July 31, 2012

Patahan #58

"Apa yang menguatkanmu?"

"Aku selalu percaya bahwa setiap orang akan mendapat sesuai dengan yang diusahakannya"

:)

- Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya (QS. An Najm, 53:39)

Silent Readers :)

Alhamdulillah, it's been three years and has reached more than 76.000 viewers!

Banyak yang menduga bahwa kisah Mei dan Maret adalah apa yang terjadi pada kehidupan saya. Sebenarnya bukan. Mereka adalah dua orang yang hidup dalam pikiran saya, menari-nari satu sama lain, lalu menggerakkan jari-jari saya untuk menuliskannya.

Jujur saja, mereka membuatku iri. Beginilah, nasib pengkhayal imaji.

Thank you for visiting. It's truly great honor - especially for you all, my silent readers. Without you, I and this blog wouldn't be existed.

Such an Introvert

Gadis itu tidak banyak bicara. Dia penuh dengan rasa bersalah setiap hari. Kepalanya keroncongan dengan gagasan bahwa seharusnya aku tak begini dan begitu. Lalu dia cepat-cepat memijat dahinya bahwa ini akan baik-baik saja. Dia sembunyi di dalam kamarnya, mengambil beberapa buku untuk teman tidur atau menghidupkan laptop lagi untuk menulis dan menari-nari sebentar.

Gadis itu tidak banyak bicara. Dia pergi ke pertemuan itu bukan karena suka tapi karena janji. Lalu dia duduk rapi, mendengar dengan teliti. Baginya, memperhatikan itu jauh lebih penting daripada memberikan komentar semacam interupsi. Lagipula terkadang manusia datang karena dia butuh telinga dan hati, bukan solusi. Manusia kan pintar beradaptasi. Hanya butuh dukungan agar tidak sepi - agar tidak mati.

Gadis itu ternyata banyak bicara. Dia duduk berdampingan lalu bercerita apa saja. Aku tidak terbuka dalam kelompok besar, katanya. Aku lebih suka seperti ini, kelompok kecil yang memiliki arti. Dan membuatku berarti. Lalu, kebahagiaannya melambung sampai ke ubun-ubun.

Gadis itu ternyata banyak bicara. Dia penikmat sendiri tapi sang setia. Banyak sekali yang tinggal dalam lemari angan-anganku, katanya. Kau mau mendengar? Namun, orang itu tidak tertarik. Dia pun membisu. Bahkan lebih bisu dari seharusnya. Semacam sakit.


Gadis itu antara banyak dan tidak banyak bicara. Mungkin, di antaranya saja. Sayangnya, dia penuh dengan rasa bersalah setiap hari.

random pict from google

Pesan dari Kota Orang

Jika ingin merasakan Ramadhan yang hikmat maka merantaulah.

Kau tidak akan disibukkan dengan agenda membeli pakaian baru atau mempersiapkan hari kemenangan dengan semu. Itu tak lagi perlu.

Kau bisa merasakan kehadiran ibu sangat dekat - walau tak terlihat. Mengidamkan hal-hal kecil semacam keriuhan menuju sahur atau teh hangat di senja pekat.

Kau mensyukuri adanya teman - walau hanya satu atau dua - yang tetap berjalan beriringan. Kebaikan hatinya menghadiahkanmu sebongkah kekuatan.

Dan kau merindukan Tuhan - dengan kerinduan yang tak dibuat-buat.

July 24, 2012

Pesan Sang Ramadhan

Cukuplah aku menyapamu dalam sujudku dan berdoa agar kau baik-baik selalu.

Pada hal-hal yang tak terlihat dan hanya mampu kuuntai dalam imaji, percayalah - aku tetap patuh pada janji - bahwa aku tak akan pernah meninggalkanmu. Tak akan pernah dalam batas sejauh Allah meridhoi. Atau selama hati tak kehilangan energi.

Aku yakin dan mengerti - jika pada akhirnya ini demi kebaikanku, terlebih kebaikanmu. Juga belajar untuk menghargai hidupku, menyeka rasa bersalah yang menancap layaknya paku, dan memantaskan diri sebagai wanita yang terus berjalan maju.

