July 17, 2012

#5 Maret untuk Mei: Bahwa Kau Rindu? Aku pun Begitu

Kau masih saja mengeluh dan berceracau tentang waktu. Aku mengerti bahwa pertemuan kita yang jarang-jarang ini sangat berarti untukmu. Dan terlebih, untukku.

Aku sudah hapal gerak-gerikmu. Kau selalu berdoa sebelum pergi, menutup matamu, menengadahkan tangan, lalu berkomat-kamit yang menurutku itu sangat lucu. "Semoga tidak cepat-cepat pulang. Dan waktu tidak buru-buru berlalu. Rabb, lindungi kami selalu" - itu doamu.

Aku senang melirik diam-diam ke arah spion untuk melihatmu. Atau menatapmu saat kau tak sadar lalu menangkapnya dalam kamera tanpa kau tahu. Entahlah, kau selalu tampak cantik di mataku. Hanya saja kau jarang percaya lalu menutup wajahmu dengan tissue dan berkomentar tentang kekuranganmu ini dan itu. Sungguh, aku bahkan tak pernah memperhatikan hal itu.

 "Sudah harus pulang?"

"Iya, kan sudah malam"

Aku sudah hapal setelah ini kau akan bilang apa.

"Kecewa, waktu berlalu sangat cepat"

"Kan memang harus begitu"

"Aku tidak suka ditinggal"

"Aku tidak pernah pergi dari hatimu bukan? Kita akan segera bertemu kembali. Dan percayalah bahwa pada saatnya nanti, kau dan aku tak perlu seperti ini lagi"

"Bagaimana agar tidak merindukanmu?"

Aku senyum saja - takut melihat pipimu basah. Bahwa kau rindu? Aku pun begitu.


"Sampai jumpa"

And I miss you. Like there's no tomorrow.



image taken from here

2 comments:

Nauval Hafiluddin said...

ah perasaan ini. ah ~

coating thickness murah said...
This comment has been removed by a blog administrator.