aku takut, Ibu. Ini sakit sekali.

Aku berdiam diri di dapur selama tiga hari berturut-turut. Aku tidak enak makan. Kata Ibu, aku sudah bau bangkai. Dia menangis terus seperti berusaha merelakan aku. Dia terus menyeka lukaku dan menyuapi susu. Aku pun tetap terus berusaha hidup dan mengobati diriku sendiri dengan air liurku yang dianugerahi Tuhan ini.

Berangsur-angsur aku sembuh. Aku ingin bilang pada Ibu bahwa aku sudah sembuh. Aku meraung-raung memanggil-manggil dia, Ibu mana Ibu? Saat itu aku tak sadar bahwa bola mataku telah menggelinding jatuh ke luar. Ibu hampir terpeleset menginjak organ yang tidak menjadi milikku lagi itu. Dia terkejut lalu memelukku, menggendongku. Dia merayakan kesembuhanku. Aku sembuh walau dengan leher yang masih miring dan mata yang tak berfungsi sempurna. Ibu tetap menyayangiku walau kini aku menjadi buta.

Kini sudah hampir sepuluh tahun aku tinggal bersamanya. Aku kian menjadi tua, kadang aku suka berbuat semaunya, tapi dia tetap bersabar dengan keberadaanku. Ibu adalah penyelamatku. Melalui tangannya, Tuhan telah menyematkan beberapa nyawaku. Dan kasih sayangnya cukuplah menjadi pengganti mata kananku yang kini telah buta itu.

Ada yang Meleleh di Pipinya

"Mama, ini malam terakhir"

"Jangan bilang begitu, Mama jadi sedih. Seperti tidak akan bertemu lagi saja". Wanita itu memeluk gadis di hadapannya, mengecup pipinya sekali dua kali. Gadis itu dulu pernah berada di rahimnya, di dadanya, di pangkuannya.

"Nanti pijetin ya, Ma"

Dia mengangguk dan tersenyum. Tapi sang gadis langsung terlelap dengan kerudung yang masih melilit kepalanya. Wanita itu berbaring di sebelahnya, melepas tiap jarum yang masih mengait, dan membelai-belai rambut sang gadis dengan tangannya yang kuat. Ada yang meleleh di pipinya.

Lalu dia berdoa dalam sujudnya yang panjang.

Ada yang meleleh di pipinya.

Patahan #68

"Sudah makan malam? Sudah mandi? Sudah sholat?"

"Haha, iya. Sudah"

"Aku menanyakan hal yang sama terus ya?"

"Dan tolong tanyakan terus. Jangan bosan. Sungguh, pertanyaan itu membuatku senang sekali"



Karena jika bukan kamu siapa lagi yang mau rutin dan peduli menanyakan hal itu kepadaku?  :') ❤

Patahan #67

"Mau nelpon kamu tapi yang terdengar malah suara perempuan"

"Haa maksudnya?"

"Perempuan itu bilang gini, 'Jurusan yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar service area. Silakan hubungi beberapa saat lagi'. Ah bikin sedih!"

"Yaelaaah, masa sama operator aja cemburu. Hahaha"

***

Bahkan sama tukang bubur ayam langganan pun aku bisa cemburu. Hahaha!

February 4, 2013

Chasing Pavement

Mungkin ini rasanya, saat doamu dijawab, dan hatimu tiba-tiba menjadi mantap. Lalu kamu tidak takut lagi.
  
Aku termasuk orang yang sulit sekali memantapkan hati, penilaian dari orang-orang dan keraguan seringkali membuat pilihanku dipenuhi rasa bersalah. Dan ini seperti kasus yang langka dimana aku berani jujur pada diri sendiri dan semacam ada bongkahan batu yang lepas dari dada. Rasanya lega sekali.

Aku benar-benar bertanya-tanya bagaimana Allah memberi petunjuk dari sebuah istikharah. Ternyata ini salah satu cara Allah menunjukkan jawabannya. Tiba-tiba ada perasaan yang kuat sekali dari dalam hati dan jalan-jalan yang awalnya kau ragukan terbuka pelan-pelan. Tapi kau tak boleh menunggu saja, kau harus menjalaninya, dan ini seperti tantangan untuk percaya pada ketentuan Allah dengan sepenuhnya. Bahwa sabar itu hadiahnya akan indah sekali. Dan Allah Maha Berkehendak, apa yang tidak mungkin bagiNya? Aku pun selalu percaya bahwa insting orang tua tak pernah meleset. Kekuatan doa mereka yang luar biasa harus di-amin-i dan disyukuri sering-sering selagi bisa.

So I quit. I quit from my last year resolution. I quit from the uncooperative and not supportive systems and environment that I really can't accept more. I quit from being cheated and back-stabbed. I quit from smiling in fake while I hurt myself to satisfy people for any sake of guilt. 

Biarlah yang terjadi menjadi pembelajaran bahwa keputusan yang terburu-buru itu tak baik, bahwa mendengar kata orang tua itu akan menyelamatkanmu, dan tak ada yang sia-sia dari berbuat benar dan bekerja keras.

And I'm sure I'll find a better way. Allah will guide, always.

Anyway, doa istikharah ini indah sekali. I stick it in my cubicle :)
‘Ya Allah, aku beristikharah kepada-Mu dengan ilmu-Mu, aku meminta penilaian-Mu dengan kemampuan-Mu dan aku meminta kepada-Mu dari karunia-Mu yang sangat besar. Sesungguhnya Engkau kuasa sedangkan aku tidak kuasa, Engkau mengetahui sedangkan aku tidak mengetahui, dan Engkau Maha mengetahui perkara-perkara yang ghaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui perkara ini lebih baik bagiku dalam urusan agamaku, kehidupanku, dan kesudahan urusanku -atau urusan dunia dan akhiratku, maka putuskanlah dan mudahkanlah urusan ini untukku, kemudian berkahilah untukku di dalamnya. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa itu buruk bagiku, baik dalam urusan agamaku, kehidupanku maupun kesudahan urusanku -atau urusan dunia dan akhiratku- maka palingkanlah ia dariku dan palingkanlah aku darinya serta putuskanlah yang terbaik untukku di mana pun berada, kemudian ridhailah aku dengannya.’ (HR Bukhari, At-Tirmidzi, An-Nasai dan lainnya)

February 3, 2013

Patahan #66

"Aku nggak suka dan nggak mau lihat Icha kurus!"

Salah satu pernyataan paling indah, mengharukan, dan suram yang sensasinya muncul bersamaan. Oh God why? Hahaha