Pada hal-hal yang tersimpan dalam relung dan membisiki kalbu setiap petang dan pagi, percayalah - bahwa kau mampu menghadapi dan memperjuangkan itu. Dan aku tetap menyimpan kekagumanku yang melimpah dalam keheningan yang tak dapat tersampaikan, untuk sang penghuni ruang rindu.

Aku yakin dan mengerti - jika Allah memang Maha Pencemburu. Dia sedang mengajariku untuk tidak mencintai secara terlalu agar tidak menjadi jauh atau lalai. Juga agar tak kehilangan, atau agar tak sakit jika memang yang digariskan tidak begitu.

***

Tapi air mata ini masih terus mengalir. 
Ramadhan, bimbing aku menuju ikhlas dan sabar. 
Juga untuk mengobati luka hati dan lupa.
Untuk tidak menanti yang tak perlu.

(:

"Allahumma innii as-aluka hubbaka wahubba mayyuhibbuka wahubba kulli ‘amalin yuqarribunii ila hubbika" (HR Tirmidzi)


Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kecintaan-Mu, dan aku memohon kepadamu kecintaan orang-orang yang mencintai-Mu, dan aku memohon kepada-Mu kecintaan terhadap semua amalan yang mendekatkan diri kepada kecintaan-Mu.

July 20, 2012

Patahan #57

Mengucap alhamdulillah berkali-kali semacam terapi meningkatkan suasana hati. Bahwa Tuhan sedang mengamati, dan tak pernah berhenti memeluk dari jauh. Bahwa Tuhan sedang mengajari, "kamu harus belajar menghadapi itu dan ini". Allah sangat baik, Dia sangat sayang.

Alhamdulillah, Rabb. Alhamdulillah :)

Kontemplasi

Ada fase dimana kau seperti kehilangan diri, entah karena sepi atau tak punya motivasi. Juga diburu rasa menyesal pada beberapa menit yang lalai atau asa yang tak tercapai. Atau mengingat mereka - yang seharusnya bisa berbahagia tapi kau tak punya daya untuk sekedar berupaya.

Titik jenuh adalah kontemplasi.

Kenapa?

Karena kehilangan membuatmu bangkit - lalu kembali mencari.

***
Carilah sebuah batu. Batu apa pun boleh, yang penting nyaman dalam genggamanmu. Batu itu gunanya untuk mengingatkanmu ketika kamu merasa gelisah atau sedih bahwa ada hal-hal baik yang pernah atau pantas kamu syukuri.

:)

Taken from here ~

July 18, 2012

Setidaknya

Jangan bermimpi terlalu tinggi. Nanti kau sakit.

***

"Setidaknya aku sudah melangkahkan kaki menuju kesana - walau hanya satu atau dua. Aku bisa merasakan aromanya sedikit demi sedikit. Semakin dekat, semakin pekat"

"Setidaknya aku sudah pernah memimpikannya - setiap hari. Aku bisa merasakan tangan Tuhan sedang merumuskan keajaiban pada doa yang terpanjat di sela keraguan"


"Setidaknya, jika pada akhirnya hal itu tak pernah kugapai - aku tak akan sakit. Aku sudah berjanji pada diri sendiri bahwa air mata ini jangan dibawa saat aku kalah. Tapi saat aku berubah menjadi serakah atau terlalu mudah menyerah"

Image taken from here

Terbang

Dan di sela-sela, sang pikiran sering terbang kemana-mana.

Terbang ke beberapa menit yang jauh. Memutuskan setelah ini mau menulis apa, membaca apa, ataukah malam ini bisa makan tanpa rasa bersalah?

Dan sang pikiran berpindah-pindah tanpa perlu kenal arah. Sejenak pulang ke rumah, lalu berpaling ke kamu, juga aku - aku di tiga minggu mendatang, apakah akan baik-baik? Atau dua tahun kemudian, apa ada yang terjadi? Apa kamu masih di sisi?

Yang membuat iri, sang pikiran seenaknya berpindah mendahului hari. Yang membuat benci, sang pikiran mencipta ekspektasi. Tapi tak membuatku mati, bertahan untuk melihat destinasi, karena sang pikiran memaksa untuk berambisi.

Seperti berteleport, lalu aku sadar.


Bahwa aku masih duduk di meja kerjaku dengan beberapa pekerjaan menunggu.

Seharusnya tak boleh begitu. Tolonglah pikiran, tetaplah di tempatmu.

Patahan #56

Menurutku, 'galau' dan 'memang demikian seharusnya' sering salah dimengerti. Semacam peyorasi dan ameliorasi.

Sayang sekali.

July 17, 2012

#5 Maret untuk Mei: Bahwa Kau Rindu? Aku pun Begitu

Kau masih saja mengeluh dan berceracau tentang waktu. Aku mengerti bahwa pertemuan kita yang jarang-jarang ini sangat berarti untukmu. Dan terlebih, untukku.

Aku sudah hapal gerak-gerikmu. Kau selalu berdoa sebelum pergi, menutup matamu, menengadahkan tangan, lalu berkomat-kamit yang menurutku itu sangat lucu. "Semoga tidak cepat-cepat pulang. Dan waktu tidak buru-buru berlalu. Rabb, lindungi kami selalu" - itu doamu.

Aku senang melirik diam-diam ke arah spion untuk melihatmu. Atau menatapmu saat kau tak sadar lalu menangkapnya dalam kamera tanpa kau tahu. Entahlah, kau selalu tampak cantik di mataku. Hanya saja kau jarang percaya lalu menutup wajahmu dengan tissue dan berkomentar tentang kekuranganmu ini dan itu. Sungguh, aku bahkan tak pernah memperhatikan hal itu.

 "Sudah harus pulang?"

"Iya, kan sudah malam"

Aku sudah hapal setelah ini kau akan bilang apa.

"Kecewa, waktu berlalu sangat cepat"

"Kan memang harus begitu"

"Aku tidak suka ditinggal"

"Aku tidak pernah pergi dari hatimu bukan? Kita akan segera bertemu kembali. Dan percayalah bahwa pada saatnya nanti, kau dan aku tak perlu seperti ini lagi"

"Bagaimana agar tidak merindukanmu?"

Aku senyum saja - takut melihat pipimu basah. Bahwa kau rindu? Aku pun begitu.


"Sampai jumpa"

And I miss you. Like there's no tomorrow.



image taken from here

Patahan #55

Bahwa benarlah - Dia adalah sebagaimana yang diprasangkakan kepada-Nya. Tak ada keraguan, Allah memang Maha Baik.

Dan keajaiban itu ada.

Menit-menit yang Baik

"Kata yang paling indah di bibir umat manusia adalah kata ‘Ibu’, dan panggilan paling indah adalah ‘Ibuku’. Ini adalah kata penuh harapan dan cinta, kata manis dan baik yang keluar dari kedalaman hati" - Kahlil Gibran.

***

Tanpa diduga sebuah penugasan mengantarkan saya untuk bisa kembali pulang. Dan yang saya yakini adalah ini berkat doa ibu. Doa yang berulang-ulang.

Hanya beberapa jam bisa curi-curi waktu menikmati rumah - sungguh tak apa. Yang penting bisa tidur di sebelah mama, menikmati masakan beliau dan makan di meja yang sama, diantar jemput abah dengan sepeda motornya, bercerita, dan menggoda kucing-kucing yang sudah tumbuh besar tapi masih saja manja.

"Ah rasanya sebentar sekali"

"Bulan depan lebaran insya Allah ketemu lagi"

Abah selalu mengantar sampai depan pintu masuk keberangkatan bandara. Memeluk saya lalu tetap berdiri disana beberapa menit setelahnya.

"Tinggal satu hal lagi tugas seorang ayah yang masih abah emban setelah membesarkan dan membimbingmu, yakni menikahkanmu jika telah tiba waktunya" - masih terngiang kata-katanya. Dan saat mendengar itu saya hanya tertawa. 

Oh, abah.

Sungguh. Sampai kapanpun saya tetap akan jadi gadis kecil abah, abah yang selalu saya banggakan.

Sudah Tiga Tahun

15 Juli 2012.

Sudah tiga tahun taman edelweiss bersemi.

Terima kasih sudah menjadi lahan introspeksi. Juga menjadi gudang memori yang menampung kisah-kisah hidup setiap hari. Dan teman-teman yang berkunjung untuk datang dan pergi - lalu datang kembali.


Semoga tetap bertahan sampai tahun kesekian :)

Patahan #54

"Zakat tubuh adalah puasa, yakni untuk mensucikan darah dan otot dari yang haram dan tidak baik adanya. Demikian pula pada harta, agar hidup berkah dan bersih dari hal-hal yang bukan hak - entah dengan sengaja atau tidak, entah sedikit atau banyak"

*menemukan kalimat ini pada suatu artikel :)

Sisterhood :)

Semacam perasaan yang senang sekali kalau menemukan figure seorang kakak. Terlebih menjadi anak sulung dengan satu orang adik laki-laki dan staf perempuan satu-satunya di subdit. Beberapa bulan yang lalu saya sempat merasa sangat kehilangan saat teman seruangan yang sudah saya anggap seperti kakak dan sahabat harus pindah mengikuti suaminya tinggal di Bontang.

Saya cukup kagum dengan sosoknya. Walaupun hanya berbeda usia satu tahun, tapi dia sudah berani mengambil keputusan-keputusan penting untuk hidupnya. Sudah punya buah hati yang sangat lucu. Dan dia wanita cerdas yang punya banyak visi. Sekali lagi, dia berani. Tegar. Dia memperjuangkan itu.

And finally, her dream came true. She could move.

Tentu saja rasanya ada yang hilang seperti hilangnya teman berbagi tentang apapun - tentang kerja keras, tentang pekerjaan, tentang cita-cita, tentang kekecewaan, atau tentang hubungan. She helped a lot to figure out what i felt and what i doubted. And she was true. Bahwa saya tak perlu begitu.

Semoga Allah merahmati kalian selalu mbak. Berbahagia selalu :)





some memories left :)



Her name is Dwi Latifa Sari. And you can read her story here.

July 5, 2012

Patahan #53

Doa ibu semacam lecutan energi yang lebih perkasa dari kecepatan cahaya.


Menembus langsung ke cakrawala.

#4 Mei untuk Maret: Sesuatu yang Merona di Pipinya

"Hai. Boleh berkenalan denganmu?" tanya Mei di senja itu. Dia tersipu-sipu dengan bahunya yang tegak dan memikul buku-buku.

"Ada apa denganmu?" jawab Maret kaget sambil membetulkan posisi helmnya. Mereka sengaja bertemu selepas kerja. "Ada apa ini, Mei?"

"Ternyata kamu sudah mengenalku" ujar Mei dengan kepala yang digerakkan ke kiri dan ke kanan.

Maret masih bengong.

"Aku mencintaimu, Maret". Mei tersenyum genit lalu berpura-pura meninggalkan Maret yang sudah beberapa menit di situ untuk menjemputnya.

Wajah Maret masih datar.

Satu detik, dua detik. Hingga kalimat Mei tadi terngiang kembali di pikiran.

Lalu muncul sesuatu yang menggelitik, berwarna merah. Merona dan meronta di pipinya.

Maret memarkir sepeda motornya, melepas helmnya, dan mengejar Mei yang sudah beberapa langkah di depannya. Dia dengan spontan memeluk Mei dari belakang.

"Jangan membuatku gila, sayang"


Dan senja pun ikut memerah. Semerah sesuatu yang merona di pipinya.

SMP oh SMP

Tiba-tiba jadi teringat masa SMP. Dari sekian tahun masa sekolah, masa SMP yang paling banyak kisah pedihnya yaelah ahaha. Tapi saya cukup senang karena bisa tumbuh secara normal ahaha. Secara garis besar, masa SMP saya tidak terlalu penuh dengan kenangan kecuali kenangan di hari pertama masuk. Saya ingat benar, di hari pertama sudah jadi bulan-bulanan senior karena penampilan saya cupuuuu sekali - dengan rambut kepang dua, dasi kupu-kupu, dan seragam yang kebesaran dari bahan kain yang kakunya minta ampun sampai harus disetrika nenek saya berkali-kali baru bisa rapi huksss. Pulang dari hari-hari pertama sekolah saya selalu nangis, mengevaluasi diri, halah, daaan saya semakin nangis karena saya ditempatkan di kelas yang paling dekat dengan kantin. Kelas itu mitosnya kelas horror dimana murid-muridnya suka kabur ke kantin waktu jam pelajaran dan gelaaap penuh sarang laba-laba. Huaaa ini kelas atau gudang. Aaaa but life must go on.

Beberapa hari kemudian muncul jerawat pertama di pipi. Sangat jelas. Dan saya jadi bulan-bulanan lagi. Ceritanya, kalau punya jerawat berarti sudah punya pacar atau sudah ada orang yang disukai. Huoooo saya digodain setiap hari. Alhasil, ini pertama kalinya saya menggunakan produk pembersih wajah dan itu pun sample hadiah dari majalah gadis remaja. Ahaha.

Saya punya beberapa sahabat baik tapi pada akhirnya saya merasa diabaikan, halah - karena saya tidak dimasukkan dalam gang. Mungkin saat itu saya cupuuu sekali jadinya dianggap tidak pantas huksss. Tapi ya sudahlah, again life must go on ahaha.

Pelajaran favorit saya waktu SMP adalah Biologi. Salah satu alasannya adalah Pak Tedy - guru Biologi saya sekaligus wali kelas saya di tahun pertama. Beliau cukup membuat saya tidak depresi dengan kondisi kelas. Satu kalimat beliau yang masih saya ingat adalah "Emas di manapun itu akan tetap menjadi emas, jadi bersemangatlah!". Beliau pula yang membimbing saya untuk berani ikut olimpiade Biologi dan ikut kompetisi-kompetisi tingkat SMP lainnya. Again, life must go on right?

Saya tidak punya kisah cinta ahaha kecuali satu atau dua moment yang tidak menyenangkan dan kedua-duanya dengan adik kelas. Moment pertama adalah ketika adik kelas saya mengejar-ngejar saya setiap jam masuk dan pulang sekolah, sampai akhirnya menuliskan nama saya di dinding sekolah. Daaan melihat aksi coret-coretnya ini, dia dimarahin deh sama guru BP. Kapok deh diaaa ahaha. Dan yang kedua, masih, adik kelas saya yang satu lagi memaksa saya untuk bilang saya sayang padanya - atau dia tidak akan berhenti meneror. Yaelah, kali ini, mama saya yang marah ahaha. Gitu aja sih. Saya masih terlalu muda untuk kisah cinta saat itu :p

Selama SMP, saya selalu diantar ke sekolah, dan kalau pulang naik angkot yang bentuknya kayak kaleng. Angkot ini pintunya di bagian belakang, namanya Sudako, dan cara memberhentikannya adalah dengan memencet bel atau menyatukan dua kabel di langit-langitnya sehingga lampu di depan si pak sopir menyala tanda berhenti. Suka deg-degan deh saya kalau duduknya jauh dari bel ahaha ribeeet.

Nah ada cerita waktu saya diantar, saat itu sepeda motor abah sering kambuh alias sering tiba-tiba mogok di jalan. Karena sudah hampir telat, saya memilih melanjutkan perjalanan ke sekolah dengan naik becak motor. Alhasil, tetap telat ahaha dan hukumannya nama saya ditulis di buku hitam dan dihukum membersihkan pekarangan sekolah. Nah, waktu itu saya belum punya handphone, teman-teman sekelas saya lantas menghubungi rumah untuk menanyakan apakah saya tidak masuk atau sakit. Mereka menghubungi handphone abah saya dan nenek saya yang mengangkat. Beliau kaget sampai menjatuhkan handphone tersebut dan antenanya patah. Waktu itu handphone masih pake antena wekeke. Nenek takut saya diculik dan menyuruh mama dan abah untuk melihat keberadaan saya di sekolah. Yaelah, mereka datang waktu saya baru saja selesai dihukum dan masuk kelas. Hahaha.

Moment favorit saya waktu SMP adalah saat saya ikut lomba cerdas cermat dan masuk tivi lokal dan menaaaang ahaha. Selanjutnya ikut lagi lomba cerdas cermat tingkat provinsi dan harus menginap beberapa hari di asrama. Tantangan terberat saya bukan harus ikut lombanya, tapi saya bingung gimana nyisir rambut sayaaa ahaha soalnya selama ini mama yang sanggup nyisir rambut saya yang panjang dan kusut dan keriting pula. Dan di asrama itu, saya terpaksa harus nyobain durian weeeew padahal mualnya ga kuat. Sekarang, salah satu teman sekamar saya itu satu kampus dan satu instansi sama saya.

Dan begitulah secuplik kisah SMP saya. You got them too, right? :p

*tulisan ini penuh dengan kata 'ahaha' -_____-

July 3, 2012

Alibi

Sedang dalam titik yang rapuh sekali. Rasanya ingin berlama-lama di kantor, entah lembur atau hanya duduk di depan monitor, setidaknya tidak merasa sepi. Atau ada yang bisa diajak bicara. Terlalu cepat kembali, terkunci di kotak itu lagi, dan tidur-tiduran di kasur kamar ternyata bukan ide yang baik. Ingin selalu cepat-cepat pagi. Saya butuh menyibukkan otak, saya butuh teman, atau saya butuh udara segar. Ingin sekali bisa berjalan-jalan, menghirup napas dalam-dalam, atau berteriak. Teriak yang kencang sampai puas.

Saya butuh melakukan sesuatu untuk menghibur diri. Selain gagasan untuk pulang ke rumah atau menghubungi kamu terus-terusan. Dan akhirnya pilihan jatuh pada televisi - saya butuh bunyi-bunyian yang menemani saya setiap malam. Ternyata televisi itu kebutuhan.

Semoga tidak lama-lama berada dalam kondisi ini. Anggap saja baru pulih dari sakit sebagai alibi.

Juga belajar untuk mengingat Allah banyak-banyak. Karena hanya dengan mengingat Allah maka hati menjadi tenang ~

July 2, 2012

Terima Kasih

Mulai dari pagi itu di rumah sakit, kamu tak henti mengawasiku dari dekat dan dari jauh. Mengingatkan untuk istirahat dan makan obat juga jangan masuk kantor dulu. Aku tak tahu bagaimana jika kamu tak datang waktu itu. Aku tak tahu.

Hari-hari cukup terasa sepi. Tapi cukup membuatku kuat. Juga tahu, bahwa siapa saja yang memang peduli. Dan menambah syukur bahwa nikmat sehat, nikmat bekerja, dan nikmat makan itu indah sekali. Tak sedikit-sedikit pusing atau tak merasa lapar. Lalu rindu, semacam rindu yang banyak.

Dan akhirnya sudah jadi berpindah kos. Tak terlalu luas memang, tapi cukup membuat tenang. Mulai dari sepagi itu, kamu sudah membantuku lagi. Aku melihatmu bersusah payah dan lelah. Lalu aku melihatmu meninggalkanku. Sedihnya membekas lama. Aku jadi tergantung. Lalu mengharu biru seharian.

Akhir-akhir ini pun banyak menangis. Malam itu tak bisa tidur. Aku menelpon ibu, kamu, ibu lagi, ibu lagi, sampai pulsaku tak tersisa. Masih belum puas. Tidak puas. Aku ingat kalau aku sudah punya kakak. Sore itu dia membuatkanku sup hangat. Aku mengganggunya lagi malam-malam itu dan masuk ke kamarnya. Menangis lagi tanpa tahu apa yang kutangisi. Aku hanya ingin dipeluk lalu tidur di sampingnya. Sampai bisa tertawa. Sampai aku tak sadar bahwa ternyata pagi sudah menjelang.